Potensi bencana tanah longsor di kawasan Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo, menjadi perhatian mahasiswa dan dosen Departemen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Melalui kegiatan Kuliah Lapangan Terpadu yang terintegrasi dengan program pengabdian kepada masyarakat (Abmas), ITS berupaya berkontribusi dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap risiko bencana longsor. Upaya tersebut diwujudkan melalui pemetaan kondisi bawah permukaan menggunakan metode geofisika terpadu serta edukasi kebencanaan yang dikemas dalam program Kelas Inspirasi Kebumian.
Kawasan Telaga Ngebel dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki potensi kerawanan longsor yang perlu mendapat perhatian. Kondisi topografi dengan kemiringan lereng yang curam, dominasi material piroklastik, serta keberadaan struktur sesar menjadi sejumlah faktor geologi yang dapat memengaruhi kestabilan lereng di kawasan tersebut. Kondisi ini mendorong perlunya kajian lebih lanjut untuk mengidentifikasi karakteristik bawah permukaan dan mengenali zona yang berpotensi mengalami longsor. Selain menghasilkan informasi ilmiah, kegiatan ini juga diarahkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.
Foto Bersama Perangkat Kecamatan Ngebel di kantor kecamatan
Sebagai langkah awal, tim Kuliah Lapangan Terpadu dan Abmas Teknik Geofisika ITS melaksanakan pengambilan data geofisika lapangan pada 11–21 Agustus 2026 di sekitar kawasan Telaga Ngebel. Dalam kegiatan ini, berbagai metode geofisika diterapkan, meliputi metode gaya berat, magnetik, geolistrik, seismik, elektromagnetik, hingga Sub Bottom Profile (SBP). Integrasi berbagai metode tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran kondisi bawah permukaan secara lebih komprehensif, sehingga karakteristik geologi dan faktor-faktor yang berkaitan dengan potensi ketidakstabilan lereng dapat dikaji dari berbagai sudut pandang.
Data yang diperoleh dari kegiatan survei selanjutnya akan diolah dan diinterpretasikan sebagai dasar identifikasi zona rawan longsor. Informasi hasil kajian tersebut direncanakan untuk disajikan melalui media papan informasi kebencanaan di lokasi strategis. Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat memperoleh informasi mengenai kawasan yang berpotensi terdampak longsor, sekaligus memahami kondisi dan pembentukan struktur geologi di wilayah Telaga Ngebel.
Mahasiswa Melakukan Pengukuran Magnetorellurik Dalam Kegiatan Kuliah Lapangan Terpadu
Tidak hanya berfokus pada pengumpulan data dan kajian ilmiah, kegiatan ini juga menempatkan edukasi sebagai bagian penting dalam upaya mitigasi bencana. Melalui program Kelas Inspirasi Kebumian, tim Teknik Geofisika ITS menyelenggarakan kegiatan edukasi kebencanaan di SMP Negeri 1 Ngebel pada Jumat (21/8/2026). Dalam kegiatan tersebut, para siswa/i diajak mengenal ilmu kebumian melalui pembelajaran interaktif mengenai konsep dasar geologi, kondisi lingkungan di sekitar Telaga Ngebel, serta faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya tanah longsor.
Para siswa juga diperkenalkan dengan tanda-tanda awal potensi longsor dan tindakan yang perlu dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat. Materi disampaikan dengan pendekatan yang komunikatif agar lebih mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan sehari-hari, khususnya bagi siswa yang tinggal di sekitar kawasan rawan bencana. Melalui edukasi sejak dini, kesadaran terhadap risiko bencana diharapkan dapat tumbuh dan menjadi bagian dari budaya kesiapsiagaan masyarakat.
Pengukuran Gravity Juga Menjadi Kegiatan Kuliah Lapangan Terpadu
Perpaduan antara survei geofisika dan edukasi kebencanaan ini menunjukkan bahwa upaya mitigasi tidak cukup dilakukan hanya melalui kajian teknis, tetapi juga perlu disertai penyampaian informasi yang mudah dipahami oleh masyarakat. Hasil kajian geofisika diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi pendukung bagi pemerintah daerah dalam mempertimbangkan penataan ruang, perencanaan pembangunan infrastruktur, serta penyusunan strategi pengurangan risiko bencana di kawasan Telaga Ngebel.
Melalui kegiatan Kuliah Lapangan Terpadu dan program Abmas ini, Departemen Teknik Geofisika ITS menegaskan komitmennya untuk menghubungkan penerapan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat. Kegiatan ini juga sejalan dengan kerangka kerja global Sendai Framework for Disaster Risk Reduction dalam mendorong pengurangan risiko bencana. Selain itu, kontribusinya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities) serta Tujuan 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim (Climate Action).
Pengukuran GPR di sekitar Telaga Ngebel
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan pemangku kepentingan setempat, kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan survei dan edukasi semata, tetapi turut mendorong terbentuknya masyarakat yang lebih tanggap, tangguh, dan siap menghadapi potensi bencana longsor.
SURABAYA, Teknik Geofisika ITS – Pemetaan batimetri resolusi tinggi memegang peranan krusial dalam survei kelautan modern, mulai dari eksplorasi
Potensi bencana tanah longsor di kawasan Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo, menjadi perhatian mahasiswa dan dosen Departemen Teknik Geofisika Institut
SURABAYA, Teknik Geofisika ITS – Prestasi membanggakan kembali dipersembahkan oleh mahasiswa Departemen Teknik Geofisika, Fakultas Teknik Sipil, Perencanaan, dan