News

Singapore, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) has strengthened its global standing through a series of strategic engagements in Singapore and Batam, uniting alumni, industry leaders, and international partners to advance its 2021–2045 World Class University vision and foster impactful collaborations in innovation, talent development, and global competitiveness In pursuit of its 2021–2045 […]

Latest News
Akhir-akhir ini mimpi buruk itu selalu datang; ITS menjadi PT-BHP. Saya tak sanggup membayangkannya. ITS di masa yang akan datang mungkin menjadi sebuah perguruan tinggi yang megah dan mentereng. Pundi-pundi emas pun selalu mengalir melalui badan usahanya yang menggurita. Fasilitas di dalamnya pun tak kalah menggiurkan, bagai sebuah cluster hunian nyaman di tepian pantai timur Surabaya. Tapi apa guna itu semua, jika masyarakat di sekitarnya bahkan tak mampu menggapainya?
Dolly, tempat yang cukup familier di tengah masyarakat Surabaya. Belakangan berkembang wacana pusat prostitusi di Surabaya tersebut akan direlokasi ke pinggiran kota. Sementara Keputih, daerah yang sangat dekat dengan kita menjadi satu diantara dua pilihan pemkot Surabaya. Mayoritas menolak, terutama bagi mereka yang hidup dan berkaktivitas di Keputih dan sekitarnya. Haruskah kita bersikap demikian?
Forum Indonesia Bangkit yang digagas oleh pengusaha terkemuka Indonesia merilis wacana "Visi Indonesia 2030". Dalam gagasan tersebut, diproyeksikan bahwa pada tahun tersebut Indonesia akan menjadi negara maju dan sejahtera dengan meraih ranking kelima didunia setelah Tiongkok, India, AS, dan Uni Eropa. Pendapatan rata–rata perkapita kita akan sekitar USD 18.000 dan 30 perusahaan Indonesia akan masuk dalam daftar 500 perusahaan paling top di dunia.
Setelah membolak-balik halaman Kompas hari itu (16/11), saya tertegun sejenak pada sebuah tulisan. Tidak cukup besar. Hanya saja tampaknya persoalan ini akan ramai dibicarakan; Pemerintah Kota Surabaya berencana untuk melakukan relokasi Dolly. Mungkin bukan berita yang special. Tapi yang selanjutnya ditulis adalah Keputih menjadi salah satu dari dua kandidat yang akan dipilih.
Terkejut awalnya ketika saya membaca harian surat kabar Jawa Pos, Sabtu 10 Nopember 2007 kemarin. Pasalnya, pada kolom berita itu ditulis bahwa Bung Tomo, tokoh yang dikenal dengan semboyan rawe-rawe rantas malang-malang tuntas itu hingga kini tidak diakui pemerintah sebagai pahlawan nasional. Padahal beliau sudah berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Bung Tomo adalah penyulut api semangat perjuangan arek-arek Suroboyo...
1...177178179180181...211
Trending

Kampus ITS, Opini — Indonesia patut berbangga dengan statusnya sebagai negara kepulauan. Alih-alih menjadi batasan, selat dan laut bukanlah pemisah antara satu pulau dengan yang lain. Lebih dari itu, dibalik terwujudnya negara kesatuan dengan wilayah laut yang luas ini, ada perjuangan diplomasi yang harus selalu diingat, yaitu Deklarasi Djuanda. Deklarasi Djuanda yang dilaksanakan pada 13 Desember […]

Kampus ITS, Opini – Peristiwa pemberontakan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) yang telah terjadi 56 tahun silam masih terus menjadi topik hangat di tengah masyarakat. Bagaimana tidak, baru 20 tahun setelah masyarakat Indonesia berjuang mati-matian, DN Aidit dan pengikutnya yang tergabung dalam PKI melakukan pemberontakan. Hal ini dilakukan untuk merubah ideologi Bangsa Indonesia, […]

Latest Videos
×