Kampus ITS, ITS News — Pesatnya perubahan data, perilaku manusia hingga ancaman siber membuat sistem Artificial Intelligence atau akal imitasi (AI) dituntut untuk tidak lagi statis. Menjawab tantangan tersebut, Guru Besar Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Ir Ary Mazharuddin Shiddiqi SKom MCompSc PhD menggagas kecerdasan buatan adaptif melalui bidang pembelajaran berkelanjutan.
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul Kecerdasan Artifisial Adaptif sebagai Fondasi Sistem Cerdas Masa Depan, Ary menjelaskan bahwa AI perlu terus belajar dari data dan pengalaman baru. Menurutnya, sistem AI yang tidak mampu beradaptasi akan cepat tertinggal oleh perubahan. “AI akan menjadi usang (ketinggalan zaman, red) jika tidak beradaptasi,” terangnya.
Lelaki kelahiran Kediri tahun 1981 ini menuturkan bahwa pembelajaran berkelanjutan mengadopsi kemampuan manusia untuk belajar secara berkelanjutan. Dengan konsep ini, lanjut Guru Besar ke-238 ITS tersebut, AI diharapkan mampu mempelajari ilmu-ilmu baru tanpa melupakan ilmu-ilmu lama.
Namun, Ary menyebutkan, pengembangan pembelajaran berkelanjutan masih menghadapi tantangan lupa bencana. Kondisi ini terjadi ketika model AI mempelajari hal baru, tetapi kehilangan kemampuan untuk mengenali pengetahuan lama. “Model AI bisa memahami hal-hal baru, tetapi melupakan hal-hal lama yang telah dipelajari,” jelas Kepala Departemen Teknik Informatika ITS tersebut.
Dalam pengembangan keilmuannya, Ary memaparkan tentang Adaptive Intelligence Framework for Distributed Systems. Kerangka ini terdiri dari lima tahapan, yakni mengamati, belajar, mengingat, beradaptasi, dan bertindak, agar sistem mampu mengamati data baru, belajar, mengingat, beradaptasi, serta mengambil keputusan.
Melalui kerangka tersebut, Ary menyoroti tiga arah kebaruan keilmuan, yaitu pertahanan siber adaptif, infrastruktur AI adaptif, dan infrastruktur kritis adaptif. Ketiganya mencakup deteksi intrusi, anomali jaringan, pengelolaan klaster AI, hingga strategi penempatan sensor pada infrastruktur kritis. “Saya ingin membuat sistem yang dinamis dapat mendistribusikan beban berdasarkan ketersediaan dan trennya,” paparnya.
Penerapan gagasan tersebut terlihat melalui FusionNet-FR, arsitektur transformator DualNet yang menggabungkan pemodelan frekuensi dan pembelajaran relasional untuk meningkatkan penyiaran dalam jangka waktu yang panjang. Ary juga memaparkan SPARC sebagai strategi penempatan sensor untuk mendeteksi risiko kontaminasi pada jaringan distribusi udara.
Pengembangan tersebut dilengkapi dengan DiLLeMa sebagai kerangka kerja untuk mendistribusikan model besar dan CloudX-Lab sebagai laboratorium hidup untuk infrastruktur adaptif AI. CloudX-Lab mengintegrasikan node GPU, node CPU, dan node edge dalam satu platform dengan dukungan penjadwalan dinamis, penyeimbangan beban, penskalaan otomatis, toleransi kesalahan, dan efisiensi sumber daya.
Dalam konteks kebermanfaatan bagi bangsa, AI adaptif dinilai dapat mendukung ketahanan siber nasional, transformasi digital, kedaulatan teknologi AI, dan pengembangan sumber daya manusia unggul. Ary menilai Indonesia tidak hanya bisa menjadi pengguna AI, tetapi juga perlu mengembangkan teknologi sesuai dengan kebutuhan lokal.
Dari sisi etika, alumnus S1 Teknik Informatika ITS itu menegaskan bahwa AI merupakan alat bantu saja, bukan sebagai pengganti manusia. “AI dapat direferensikan menjadi, namun bukan semata-mata menggantikan kita dalam membangun pengetahuan,” tuturnya mengingatkan.
Menutup penjelasannya, Ary berharap penelitian continual learning dan AI adaptif dapat memberikan dampak nyata bagi ITS dan Indonesia. “Saya berkomitmen untuk fokus pada penelitian pembelajaran berkelanjutan agar dapat memberikan kebermanfaatan yang sebesar-besarnya untuk sivitas akademika ITS pada khususnya dan Indonesia pada umumnya,” tutupnya optimistis.
Lebih lanjut, gagasan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Yakni pada poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta poin ke-17 tentang Kemitraan untuk membahas Tujuan. (HUMAS ITS)
Wartawan: Asyer Yedijah Hoesono
Link: https://www.its.ac.id/news/profesor-its-gagas-ai-adaptif-untuk-masa-depan-yang-dinamis/
Kampus ITS, ITS News — Pesatnya perubahan data, perilaku manusia hingga ancaman siber membuat sistem Artificial Intelligence atau akal
Surabaya – Departemen Teknik Informatika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), kembali menghadirkan inovasi dalam pembelajaran melalui penyelenggaraan Mata Kuliah
Kedutaan Besar AS bekerja sama dengan Departemen Informatika akan menyelenggarakan kuliah tamu “Mengamankan Masa Depan Indonesia melalui Inovasi Keamanan