Bedah Buku, Risma Soroti Pentingnya Ruang Hijau Perkotaan

Published on
By
(dari kiri) Prof Ir Joni Hermana MScES PhD, Dr (HC) Ir Tri Rismaharini MT, dan Danar Guruh Pratomo ST MT PhD saat berbincang dalam acara Bedah Buku
(dari kiri) Prof Ir Joni Hermana MScES PhD, Dr (HC) Ir Tri Rismaharini MT, dan Danar Guruh Pratomo ST MT PhD saat berbincang dalam acara Bedah Buku

Kampus ITS, ITS News Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar Bedah Buku Kota Hijau dalam Dimensi Inovasi dan Manusia karya Dr (HC) Ir Tri Rismaharini MT. Bertempat di CCWS Perpustakaan ITS, kegiatan ini berupaya untuk mengajak khalayak dalam memahami pembangunan lingkungan sebagai solusi berbagai persoalan masyarakat, Senin (8/6).

Dalam buku terbitan ITS Press tersebut, Menteri Sosial Republik Indonesia periode 2020-2024 Dr (HC) Ir Tri Rismaharini MT mengisahkan pengalamannya saat menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya. Ketika itu, sosok yang akrab disapa Risma ini mengaku mengamati berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat sekaligus berupaya mencari akar permasalahannya lewat berbagai referensi.

Dr (HC) Ir Tri Rismaharini MT saat mengisahkan pengalamannya ketika menulis buku Kota Hijau dalam Dimensi Inovasi dan Manusia
Dr (HC) Ir Tri Rismaharini MT saat mengisahkan pengalamannya ketika menulis buku Kota Hijau dalam Dimensi Inovasi dan Manusia

Berdasarkan temuannya, Risma menyimpulkan bahwa kondisi perkotaan yang panas dan minim ruang terbuka hijau (RTH) turut memengaruhi kenyamanan masyarakat. Pemahaman tersebut diperolehnya setelah mempelajari berbagai referensi, mulai dari literatur psikologi hingga kajian mengenai kota hijau. “Dari situ saya meyakini pembangunan RTH tidak sebatas memperindah kota, tapi juga menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman bagi warga,” jelasnya. 

Konsep tersebut kemudian direalisasikan lewat pembangunan puluhan taman di berbagai wilayah Surabaya. Salah satu yang paling terkenal adalah Taman Bungkul yang berhasil memperoleh pengakuan internasional sebagai taman terbaik di dunia. Menurut Risma, keberadaan RTH di berbagai sudut Kota Surabaya tersebut diharapkan dapat menjadi ruang interaksi publik sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan. 

Selain pengembangan taman kota, buku setebal 95 halaman ini juga menjadi media Risma dalam mengulas program Urban Farming (UF) sebagai salah satu strategi pengentasan kemiskinan. Risma berpendapat bahwa upaya mengentas kemiskinan dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yakni mengurangi pengeluaran rumah tangga dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Alumnus S1 Arsitektur ITS tersebut menjelaskan, program UF dijalankannya dengan membagikan bibit tanaman kepada warga di berbagai kawasan permukiman dan gang di perkotaan. Hasilnya, berbagai jenis sayuran dapat dipanen untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus berpotensi memberi pendapatan tambahan bagi masyarakat. “Saat itu, hampir tiap minggu kami memfasilitasi kelurahan untuk menyuplai sayuran di beberapa hotel dan restoran,” kenangnya. 

 Prof Ir Joni Hermana MScES PhD saat memberikan tanggapan dan membedah buku Kota Hijau dalam Dimensi Inovasi dan Manusia karya Dr (HC) Ir Tri Rismaharini MT
Prof Ir Joni Hermana MScES PhD saat memberikan tanggapan dan membedah buku Kota Hijau dalam Dimensi Inovasi dan Manusia karya Dr (HC) Ir Tri Rismaharini MT

Menanggapi hal tersebut, pembedah buku sekaligus Penasehat Teknis Wilayah Surabaya Bidang Sanitasi dan Lingkungan Prof Ir Joni Hermana MScES PhD menilai bahwa buku tersebut menunjukkan pendekatan pembangunan yang berorientasi pada manusia. Menurutnya, keberhasilan pembangunan kota tidak ditentukan oleh banyaknya infrastruktur yang dibangun, tetapi dinilai dari dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. 

Lebih lanjut, Rektor ITS periode 2015–2019 tersebut menegaskan bahwa ruang terbuka hijau bukan sebatas berfungsi sebagai elemen estetika kota. Kehadirannya juga berperan dalam membentuk lingkungan yang lebih nyaman sehingga dapat memberikan dampak positif terhadap kondisi sosial masyarakat. “Ruang terbuka hijau bukan hanya menghadirkan keindahan kota, tetapi juga memengaruhi kualitas hidup masyarakat,” jelasnya.

Melalui kegiatan bedah buku ini, peserta diajak memahami bahwa pembangunan kota yang berkelanjutan memerlukan sinergi antara inovasi lingkungan dan pembangunan sosial. Kegiatan ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3 dan ke-11 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan. (*)

 

Reporter: Mifda Khoirotul Azma
Redaktur: Mohammad Febryan Khamim

×