Belajar di luar negeri telah menjadi salah satu mimpi saya sejak menjadi mahasiswa baru di Departemen Manajemen Bisnis ITS. Bagi saya, program pertukaran pelajar bukan sekadar kesempatan untuk menempuh perkuliahan di negara lain, tetapi juga ruang untuk melihat bagaimana negara maju membangun sistem pendidikan, industri, dan masyarakatnya. Ketertarikan saya terhadap isu sustainability serta reputasi Finlandia sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia akhirnya membawa saya mengikuti program Erasmus+ Student Exchange di Haaga-Helia University of Applied Sciences, Finlandia, selama lima bulan, mulai Januari hingga Mei.
Sebelum berangkat, saya memiliki banyak ekspektasi sekaligus kekhawatiran. Saya penasaran bagaimana konsep keberlanjutan benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada sektor hospitality dan tourism yang menjadi fokus pembelajaran saya. Di sisi lain, saya juga sempat khawatir apakah mampu beradaptasi dengan bahasa, budaya, dan kehidupan baru tanpa memiliki teman di sana. Kekhawatiran tersebut perlahan menghilang ketika saya mulai bertemu mahasiswa dari berbagai negara yang sangat terbuka untuk saling mengenal dan belajar bersama.
Salah satu pengalaman yang paling membekas justru terjadi pada hari-hari pertama saya di Finlandia. Saya tiba pada musim dingin, ketika matahari baru terbit sekitar pukul 09.30 pagi. Sementara itu, perkuliahan sudah dimulai sejak pukul 08.00. Rasanya unik sekaligus tidak biasa berangkat kuliah ketika langit masih gelap, seolah menjalani aktivitas sejak dini hari. Pengalaman sederhana ini menjadi pengingat bahwa tinggal di negara lain berarti belajar beradaptasi dengan ritme kehidupan yang sama sekali berbeda.
Sebagai university of applied sciences, Haaga-Helia memiliki pendekatan pembelajaran yang sangat dekat dengan dunia industri. Banyak dosen merupakan praktisi yang aktif bekerja di bidangnya sehingga setiap diskusi selalu dipenuhi contoh kasus nyata dan perspektif profesional. Proses belajar tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga menantang mahasiswa untuk menyelesaikan persoalan yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini.
Salah satu proyek yang paling berkesan adalah merancang sustainable travel package untuk destinasi Norway Fjords. Proyek ini mengajarkan bahwa keberlanjutan dalam pariwisata bukan hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi juga mempertimbangkan keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan pelestarian budaya. Selain itu, saya juga berkesempatan belajar langsung di Suomenlinna, situs warisan dunia UNESCO di Finlandia. Mengamati bagaimana kawasan bersejarah tersebut dikelola memberikan gambaran nyata mengenai pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku industri dalam menjaga warisan budaya agar tetap lestari.
Di luar ruang kelas, kehidupan di Finlandia menghadirkan pengalaman yang tidak kalah menarik. Saya tinggal di student housing bersama mahasiswa internasional sehingga setiap hari menjadi kesempatan untuk mengenal budaya baru. Salah satu makanan favorit saya adalah salmon soup, hidangan sederhana yang sangat cocok dinikmati saat musim dingin. Sistem transportasi publik juga menjadi salah satu hal yang paling mengesankan. Seluruh moda transportasi terintegrasi dengan sangat baik sehingga mobilitas menjadi mudah, nyaman, dan tepat waktu.
Hal lain yang menarik perhatian saya adalah karakter masyarakat Finlandia yang sangat menghargai ruang pribadi. Saat mengantre bus, misalnya, setiap orang cenderung menjaga jarak tanpa perlu diingatkan. Awalnya kebiasaan ini terasa berbeda dibandingkan kehidupan di Indonesia yang lebih akrab dan ekspresif. Namun, seiring waktu saya memahami bahwa setiap budaya memiliki cara masing-masing dalam menunjukkan rasa hormat kepada orang lain.
Program ini juga membuka kesempatan untuk membangun jejaring internasional. Saya bertemu banyak teman, terutama dari berbagai negara di Uni Eropa, yang membawa sudut pandang berbeda dalam setiap diskusi. Bertukar cerita mengenai budaya, pendidikan, hingga tantangan di negara masing-masing membuat saya semakin memahami pentingnya kemampuan berkolaborasi dalam lingkungan yang multikultural.
Di antara berbagai pengalaman tersebut, ada dua momen yang paling saya ingat. Yang pertama adalah menghadiri festival budaya Thailand yang diselenggarakan oleh komunitas internasional. Acara tersebut menunjukkan bagaimana keberagaman budaya dapat menjadi ruang untuk saling belajar dan menghargai satu sama lain. Momen kedua terjadi secara tidak terduga ketika saya melihat aurora melintas di langit dekat tempat tinggal saya. Sebagai negara yang berada di kawasan utara, Finlandia memberikan kesempatan langka untuk menyaksikan fenomena alam tersebut secara langsung. Pengalaman itu menjadi salah satu kenangan yang akan selalu saya ingat.
Tantangan terbesar selama mengikuti program ini adalah beradaptasi dengan cuaca. Berasal dari Surabaya yang memiliki suhu lebih dari 30 derajat Celsius, saya harus menyesuaikan diri dengan musim dingin yang mencapai sekitar -25 derajat Celsius. Aktivitas sederhana seperti berjalan menuju kampus memerlukan persiapan yang jauh berbeda dibandingkan di Indonesia. Meski demikian, pengalaman tersebut mengajarkan saya pentingnya kemampuan beradaptasi dan tetap produktif di lingkungan yang benar-benar baru.
Selama menjalani pertukaran pelajar, saya juga menyadari bahwa bekal yang saya peroleh di Departemen Manajemen Bisnis ITS sangat membantu proses adaptasi. Kehadiran banyak mahasiswa internasional di MB ITS sebelumnya telah memberikan kesempatan bagi saya untuk berinteraksi dengan berbagai budaya. Pengalaman tersebut membuat saya lebih percaya diri ketika harus belajar dan bekerja sama dengan mahasiswa dari berbagai negara.
Sekembalinya ke Indonesia, saya membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman akademik. Saya memperoleh perspektif baru mengenai bagaimana prinsip sustainability diterapkan secara nyata dalam sektor hospitality dan tourism, mulai dari perencanaan destinasi hingga pengelolaan warisan budaya. Selain itu, saya juga mendapatkan inspirasi dari ekosistem inovasi di kawasan Nordik, termasuk kesempatan bertemu dengan para founder dan pelaku industri yang menunjukkan bagaimana inovasi dapat tumbuh dari kolaborasi, keberanian bereksperimen, dan dukungan ekosistem yang kuat.
Bagi saya, Erasmus+ bukan hanya perjalanan akademik selama lima bulan, tetapi pengalaman yang memperluas cara pandang terhadap dunia. Program ini mengajarkan bahwa belajar tidak selalu terjadi di dalam kelas. Terkadang, pelajaran terbesar justru datang dari keberanian keluar dari zona nyaman, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan membuka diri terhadap perspektif yang berbeda. Saya berharap semakin banyak mahasiswa Departemen Manajemen Bisnis ITS berani mengambil kesempatan serupa, karena pengalaman internasional bukan hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga membentuk cara berpikir yang lebih global untuk menghadapi tantangan di masa depan.
Cek Instagram Kami Disini
ITS Resmi Menjadi Anggota AACSB: Memperkuat Komitmen Menuju Pendidikan Bisnis Berstandar Global Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) secara
Belajar Sustainability dari Negeri Seribu Danau: Pengalaman Erasmus+ Student Exchange di Haaga-Helia University of Applied Sciences, Finlandia Belajar di
Launching Double Degree MB ITS-UWE Bristol Pada Selasa, 7 April 2026 Manajemen Bisnis ITS dan UWE Bristol secara resmi