
Gambar : Tim Srawung usai meraih Juara 3 ExplorAItion Batch 5 lewat inovasi AI untuk manajemen proyek.
Surabaya, FTEIC ITS – Inovasi mahasiswa ITS kembali menorehkan prestasi di bidang teknologi. Kali ini, Tim Srawung berhasil meraih Juara 3 dalam ajang ExplorAItion Batch 5 yang diselenggarakan oleh Garuda Spark by Komdigi berkolaborasi dengan Jagoan Hosting. Kompetisi ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk menghadirkan solusi digital inovatif berbasis teknologi terkini.
Tim Srawung terdiri atas tiga mahasiswa dari Departemen Teknik Informatika ITS, yakni Berliana Sarlita Rahajeng dari Program Studi Rekayasa Kecerdasan Artifisial sebagai Hustler, Muhammad Fatih Al Fawwaz dari Program Studi Rekayasa Kecerdasan Artifisial sebagai Hacker, serta Vityaz Ali Firdaus dari Program Studi Teknik Informatika sebagai Hipster.
“Tim kami terbentuk dari latar belakang yang sama, sebagai mahasiswa Departemen Teknik Informatika yang gemar mencoba berbagai kompetisi. Ketika ada kesempatan mengikuti ExplorAItion Batch 5, kami memanfaatkannya sebagai wadah untuk mengembangkan solusi berbasis AI yang dapat menjawab permasalahan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Berliana Sarlita Rahajeng.
Dalam kompetisi tersebut, Tim Srawung mengangkat ide berupa platform berbasis kecerdasan artifisial bernama Srawung. Platform ini dirancang untuk membantu pengguna membentuk tim proyek sekaligus menyusun perencanaan awal proyek secara otomatis.
“Dalam keseharian sebagai mahasiswa, kami sering menemui kendala di tahap awal suatu project, seperti menentukan peran, membagi tugas, hingga menyamakan pemahaman tim. Dari pengalaman itu, kami melihat adanya masalah yang cukup umum dan relevan untuk diselesaikan,” jelas Muhammad Fatih Al Fawwaz.
Melalui Srawung, pengguna dapat memperoleh pembagian peran tim, penyusunan tugas, hingga penentuan milestone secara lebih terstruktur. Dengan demikian, proses dari sebuah ide menuju tahap eksekusi dapat berjalan lebih cepat dan efisien. Permasalahan utama yang ingin diselesaikan oleh tim ini adalah kesulitan banyak individu maupun organisasi dalam memulai proyek. Tidak sedikit pihak yang memiliki ide besar, tetapi mengalami hambatan dalam menentukan struktur tim, membagi tugas secara adil, dan menempatkan anggota sesuai kompetensinya.
“Hal ini sering kali menimbulkan miskomunikasi sejak awal yang berdampak pada jalannya proyek. Kami memilih isu ini karena sifatnya sangat umum, berdampak besar terhadap keberhasilan proyek, dan belum banyak solusi yang secara spesifik berfokus pada tahap awal tersebut,” terang Vityaz Ali Firdaus.
Keunggulan utama Srawung terletak pada kemampuannya mengotomatisasi proses awal proyek secara menyeluruh. Platform ini tidak hanya membantu menyusun rencana kerja, tetapi juga melakukan pemetaan kemampuan anggota tim melalui AI assessment sehingga pembagian tugas menjadi lebih objektif.
Selain itu, Srawung hadir sebagai jembatan antara platform pencarian talenta dan tools project management yang selama ini masih terpisah. Pendekatan tersebut membuat proses yang sebelumnya memakan waktu lama dapat dilakukan secara lebih praktis. Dalam proses pengembangannya, tim memulai dengan mengidentifikasi masalah dari pengalaman pribadi. Setelah itu, mereka melakukan validasi ide melalui diskusi dan studi terhadap solusi yang telah ada, kemudian merancang alur pengguna sebelum masuk ke tahap pembuatan prototipe.
“Kami membangun fitur utama seperti AI untuk generate project plan dan sistem assessment untuk memetakan keahlian anggota. Setelah fitur inti berjalan, kami melakukan integrasi hasilnya ke tools project management dan melakukan penyempurnaan agar siap dipresentasikan,” tutur Muhammad Fatih Al Fawwaz.
Dalam pengembangannya, Tim Srawung melihat potensi implementasi yang luas bagi platform ini. Srawung dinilai dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa, startup, hingga perusahaan yang membutuhkan pembentukan tim dan pengelolaan proyek secara cepat dan efektif. Setelah kompetisi berakhir, tim juga memperoleh kesempatan dari penyelenggara untuk mendapatkan fasilitasi pengembangan website Srawung ke tahap berikutnya. Saat ini, mereka masih melakukan diskusi internal terkait arah pengembangan produk ke depan.
“Kami ingin memastikan bahwa langkah pengembangan yang diambil tidak hanya meningkatkan aspek teknis, tetapi juga tetap relevan dengan kebutuhan pengguna, sehingga Srawung dapat berkembang menjadi produk yang benar-benar siap digunakan,” kata Vityaz Ali Firdaus.

Gambar : Tim Srawung saat mempresentasikan inovasi AI pada sesi pitching ExplorAItion Batch 5.
Bagi mahasiswa lain yang ingin mengikuti kompetisi serupa, Tim Srawung berpesan agar memulai dari masalah nyata yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, kemampuan membuat prototipe dengan cepat, membangun tim yang solid, dan keterampilan pitching menjadi faktor penting dalam sebuah kompetisi. Prestasi ini menjadi bukti bahwa kolaborasi, kreativitas, dan keberanian menjawab persoalan nyata mampu melahirkan inovasi yang kompetitif. Tim Srawung pun berharap karya mereka tidak berhenti sebagai proyek lomba, melainkan berkembang menjadi solusi yang memberi dampak luas bagi masyarakat.