News

SAFE, Solusi Cerdas Mahasiswa Teknik Biomedik untuk Meningkatkan Keselamatan Lansia

Kam, 05 Feb 2026
11:00 am
Berita Terkini
Share :
Oleh : adminelectics   |

Gambar: Tim pengembang SAFE, dari kiri: M. Faris Akbar, Katherina Agatha Fecilia, Muhammad Adib Syamlan, dan Ahmad Farhat, saat mengikuti babak final GEMASTIK 2025.

Surabaya, FT-EIC ITS – Memasuki fase aging population, Indonesia menghadapi tantangan serius dalam menjaga keselamatan dan kualitas hidup lansia. Menjawab isu tersebut, tim mahasiswa Departemen Teknik Biomedik, Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FT-EIC) ITS, menghadirkan inovasi SAFE (Smart Assistive Fall-detection Equipment), sebuah rompi pintar berbasis Internet of Things (IoT) dan Deep Learning yang dirancang khusus untuk mendeteksi risiko jatuh dan memantau aktivitas lansia secara real-time.

 

Inovasi ini dikembangkan oleh M. Faris Akbar, Katherina Agatha Fecilia, dan Ahmad Farhat, di bawah bimbingan dosen Bapak Muhammad Adib Syamlan, dari Departemen Teknik Biomedik ITS.

 

Menurut Faris, pengembangan SAFE dilatarbelakangi oleh meningkatnya jumlah lansia di Indonesia yang pada tahun 2024 telah mencapai 12 persen dari total populasi. Kondisi ini membawa tantangan besar, terutama karena jatuh menjadi salah satu insiden paling sering dan berisiko fatal bagi lansia, khususnya mereka yang memiliki penyakit kronis.

“Penanganan yang terlambat setelah jatuh dapat meningkatkan risiko komplikasi serius. Sementara itu, pengawasan konvensional oleh keluarga sering terkendala waktu dan tenaga,” jelas Faris.

 

Gambar: Proses pengujian perangkat SAFE kepada lansia untuk mengevaluasi hasil.

SAFE hadir sebagai solusi wearable yang cerdas dan humanis. Secara sederhana, SAFE merupakan rompi pintar yang mengintegrasikan IoT dan kecerdasan buatan dengan tiga fitur utama, yaitu:

  1. Deteksi jatuh (fall detection)
  2. Pengenalan aktivitas harian (Human Activity Recognition)
  3. Kamera pendeteksi rintangan (obstacle detection)

Fokus pada lansia dipilih karena kelompok usia ini rentan mengalami penurunan fungsi fisik dan kognitif. Melalui SAFE, tim berharap dapat mengurangi fear of fall, meningkatkan kemandirian, serta menjaga martabat lansia dalam beraktivitas sehari-hari. Inovasi ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya terkait kehidupan sehat dan lingkungan yang aman serta inklusif.

 

Ahmad Farhat menjelaskan bahwa SAFE bekerja melalui beberapa tahapan. Setelah proses persiapan dan kalibrasi, rompi akan menyesuaikan posisi sensor dengan postur berdiri pengguna. SAFE menggunakan dua sensor gerak yang ditempatkan di dada dan kantong celana, serta terhubung ke server dan web pemantauan.

“Data aktivitas lansia dapat dipantau oleh caregiver atau keluarga melalui website, sekaligus menerima notifikasi darurat melalui Telegram apabila terjadi kondisi berbahaya,” ujar Farhat.

 

Dari sisi teknologi, SAFE mengandalkan Raspberry Pi 5 sebagai pusat pemrosesan, didukung kamera, GPS, buzzer, ESP, serta sistem manajemen daya. Keunggulan utama SAFE terletak pada integrasi perangkat keras dan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan, antara lain:

  • YOLOv11s untuk mendeteksi lebih dari 26 objek rintangan penyebab jatuh
  • CNN dan Bi-LSTM untuk ekstraksi data sensor dan deteksi jatuh
  • Multilayer Perceptron (MLP) untuk klasifikasi aktivitas harian lansia

Pendekatan ini memungkinkan SAFE melakukan pemantauan secara real-time dengan akurasi tinggi.

 

Gambar: Tampilan dashboard monitoring SAFE pada perangkat laptop yang memungkinkan caregiver memantau aktivitas dan kondisi lansia secara real-time.

Perangkat SAFE telah melalui uji coba lapangan di Yayasan Bina Kasih, Surabaya, dengan melibatkan lansia berusia 66–73 tahun serta para caregiver. Selain itu, SAFE juga mendapatkan validasi dari dr. Yudha Haryono, Sp.N(K), dokter spesialis geriatri RSUD Dr. Soetomo.

 

Menurutnya, SAFE merupakan inovasi yang relevan karena mampu mendeteksi dan melaporkan kejadian jatuh secara cepat, sehingga berpotensi mempercepat respons darurat. Dari sisi pengguna, rompi SAFE dinilai nyaman, tidak membatasi gerak, dan menyerupai pakaian biasa, sehingga tidak mengurangi rasa percaya diri lansia.

 

Keberhasilan pengembangan SAFE tidak lepas dari peran lingkungan akademik FT-EIC ITS. Farhat menuturkan bahwa bimbingan dosen, khususnya Bapak Adib, sangat membantu dalam proses troubleshooting dan pengembangan sistem, termasuk saat persiapan kompetisi GEMASTIK.

“Dukungan dosen dan atmosfer riset di FT-EIC ITS sangat berperan dalam mewujudkan inovasi ini hingga siap dikembangkan ke tahap yang lebih luas,” ungkapnya.

 

Ke depan, tim SAFE berencana mengembangkan fitur mode hemat energi, navigasi sederhana, integrasi pemantauan tanda vital, serta perluasan sistem notifikasi langsung ke fasilitas layanan kesehatan. SAFE juga diarahkan untuk mendapatkan sertifikasi dari lembaga kesehatan resmi agar dapat digunakan secara luas oleh masyarakat.

“Harapan kami, SAFE dapat menjadi solusi nyata bagi lansia yang membutuhkan pengawasan jarak jauh dan penanganan cepat, sekaligus terus berkembang agar manfaatnya semakin besar di masa depan,” pungkas Farhat.

Latest News

Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Ada yang bisa kami bantu?
Selamat datang, di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).