Gambar : Mahasiswa Teknik Biomedik ITS menghadirkan Hi-Me!, sebuah cermin pintar yang mengintegrasikan pemeriksaan delapan tanda vital dalam satu sistem.
Surabaya, FT-EIC ITS – Inovasi di bidang teknologi kesehatan kembali lahir dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Tim mahasiswa Departemen Teknik Biomedik ITS mengembangkan Hi-Me!, sebuah cermin cerdas berbasis multisensor dan kecerdasan buatan yang mampu melakukan skrining delapan parameter kesehatan tubuh hanya dalam waktu sekitar tiga menit. Inovasi ini dirancang untuk mempercepat alur pelayanan kesehatan sekaligus meringankan beban tenaga medis pada tahap pemeriksaan awal.
Tim yang menamakan diri Tim Masuk Surga ini terdiri atas mahasiswa angkatan 2022 Departemen Teknik Biomedik, yakni Nehemy Davis Suryanto, Wean Harmiwan Bontong, dan Andi Lisnaini Ramadhani, dengan pendampingan dosen pembimbing Nada Fitrieyatul Hikmah, S.T., M.T. Davis menjelaskan bahwa setiap anggota memiliki peran yang saling melengkapi. “Dalam mengembangkan inovasi Hi-Me!, kami membagi peran, terutamanya dalam pengerjaan hardware mekanik, elektrik, software, serta administrasi dan penulisan seperti laporan akhir dan makalah. Setiap anggota memiliki keterampilannya masing-masing sehingga proses pengerjaan dapat berjalan lebih efektif dan efisien,” ujar Davis.
Gagasan pengembangan Hi-Me! berangkat dari hasil diskusi dan brainstorming bersama dosen pembimbing. Menurut Davis, proses skrining kesehatan konvensional di fasilitas kesehatan umumnya membutuhkan banyak alat berbeda dan waktu yang tidak singkat.
“Kami ingin menghadirkan inovasi yang dapat mengintegrasikan keseluruhan proses skrining kesehatan tahap awal menjadi satu alat yang dapat digunakan secara mandiri oleh pengguna. Harapannya, hal ini dapat membantu meringankan beban tenaga kesehatan dalam pelayanan tahap awal,” jelasnya.
Secara teknis, Hi-Me! bekerja dengan mengintegrasikan berbagai sensor biomedis, pengolahan sinyal, serta kecerdasan buatan. Perangkat ini mampu menangkap sinyal electrocardiogram (ECG) dan photoplethysmogram (PPG) yang kemudian diolah menggunakan algoritma pengolahan sinyal biomedika. Dari proses tersebut diperoleh berbagai parameter kesehatan, seperti denyut jantung, laju pernapasan, dan saturasi oksigen. Selain itu, tim juga mengembangkan model deep learning berbasis CNN-BiLSTM untuk mengestimasi tekanan darah dan kadar gula darah secara non-invasif dari sinyal PPG. Parameter lain, seperti berat badan, tinggi badan, dan suhu tubuh, diperoleh melalui sensor terkait yang terpasang pada perangkat.
Gambar : Visualisasi data kesehatan pada layar Hi-Me! selama proses skrining berlangsung.
Hi-Me! mampu memantau delapan parameter kesehatan, yakni berat badan, tinggi badan, suhu tubuh, denyut jantung, laju pernapasan, saturasi oksigen, kadar gula darah, dan tekanan darah. Davis menuturkan bahwa parameter tersebut dipilih karena dapat menggambarkan kondisi kesehatan seseorang secara menyeluruh serta lazim digunakan dalam skrining awal pelayanan kesehatan di rumah sakit. “Kadar gula darah juga kami masukkan karena meningkatnya prevalensi diabetes dan potensi komplikasi yang ditimbulkannya,” tambahnya.
Untuk memastikan hasil pengukuran tetap relevan secara medis, tim telah melakukan serangkaian pengujian skala laboratorium. Pengukuran dari Hi-Me! dibandingkan dengan alat standar komersial seperti oksimeter, holter monitor, digital sphygmomanometer, dan glucometer. “Pengujian dilakukan pada subjek dengan dasar ethical clearance yang telah kami peroleh. Ke depannya, tentu masih diperlukan pengembangan lanjutan, termasuk uji klinis, agar alat ini dapat beroperasi secara akurat, andal, dan konsisten di lingkungan klinis,” jelas Davis.
Gambar : Proses uji coba prototipe Hi-Me! dalam mendeteksi parameter tanda vital tubuh.
Selama proses pengembangan, tantangan teknis terbesar terletak pada integrasi berbagai sensor dalam satu perangkat. Wean mengungkapkan bahwa setiap sensor memiliki kebutuhan posisi dan kondisi pengukuran yang berbeda. “Penempatan sensor harus benar-benar optimal agar data yang dihasilkan tetap akurat. Selain itu, peningkatan akurasi tiap parameter juga membutuhkan proses kalibrasi dan pengolahan sinyal yang berulang,” ujarnya. Dari sisi nonteknis, tantangan utama muncul pada proses pengujian dan validasi alat yang memerlukan banyak subjek serta pembandingan dengan alat komersial sebagai gold standard, sehingga menuntut waktu dan sumber daya yang tidak sedikit.
Hi-Me! ditujukan untuk masyarakat umum sebagai alat skrining awal kondisi kesehatan, terutama di fasilitas layanan kesehatan seperti puskesmas, klinik, dan rumah sakit. Menurut Wean, perangkat ini paling optimal ditempatkan di ruang tunggu dan terintegrasi dengan sistem pendaftaran pasien. Dengan demikian, pengukuran tanda vital dapat dilakukan bersamaan dengan proses pendaftaran dan hasilnya dapat langsung dimanfaatkan tenaga kesehatan untuk pengambilan keputusan lanjutan. Keunggulan utama Hi-Me! terletak pada kemampuannya mengukur delapan parameter kesehatan menggunakan satu perangkat dalam waktu singkat. Selain itu, pengukuran kadar gula darah dilakukan secara non-invasif sehingga lebih nyaman bagi pengguna. “Mulai dari pendaftaran hingga pemeriksaan tanda vital dapat dilakukan pada satu alat yang sama,” jelas Wean.
Tim merencanakan pengembangan lanjutan dari sisi mekanis, ergonomi, dan fitur. Andi menjelaskan bahwa desain alat akan ditingkatkan dengan sensor dan handle yang adjustable agar dapat mengakomodasi variasi postur tubuh pengguna, penggunaan material rangka yang lebih kokoh, serta desain ergonomis untuk penggunaan dalam posisi duduk. “Kami juga berencana mengembangkan fitur sensor ECG untuk mendeteksi risiko gangguan jantung seperti Premature Ventricular Contraction (PVC) yang sering kali tidak disadari pasien,” ungkapnya.
Terkait kolaborasi, Davis menyebutkan bahwa pengembangan Hi-Me! ke tahap selanjutnya membutuhkan sinergi dengan berbagai pihak. “Tentunya kolaborasi dengan institusi kesehatan maupun industri sangat diperlukan dan dapat dibicarakan lebih lanjut,” ujarnya.
Lebih dari sekadar alat deteksi dini, tim berharap Hi-Me! mampu memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan efisiensi layanan kesehatan.
“Dengan integrasi pendaftaran pasien dan pemeriksaan tanda vital dalam satu perangkat, Hi-Me! diharapkan dapat mempercepat alur pelayanan dan meringankan beban tenaga kesehatan sehingga mereka dapat lebih fokus pada penanganan klinis lanjutan,” tutup Andi.
Surabaya, FT-EIC ITS – Inovasi di bidang teknologi kesehatan kembali lahir dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Tim mahasiswa
Surabaya, FT-EIC ITS – Ketika audit keuangan kerap diasosiasikan dengan angka, regulasi, dan latar belakang akuntansi, sekelompok mahasiswa Institut
Surabaya, FT-EIC ITS – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui Fakultas Teknologi Elektro dan