News

SEKOLAH HARUS AMAN GEMPA

Mon, 03 Aug 2026
1:21 pm
Information
Share :
Oleh : dihein   |

Gempa merupakan fenomena alam yang tidak dapat diprediksi dan tidak bisa dihindari serta tidak bisa dijinakkan sehingga akibat yang ditimbulkan bisa sangat mengagetkan. Gempa masih dianggap given (anugerah), oleh karenanya catatan gempa terbesar yang pernah terjadi harus dijadikan pedoman dalam membuat perencanaan. Penelitian kegempaan di suatu kawasan harus menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan tata ruang dan dijadikan acuan edukasi kepada masyarakat agar sadar dan paham daerahnya rawan gempa. Sejarah mencatat bahwa gempa bumi tidak memberikan peringatan, namun tingkat kesiapan prosedural menentukan nasib penghuni bangunan.

Sebagai contoh gempa Meksiko 1985, lebih dari 10.000 jiwa melayang, termasuk banyak siswa yang terjebak di sekolah mereka. Tragedi yang lebih kelam terjadi pada gempa Sichuan 2008, di mana ribuan siswa tewas akibat gedung sekolah yang &pancaked* (runtuh lapis demi lapis) karena konstruksi yang buruk. Gempa Cianjur tanggal 23 Nopember 2022 jam 17.00 berkekuatan 5,6 magnitudo jumlah korban tercatat hingga 24 November 2022, diperkirakan terdapat 100 anak di bawah umur 15 tahun kehilangan nyawa mereka. Laporan menunjukkan bahwa 2.046 orang terluka, 39 orang hilang, dan 62.882 orang lainnya kehilangan tempat tinggal. Pemerintah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, melaporkan sebanyak 10 guru dan 42 murid wafat akibat gempa bumi yang terjadi pada 21 November 2022. Siswa yang meninggal didominasi murid SD.

Pelajaran tersebut memberi gambaran bahwa kelangsungan hidup di sekolah tidak bergantung pada keberuntungan, melainkan pada penguasaan prosedur dalam hitungan detik. Keputusan yang salah, seperti berlari saat guncangan sering kali menjadi penyebab utama fatalitas dibandingkan runtuhnya bangunan itu sendiri. Memahami bahwa tindakan cepat dapat menyelamatkan nyawa adalah fondasi keselamatan, untuk bertindak efektif, pendidik harus memahami profil risiko spesifik yang ada di lingkungan sekolah. Guru menjadi tokoh utama dalam penyelamatan.

 

Poster Penjelasan Ancaman Kaskade Gempa oleh Dr. Amien Widodo

 

Paling tidak ada 4 hal penyebab kenapa sekolah menjadi lingkungan rentan dan berisiko tinggi, yaitu : (1) Kepadatan Hunian yang Tinggi: Sekolah mengonsentrasikan ratusan hingga ribuan orang dalam satu area. Rasio 30 siswa per kelas menciptakan tantangan logistik besar dalam menjaga ketertiban saat kepanikan massal melanda, (2) Bangunan Prefabrikasi dan Ruang Kelas Portabel: Banyak sekolah menggunakan gedung tambahan portabel yang sering kali tidak tertanam kuat ke fondasi. Struktur ini sangat rentan bergeser, miring, atau terlepas dari tumpuannya saat guncangan hebat, (3) Populasi Rentan: Siswa, terutama usia dini, belum memiliki penilaian risiko (judgment) atau pengalaman untuk membuat keputusan instan. Mereka bergantung sepenuhnya pada instruksi dan ketenangan pemimpin di dalam kelas., dan (4) Bahaya Non-Struktural (Proyektil): Ruang kelas penuh dengan rak buku, peralatan teknologi, dan dekorasi dinding. Tanpa pengamanan, benda-benda ini menjadi proyektil berbahaya yang dapat mencederai siswa sebelum mereka sempat berlindung.

Sosialisasi dan edukasi sekolah aman gempa menjadi prioritas dalam pengurangan risiko bencana. Apalagi gempa berpotensi menimbulkan bahaya berantai (earthquake cascading hazards). Bahaya berantai terjadi ketika suatu bahaya utama memicu serangkaian peristiwa sekunder, menciptakan reaksi berantai bencana yang dampaknya bisa jauh lebih parah daripada peristiwa awalnya. Fenomena ini mencerminkan perubahan mendasar dalam cara kita memandang risiko bencana di dunia yang semakin saling terhubung ini. Berbeda dengan bahaya yang berdiri sendiri, bahaya berantai melibatkan interaksi kompleks di mana satu peristiwa memperparah dampak bahaya berikutnya melalui sistem fisik, sosial, dan infrastruktur yang saling terkait.

Gempa bumi dapat memicu rantai bencana yang saling terhubung melalui konsep yang disebut kaskade gempa (earthquake cascading hazards). Dalam fenomena ini, satu guncangan awal memicu serangkaian bencana susulan di mana dampak bencana berikutnya bisa lebih mematikan daripada gempa itu sendiri.

Rantai bencana paling tidak bisa digolongkan menjadi 3 yaitu:

  1. Kaskade Fisik-Geologi (Alam ke Alam): Ini adalah rantai yang terjadi sepenuhnya di lingkungan alam akibat perubahan kondisi tanah dan batuan. Sebagai contoh, gempa dapat memicu longsoran lereng yang kemudian menyumbat aliran sungai (membentuk bendungan alami). Jika bendungan alami ini jebol, akan terjadi banjir bandang di kawasan hilir yang mengancam jiwa, seperti yang terjadi pada Gempa Wenchuan tahun 2008. Gempa juga bisa memicu perdeseran tanah, tsunami dan likuifaksi seperti yang terjadi di Palu 2018,
  2. Kaskade Infrastruktur & Teknologi (Alam ke Manusia): Guncangan gempa dapat merusak jaringan utilitas yang memicu kegagalan sistemik. Contoh klasiknya adalah pipa gas yang pecah dan kabel listrik putus yang memicu kebakaran hebat seperti yang terjadi Kobe Jepang 1995. Jika pada saat yang sama pipa air bersih hancur, petugas pemadam kebakaran akan kehilangan akses air, sehingga kota bisa terbakar habis. Gempa dan tsunami di Aceh tahun 2004 menghancurkan hamper semua infrastruktur seperti jalan, bandara, saluran air, komunikasi, pencemaran air dsb. sehingga pertolongan menjuj ke lakasi butuh beberapa hari. Contoh ekstrem lainnya adalah gempa yang memicu tsunami, yang kemudian menyebabkan kegagalan sistem pendingin nuklir dan kebocoran radiasi, seperti peristiwa Fukushima tahun 2011, dan
  3. Kaskade Sosio-Ekonomi & Kesehatan (Dampak Jangka Panjang): Dampak ini bisa berkembang selama berminggu-minggu hingga bertahun-tahun. Kerusakan fasilitas sanitasi dan air bersih pascagempa dapat memicu wabah penyakit menular (seperti kolera) seperti yang terjadi di Haiti 2010. Risiko kemudian akan diikuti kelangkaan pangan dan migrasi massal atau krisis pengungsi.

Kaskade itu muncul karena selama ini mitigasi bencana gempa lebih mengarah pada kondisi standar bangunan dan strategi mitigasi dirancang hanya untuk menghadapi satu jenis ancaman utama (jebakan bahaya tunggal), seperti guncangan gempa bumi saja. Pengabaian terhadap kemungkinan terjadinya kaskade gempa, paling tidak karena (1) Kurangnya Perhitungan Kombinasi Bahaya: Strategi mitigasi sering kali tidak memperhitungkan ancaman yang datang secara bersamaan atau berurutan, seperti gempa, likuifaksi dan tsunami yang terjadi bersamaan di Palu, (2) Kegagalan Sistemik: Dalam kaskade infrastruktur, fokus hanya pada ketahanan struktur bangunan (misalnya pipa gas) bisa menjadi sia-sia jika sistem pendukung lainnya, seperti pipa air bersih untuk pemadam kebakaran, ikut hancur secara bersamaan, dan (3) Amplifikasi Risiko: Jebakan ini menyebabkan risiko bencana berlipat ganda karena sistem penanganan darurat sering kali sudah lumpuh oleh bencana pertama (gempa) sebelum sempat menangani bencana berikutnya (seperti tsunami atau kebakaran).

Oleh karena itu, mitigasi yang terjebak pada bahaya tunggal dianggap tidak memadai lagi karena kaskade bencana mencakup interaksi kompleks antara fenomena alam, infrastruktur teknis, dan sistem sosial-ekonomi yang dampaknya bisa jauh lebih destruktif serta bisa berlangsung lama dibandingkan guncangan pertamanya. Waktunya mengembangkan budaya PROAKTIF dalam menghadapi berbagai kejadian. Bersikap proaktif merupakan sikap bagaimana kita menentukan terhadap segala hal yang terjadi di sekitar kita. Bersikap proaktif merupakan cara bagaimana kita mengendalikan hidup kita, bukan malah hidup kita yang mengendalikan sikap kita. Yaitu dengan belajar, menemukan pemecahan, serta solusi yang tepat agar kedepannya tidak terulang kembali atau justru melakukan sesuatu yang lebih berdaya.

Amien Wdodo, 1 Agustus 2026

 

Dr. Amien Widodo, Dosen Teknik Geofisika ITS

 

 

Latest News

  • SEKOLAH HARUS AMAN GEMPA

    Gempa merupakan fenomena alam yang tidak dapat diprediksi dan tidak bisa dihindari serta tidak bisa dijinakkan sehingga akibat yang

    03 Aug 2026
  • Perkuat Jejaring Riset Internasional, Teknik Geofisika ITS Sukses Gelar Rangkaian Program Adjunct Professor 2026 Bersama Prof. P. Martin Mai

    SURABAYA, TG ITS – Departemen Teknik Geofisika (DTG) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) telah sukses melaksanakan rangkaian agenda bergengsi

    17 Jul 2026
  • SPECIAL PUBLIC LECTURE BY PROF P. MARTIN MAI: MENELIK STRATEGI EKSPLORASI GEOTHERMAL GLOBAL

    🌍🌋 Bagaimana perkembangan energi terbarukan di kancah global, khususnya di kawasan

    14 Jul 2026