News

Menggagas Energi Non-Intermiten dari Antariksa, Tim Space Solar ITS Ukir Prestasi di PIMNAS 38

Sen, 05 Jan 2026
4:02 pm
Berita Terkini
Share :
Oleh : adminelectics   |

Gambar : Tim Space Solar ITS usai meraih Juara 1 Presentasi dan Poster PKM GFT PIMNAS 38 2025.

Surabaya, FT-EIC ITS – Berangkat dari kegelisahan akan keterbatasan energi terbarukan yang masih bersifat intermiten, Tim Space Solar dari Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil mencatatkan prestasi gemilang dengan meraih Juara 1 Presentasi dan Poster PIMNAS 38 Tahun 2025 pada bidang Gagasan Futuristik Tertulis (GFT). Gagasan yang diusung tidak hanya inovatif, tetapi juga melampaui pendekatan konvensional dengan mengangkat pemanfaatan Space Based Solar Power sebagai solusi energi masa depan Indonesia.

Tim Space Solar merupakan tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) GFT yang menggagas pemanfaatan panel surya di luar angkasa menggunakan satelit untuk menyediakan energi baru terbarukan yang bersifat kontinu. Ketua tim, Muhamad Ais Faza Rohmat, menjelaskan bahwa ide ini berangkat dari keinginan menghadirkan sumber energi bersih yang tidak terpengaruh oleh kondisi cuaca maupun waktu. “Kami ingin menjawab tantangan besar energi terbarukan saat ini, yaitu masalah kontinuitas suplai daya,” ujar Faza. Dalam struktur tim, Faza berperan sebagai ketua sekaligus penanggung jawab materi tanya jawab dengan juri. Ia didampingi oleh Syabila Cahya Diani dan Gading Alvaro Sudjarwo sebagai presenter, Fariz Rifqi Naufal Arrafi yang bertanggung jawab pada aspek operator, pengeditan, serta animasi presentasi, serta Muhammad Haidar Syahab yang turut mempersiapkan strategi jawaban untuk sesi diskusi dengan juri. Seluruh proses pengembangan gagasan ini dibimbing oleh Dr. Dimas Fajar Uman Putra, S.T., M.T.

Perjalanan tim hingga mencapai panggung PIMNAS tidak berlangsung instan. Faza menceritakan bahwa tim ini terbentuk melalui mekanisme open recruitment PKM Project PSSL yang terbuka untuk berbagai departemen. Seleksi dilakukan ketat dengan mempertimbangkan portofolio dan kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan tim. “Awalnya komposisi tim cukup dinamis, bahkan sempat ada anggota yang mengundurkan diri setelah proposal lolos pendanaan. Namun, kami berusaha cepat beradaptasi dan mencari pengganti yang tepat,” ungkap Faza. Setelah dinyatakan lolos ke PIMNAS, fokus tim tertuju pada pematangan presentasi dan poster, disertai latihan intensif bersama dosen penalaran untuk mengasah argumentasi, terutama dalam mempertahankan urgensi dan kebermanfaatan gagasan.

Gagasan Space Based Solar Power yang diangkat Tim Space Solar berakar dari latar belakang keilmuan anggotanya yang mayoritas berasal dari Departemen Teknik Elektro ITS, khususnya bidang Sistem Tenaga. Ketertarikan terhadap isu energi bersih mendorong tim menelusuri berbagai teknologi futuristik hingga akhirnya memilih konsep yang juga tengah dikembangkan oleh NASA. “Teknologi ini memiliki potensi kontinuitas suplai energi hingga di atas 97 persen,” jelas Faza. Nilai kebaruan gagasan kemudian diperkuat dengan usulan integrasi sistem tersebut ke dalam smart energy management system di Ibu Kota Nusantara (IKN). Menurut Faza, IKN memiliki proyeksi kebutuhan energi yang sangat besar seiring pengembangannya sebagai kota cerdas, sementara di sisi lain terdapat tuntutan kuat untuk menggunakan energi bersih menuju tahun 2045. Dalam konteks inilah Space Based Solar Power dinilai relevan dan strategis.

Untuk mematangkan konsep, tim menjalani proses penelusuran literatur secara mendalam. Berbagai jurnal ilmiah dan artikel terkait Space Based Solar Power dipelajari untuk memahami potensi sekaligus keterbatasan teknologi tersebut. Faza menyebut bahwa diskusi internal, termasuk brainstorming dengan bantuan teknologi AI, menjadi bagian penting dalam mengidentifikasi celah riset dan menyiapkan jawaban atas potensi kritik. “Kami mencoba mensimulasikan bagaimana jika kelemahan gagasan kami dipertanyakan, lalu menyiapkan argumen yang kuat secara teoritis,” tuturnya.

Meski demikian, tantangan metodologis tetap menjadi hambatan besar. Hingga saat ini, belum ada negara yang benar-benar menerapkan Space Based Solar Power secara penuh. Riset global masih terfragmentasi, dengan NASA berfokus pada efisiensi satelit dan JAXA pada transfer energi nirkabel. Selain itu, belum adanya regulasi khusus yang mengatur teknologi ini di tingkat nasional maupun internasional turut menjadi kekhawatiran tersendiri. 

 

Gambar : Tim Space Solar ITS setelahi sesi presentasi PKM Gagasan Futuristik Tertulis (GFT) PIMNAS 38 2025.

Keunikan dan keberanian gagasan inilah yang akhirnya menjadi pembeda di PIMNAS 38. Menurut Faza, ide Space Based Solar Power tergolong ekstrem dibandingkan gagasan tim lain yang umumnya masih berada pada skala kota atau negara. Pada sesi presentasi, ketenangan tim dalam menjawab pertanyaan kritis juri dinilai menjadi kunci keberhasilan. Hal serupa juga tercermin pada kategori poster, di mana tata letak yang padat namun ringkas, pemilihan warna yang tepat, serta penyajian informasi yang efisien membuat poster Tim Space Solar unggul di antara kompetitor.

Jika suatu saat dapat diterapkan, gagasan ini diyakini membawa dampak signifikan, terutama bagi kawasan IKN dan sekitarnya. Masyarakat berpotensi memperoleh suplai energi bersih yang stabil, sekaligus membuka peluang distribusi listrik ke provinsi lain melalui surplus daya. Lebih jauh, konsep ini dapat berkontribusi pada pengurangan ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil yang terbatas dan berdampak buruk bagi lingkungan.

Tim Space Solar membuka peluang pengembangan gagasan ini ke arah publikasi ilmiah sebagai kelanjutan dari kajian yang telah disusun. Namun, Faza menyampaikan bahwa perwujudan prototipe masih sulit dilakukan karena adanya keterbatasan perizinan serta kebutuhan keahlian khusus di bidang antariksa. Pada akhir penyampaiannya, Faza mengingatkan mahasiswa yang ingin mengikuti PKM GFT untuk terus memperluas wawasan dan memperbanyak literatur. Ia menegaskan bahwa inovasi hanya dapat lahir dari pemahaman yang kuat, sementara gagasan berbasis teknologi masa depan akan selalu diuji dari aspek kelayakan. Oleh karena itu, kemampuan berpikir dengan tenang, menyusun logika secara runtut, serta melakukan diskusi mendalam dalam tim menjadi faktor penentu keberhasilan. Prestasi Tim Space Solar tidak hanya menjadi kebanggaan ITS, tetapi juga menunjukkan bahwa gagasan berani, jika disusun secara sistematis dan didukung dasar teoritis yang kuat, mampu bersaing dan diakui di tingkat nasional.

Latest News

Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Ada yang bisa kami bantu?
Selamat datang, di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).