ITS News

Sabtu, 11 Juli 2020
04 Juni 2020, 19:06

Sekolah Bambu, Wujud Kontribusi ITS Membangun Kembali Lombok

Oleh : itstri | | Source : ITS Online
Sekolah-Bambu-Wujud-Kontribusi-ITS-Membangun-Kembali-Lombok

Proses pengerjaan sekolah bambu oleh tim dibantu dengan warga setempat

Kampus ITS, ITS News – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) belum lama ini telah kembali menunjukan kepeduliannya terhadap masyarakat korban gempa bumi 2018 silam di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB). Bersama Universitat Stuttgart, Universitas Nahdlatul Ulama, tim Aurbamboo, serta Eff Studio, Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik ITS kali ini fokus dalam proyek pembangunan sekolah bambu di Desa Rempek.

KKN Tematik yang telah dimulai oleh tim pertamanya pada 10 Februari lalu, kemudian disambung kembali dengan menerjunkan tim keduanya. Kurang lebih selama dua minggu, terhitung sejak 23 Februari lalu, tim kedua yang terdiri dari Trisia Mega Putri, Nafiah Salsabila, Martanti Aji Pangestu, serta Malai Saidatul Abidah melanjutkan proyek sekolah bambu ini dengan tahap pembangunan konstruksi utama.

Dengan berbekal hasil survei dari tim pertama terkait penyesuaian kontur tanah, Trisia menjelaskan bahwa desain dan struktur sekolah bambu yang dirancang oleh Eff Studio bersama Universitat Stuttgart ini memiliki bentuk heksagonal dengan tiga high-trusses serta tiga low-trusses bambu yang disusun secara selang-seling. “Dan dalam periode ini, kami bertanggung jawab atas pengerjaan rangka bangunan dan atapnya,” tutur mahasiswa Departemen Arsitektur ITS tersebut.

Desain-sekolah-bambu-rancangan-Eff-Studio-Bali-dan-University-of-Stuttgart

Desain sekolah bambu rancangan Eff Studio, Bali dan University of Stuttgart (source: akun instagram @bamboo__school)

Sementara itu, mahasiswa lain contohnya yang berasal dari Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, melakukan uji kebisingan terhadap lokasi sekolah yang berada di tepi jalan raya. Sehingga direncanakanlah penanaman tanaman sebagai pagar peredam suara kendaraan. Dan tak ketinggalan, dilakukan pula penanaman bambu di sisi-sisi yang berdekatan dengan jurang demi faktor keamanan.

Di sisi lain, Malai menjelaskan bahwa ia hadir bersama bidang ilmunya untuk membantu menentukan skala lebih detail dari maket desain yang telah dibuat. “Hingga nantinya dapat ditentukan panjang bambu yang akan dipotong dan dirangkai menjadi kerangka bangunan,” jelas mahasiswa Departemen Teknik Geomatika ITS tersebut.

Maket-rancangan-sekolah-bambu

Maket rancangan sekolah bambu (source: akun instagram @aur.bamboo)

Terlepas dari keberagaman disiplin ilmu yang ada, seluruh anggota tim senantiasa bergotong royong saling bahu-membahu dalam mengerjakan tugas mulia ini. Ditambah lagi dengan mahasiswa dua kampus lainnya, lantas pekerjaan pun dibagi menjadi dua agar lebih efisien. Salah satu kelompok ditugaskan untuk membuat rangka dan mengawetkan bambu, sedangkan yang lainnya bertugas untuk membangun pondasi dan memasang rangka.

Usai pengerjaan oleh tim kedua, hadir tim terakhir yang beranggotakan Faris Salman Ely, Rizky Olda Putri Salsabilla, Devi Novita Sari, Nuha Aulia Rahman, serta Dio Astya Firmansyah. “Kloter terakhir ini bertugas untuk mengerjakan tahapan finalisasi yang meliputi pengerjaan dinding dan atap bangunan,” terang Dio, mahasiswa Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota ITS.

Dua-mahasiswi-ITS-yang-sedang-mengerjakan-salah-satu-tahapan-pengolahan-bambu.

Dua mahasiswi ITS yang sedang mengerjakan salah satu tahapan pengolahan bambu.

Pada periode ini, ungkap Dio, proyek sekolah bambu semestinya sudah dapat diresmikan. Namun karena ada beberapa kendala yang salah satunya yakni cuaca, maka pengerjaannya pun tidak dapat dirampungkan tepat pada waktunya.”Dan proses pengerjaan kemudian dilanjutkan oleh tim Aurbamboo selama kurang lebih lima hari setelahnya, karena mahasiswa dari ketiga kampus sudah dijadwalkan untuk pulang,” bebernya.

Aurbamboo yang merupakan komunitas pengrajin bambu lokal dari Sembalun Lawang, Lombok Timur, sejatinya menjadi penerima kontrak proyek sekolah bambu dari Universitat Stuttgart ini. Sehingga mereka pun bertugas membimbing masyarakat setempat dan mahasiswa agar dapat mengetahui manfaat bambu khususnya sebagai salah satu bahan bangunan.

Dio dan rekan-rekan yang bertugas dalam KKN Tematik ini berharap dapat terus berkomunikasi dengan warga Desa Rempek, supaya pemeliharaan sekolah bambu dapat selalu terjaga dengan berkoordinasi apabila menemui masalah. “Kami pun mendapatkan pelajaran untuk bekerja sama menghasilkan kolaborasi terbaik dalam melaksanakan tugas bersama dengan orang-orang baru dari latar belakang yang berbeda,” pungkasnya. (tri/yok)

Berita Terkait