News

Solusi Stabilitas Energi Surya Antarkan Tim ITS Sabet Dua Penghargaan di NEST UI 2025

Sen, 26 Jan 2026
8:00 am
Berita Terkini
Share :
Oleh : adminelectics   |

Gambar : Tim POWERITS berhasil menorehkan prestasi gemilang pada NEST UI 2025 dengan meraih Juara 1 dan Best Presentation pada kategori Idea Competition.

Surabaya, FT-EIC ITS – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Tim POWERITS berhasil meraih Juara 1 sekaligus Best Presentation pada ajang National Electrical System Tournament (NEST) UI 2025, sebuah kompetisi bergengsi yang mempertemukan gagasan dan inovasi terbaik di bidang ketenagalistrikan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

 

Tim POWERITS terdiri dari tiga mahasiswa Teknik Elektro ITS dengan fokus pada bidang teknik sistem tenaga. I Ketut Rama Adi Widhiarta berperan sebagai ketua tim, didampingi oleh Akmal Zuhdi dan Dionisius Davis sebagai anggota. Rama menjelaskan bahwa pembagian peran dalam tim berjalan kolaboratif dengan penekanan pada penguatan ide, penyusunan paper, serta persiapan presentasi. “Kami bertiga sama-sama dari Teknik Elektro dengan fokus sistem tenaga, jadi diskusi teknis bisa berjalan cukup intens dan saling melengkapi,” ungkap Rama.

 

Keikutsertaan POWERITS dalam NEST UI 2025 berawal dari dorongan lingkungan akademik. Rama menyampaikan bahwa semangat untuk berkompetisi muncul setelah melihat banyak rekan satu jurusan mengikuti ajang serupa. “Awalnya sederhana, kami melihat teman-teman satu jurusan cukup banyak yang ikut lomba ini, sehingga kami juga terpacu untuk mencoba dan menantang diri sendiri,” tutur Rama. Dari motivasi tersebut, lahirlah sebuah ide yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga relevan dengan kebutuhan nyata di masyarakat.

 

Dalam kompetisi ini, POWERITS mengusung paper berjudul “SWARMGRID: Desentralisasi Virtual Inertia Berbasis Algoritma Particle Swarm Optimization untuk Menjamin Stabilitas Energi Surya di Jaringan Listrik Terpencil Indonesia.” Rama menjelaskan bahwa inovasi yang diangkat berfokus pada optimalisasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di daerah terpencil agar sistem tetap stabil. Konsep virtual inertia digunakan untuk memberikan “inersia buatan” pada sistem PLTS, sehingga ketika terjadi gangguan, sistem tidak langsung mengalami penurunan drastis. “Virtual inertia ini membuat sistem seolah-olah memiliki inersia seperti pembangkit konvensional,” jelas Rama. Sementara itu, algoritma Particle Swarm Optimization (PSO) dimanfaatkan untuk membantu pengambilan keputusan terbaik dalam menyeimbangkan daya, sehingga stabilitas sistem dapat terjaga secara optimal.

 

Perjalanan POWERITS menuju kemenangan tidak lepas dari berbagai tantangan. Tahapan lomba yang panjang bertepatan dengan masa ujian tengah semester dan ujian akhir semester menjadi ujian tersendiri dalam manajemen waktu dan tenaga. Rama mengungkapkan bahwa penyusunan full paper dilakukan saat ETS, sementara babak final berlangsung di tengah jadwal EAS. Tantangan lain datang dari sisi mobilitas, karena tim harus menempuh perjalanan darat dari Surabaya ke Depok yang cukup menguras energi. Untuk mengatasinya, tim memilih menyiapkan naskah presentasi dan slide sejak awal. “Kami manfaatkan waktu perjalanan untuk latihan presentasi, meskipun sampai hari-H masih ada revisi pitch deck,” kata Rama.

 

Keberhasilan meraih Juara 1 dan Best Presentation menurut Rama tidak hanya ditentukan oleh kekuatan teknis ide, tetapi juga oleh dampak yang ditawarkan. Ia menilai bahwa solusi yang diusung POWERITS memiliki nilai lebih karena menyasar persoalan listrik di desa-desa terpencil. “Menurut kami, inovasi secanggih apa pun akan sayang jika dampaknya tidak dirasakan langsung oleh masyarakat,” ungkap Rama. Untuk kategori Best Presentation, kesiapan tim dalam menyampaikan materi dan menjawab pertanyaan juri menjadi faktor kunci. Rama menyoroti format sesi tanya jawab yang menantang, di mana seluruh pertanyaan juri diberikan sekaligus sebelum dijawab tanpa umpan balik langsung. “Kami merasa mampu menjawab seluruh pertanyaan dengan tepat dan melihat respon juri yang positif,” ujarnya.

 

Gambar : Tim POWERITS ITS Raih Double Winner di Ajang Nasional NEST UI 2025.

Strategi presentasi juga menjadi perhatian khusus. Rama menjelaskan bahwa tim berupaya menyampaikan ide yang sangat teknis dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Bahkan ketika harus masuk ke aspek teknis mendalam, tim menggunakan perumpamaan yang dekat dengan keseharian. “Walaupun juri semuanya ahli di bidang elektro dan ada yang meneliti virtual inertia, kami tetap memilih pendekatan sederhana,” jelas Rama. Dari sisi visual, slide pitch deck dirancang minimalis, ringkas, dan langsung pada inti pembahasan tanpa banyak teks.

 

Dari kompetisi ini, POWERITS memperoleh banyak pelajaran berharga. Manajemen waktu dan energi menjadi pembelajaran utama, terutama karena harus menyeimbangkan tuntutan akademik dan kompetisi. Selain itu, Rama menegaskan pentingnya penguasaan materi. “Kalau kita benar-benar menguasai apa yang kita bawakan, presentasi dan sesi tanya jawab akan mengalir dengan baik,” katanya.

 

Tim POWERITS memutuskan untuk lebih memusatkan perhatian pada perkuliahan seiring memasuki semester enam, tanpa sepenuhnya menutup peluang untuk mengikuti kompetisi lainnya. Sebagai penutup, Rama menyampaikan pesan bagi mahasiswa yang ingin terjun ke ajang serupa.

“Jangan terlalu takut untuk mendaftar atau mencoba. Fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan, maksimalkan usaha, dan biarkan hasil di luar kendali berjalan apa adanya,” pesan Rama.

Latest News

Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Ada yang bisa kami bantu?
Selamat datang, di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).