Foto bersama narasumber dan peserta workshop
Kampus ITS, ITS News — Ketergantungan Indonesia terhadap impor garam industri masih menjadi tantangan besar bagi ketahanan nasional. Menjawab persoalan tersebut, Departemen Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperkenalkan transisi teknologi produksi garam dari metode konvensional menuju teknologi filtrasi membran khususnya SWRO dan OARO yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Prof Dr Ing Ir Misri Gozan MTech dari BKK PII memaparkan materi mengenai Teknologi Pembuatan Garam
Gagasan ini dikupas tuntas dalam workshop bertajuk Teknologi Membran, SWRO, dan OARO untuk Produksi Garam dan Mineral Air Laut di Aula Oedjoe Departemen Teknik Kimia ITS, Selasa (15/4). Kegiatan ini menyoroti penggunaan sistem Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) dan Osmotically Assisted Reverse Osmosis (OARO) sebagai solusi modernisasi tambak garam tradisional.
Siti Nurkhamidah ST MS PhD memaparkan materi mengenai Garam Mineral Air Laut
Dosen Departemen Teknik Kimia ITS, Siti Nurkhamidah ST MS PhD menjelaskan bahwa teknologi membran menawarkan presisi yang tidak dimiliki metode evaporasi matahari biasa. Dengan integrasi sistem membran dan kristalisasi termal, efisiensi produksi dapat meningkat drastis.
Drs Ook Juwana MT dari PT Moya Indonesia memaparkan materi mengenai Operational & Maintenance OARO
Lebih lanjut, workshop ini menekankan penerapan sistem Zero Liquid Waste (ZLW) dalam ekosistem industri sirkular biru. Dalam sistem ini, seluruh komponen air laut diolah menjadi produk komersial sehingga tidak ada limbah cair yang mencemari laut. Sisa olahan air laut atau bittern tidak lagi dibuang, melainkan diekstraksi menjadi mineral berharga seperti Magnesium dan Kalium.
Dr Ir Susianto DEA memaparkan materi mengenai Teknologi Membran
Sejalan dengan hal tersebut, Dr Ir Susianto DEA yang juga pakar dari ITS menambahkan bahwa pemahaman mendalam mengenai pemeliharaan membran, seperti pencegahan fouling, menjadi kunci keberlanjutan teknologi ini. Strategi transformasi ini diharapkan dapat menciptakan kemandirian garam nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petambak garam lokal melalui produk bernilai tambah tinggi.
Agung Widjanjaya ST dari PT Global Mandira Semesta memaparkan materi mengenai Komersialisasi Membran dan Operasional & Maintenance SWRO
Inovasi yang diusung ITS ini secara langsung mendukung pencapaian SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Melalui modernisasi proses produksi ke sistem hybrid membrane. Selain itu, penerapan paradigma ZLW juga selaras dengan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Pengolahan limbah menjadi mineral berharga memastikan penggunaan sumber daya laut dilakukan secara efisien dan meminimalkan dampak kerusakan lingkungan akibat penambangan mineral darat.
Sebagian peserta workshop
Workshop yang dihadiri oleh perwakilan PT Garam, akademisi, dan masyarakat umum ini juga menghadirkan narasumber ahli lainnya. Di antaranya Prof Dr Ing Ir Misri Gozan MTech dari BKK PII, Drs Ook Juwana MT dari PT Moya Indonesia, serta Agung Widjanjaya ST dari PT Global Mandira Semesta. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mempercepat komersialisasi teknologi membran di Indonesia. (ITS News)
Reporter: Mar’atus Sholekhah SSi
Redaktur: Dr Yeni Rachmawati ST MT
Foto bersama narasumber dan peserta workshop Kampus ITS, ITS News — Ketergantungan Indonesia terhadap impor garam industri masih menjadi
Departemen Teknik Kimia, ITS News – Pada tanggal 26 April 2026 telah dilaksanakan SC HYSYS yang bertema “SimulAction: Advanced
Kampus ITS, Surabaya — Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem (FT-IRS) Institut Teknologi Sepuluh Nopember kembali