Agenda

WEBINAR #49: TERIMA KASIH GUNUNG API

Mon, 03 Jan 2022
2:40 pm
Agenda
Share :
Oleh : Admin-Teknik Geofisika   |

Inti bumi seperti matahari, tempat berlangsungnya reaksi radiaoaktif dan akan menghasilkan magma panas dan bertekanan tinggi. Perbedaan panas akan memunculkan arus konveksi yang menggerakkan lempeng untuk saling menjauh, saling mendekat, maupun berpapasan. Indonesia ditekan 3 lempeng dari arah selatan, utara dan timur. Konsekuensinya muncul deretan ratusan gunung api membentang dari Sumatra – Jawa – Kepulauan Sunda Kecil – Maluku Utara. Secara global berada di kawasan Cincin Api Pasifik. Catatan fenomenal letusan gunungapi di Indonesia antara lain Gunung Toba yang meletus begitu dahsyat sekitar 74.000 tahun yang lalu, yang mengakibatkan musim dingin selama enam tahun. Erupsi Gunung Samalas di Pulau Lombok tahun 1257, menyebabkan kabut (abu) di dataran Eropa dan memunculkan pandemi. Selanjutnya Gunung Tambora, dikenal karena letusan hebatnya pada 1815 dan menyebabkan satu tahun tanpa musim panas di Eropa, dan letusan Gunung Krakatau pada 1883 dengan tsunaminya.

Erupsi merupakan peristiwa keluarnya magma ke permukaan bumi. Proses tersebut dapat dalam bentuk letusan dan atau aliran lava, bahkan intrusif. Material hasil erupsi gunungapi dapat berbentuk material gas, air dan padatan. Gas gas yang dikeluarkan dari gunung berapi erat kaitannya dengan penambahan gas gas yang ada di atmosfir, bila atmosfir kekurangan uap air maka gunungapi akan keluar uap air, bila atmosfir kekuarangan CO2 maka gunungapi akan keluar gas CO2 dst Material padatan yang keluar dari gunungapi ada yang mengalir (lava) ada yang meledak yang menghasilkan bahan bahan lepas berukuran halus sampai berukuran bongkah bongkah besar. Material akan dijatuhka dan mengumpul di lereng gunungapi membentuk kerucut gunungapi. Nantinya akan disebarkan oleh gravitasi dan atau air mengalir menuju ke sungai sungai di sekitar gunungapi.

Kerucut gunungapi yang tinggi dengan tanah yang subur akan menghasilkan kawasan dengan hutan yang lebat di sekeliling lereng gunungapi sehingga gunungapi yang tinggi ini berfungsi sebagai pengatur siklus air, pengatur air, pengatur angin, pengatur iklim, pengatur ekosistem. Masyarakat zaman dahulu, terutama kepercayaan Hindu juga kental dengan pendewaan terhadap alam. Setiap umat Hindu di manapun selalu menempatkan Gunung di wilayah mereka sebagai tempat suci sebagai tempat bersemayam Dewa Siwa. Kitab Purana menjadi dasar pendewaan Gunung sebagai simbol Lingga yang menjadi tempat Dewa Siwa berada.

ECJ Mohr (1938), ahli pertanian Belanda, mengatakan, Satu-satunya sumber regenerasi buat tanah secara radikal adalah gunung api. Tanpa gunung api, masa depan hanya berarti kemunduran karena kesuburan tanah tergerus hujan. Lebih jauh dijelaskan mengapa daerah gunung api menjadi hunian padat meski dekat dengan bencana. Wilayah tanpa gunung api biasanya berpenduduk sedikit. Bahkan, kalaupun kawasan itu tertutup hutan lebat, kesuburan tanah segera menghilang saat hutan dibuka untuk tujuan pertanian. Salah seorang ilmuwan Belanda J.L. Brandes, menuliskan dalam jurnal berjudul “Een Jayapatra of Acte vanEene Rechterlijke uitspraak van Saka 849”, TBG 32/1889. Disebutkan bahwa sejak abad X (849 Saka +78 = 927 Masehi), Indonesia mempunyai paling tidak ada 10 sain dan peradaban asli, salah satunya IRIGASI pertanian dengan sistem SUBAK.

Erupsi gunungapi sering disebut bencana saat melanda pemukiman manusia. Tetapi erupsi gunungapi sebenarnya adalah proses keseimbangan alamiah yang sudah terjadi dari ratusan juta tahun yang lalu. Erupsi gunungapi adalah bagian dari siklus-siklus alam yang harus terjadi agar Bumi harmoni dan layak dihuni. Webinar kali ini bertujuan memberi pandangan lain akan manfaat gunungapi yang telah memberi kita kehidupan dan penghidupan selama ribuan bahkan jutaan tahun sebelum manusia ada. Juga memberi pengetahuan bagi masyarakat bahwa mereka harus arif dan bijak dalam beradaptasi dengan gunung api. Sebab gunungapi tidak pernah ingkar janji, dalam periode tertentu akan mengeluarkan isinya secara besar besaran.

Kami, Departemen Teknik Geofisika ITS, Prodi Magister Manajemen Bencana UPNVY, FPTPRB dan IAGI menyelenggarakan WEBINAR TERIMA KASIH GUNUNG API pada :

  • Hari/Tanggal : Sabtu/8 Januari 2022
  • Jam : 13.00 – selesai
  • Via ZOOM : bit.ly/3HqVOSV

Dengan megnundang narasumber:

  1.  Eko Teguh Paripurno – Magister Manajemen Bencana UPN “Veteran” Yogyakarta
    “Gunung api penyedia tanah subur dan air kehidupan”
  2. Agus Aris Munandar- Arkeologi UI
    “Makna kultural gunung api”
  3. Awang Harun Satyana – Geologi Independen
    “Gunung Api penyedia sumberdaya”
  4. Heryadi Rachmat – Badan Geologi
    “Geopark Gunungapi”
  5. Andang Bachtiar – Geologi Merdeka
    “Vulkanologi Rindu”

Mari bergabung dan dapatkan e-sertifikatnya !

 

Latest Agenda

  • Guest Lecture oleh Ir. Sucipta, M.Si dari Pusat Riset Teknologi Daur Bahan Bakar Nuklir dan Limbah Radioaktif BRIN - 26 Sep

    Untuk memperkaya perkuliahan, Teknik Geofisika ITS menyelenggarakan kuliah tamu dengan topik : “PEMILIHAN TAPAK PENYIMPANAN LESTARI LIMBAH RADIOAKTIF” yang

    26 Sep 2022
  • WEBINAR “ENERGI ASEAN MASA DEPAN” MENGUNDANG YOLANDA MUSTIKA BOHAL, S.T. DARI ASEAN CENTRE FOR ENERGY - 26 Sep

    Untuk memperkaya perkuliahan, Teknik Geofisika ITS menyelenggarakan kuliah tamu dengan topik : “PLATFORM KEBENCANAAN: INARISK” yang mengundang narasumber: 👤

    21 Sep 2022
  • Kuliah Tamu oleh Dr. Udrekh dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana - 01 Oct

    Untuk memperkaya perkuliahan, Teknik Geofisika ITS menyelenggarakan kuliah tamu dengan topik : “PLATFORM KEBENCANAAN: INARISK” yang mengundang narasumber: 👤

    21 Sep 2022