
Gambar : Tim EPICS in IEEE 2026 ITS bersama Universitas Telkom Surabaya, masyarakat dan perangkat desa saat kegiatan sosialisasi program di Desa Cokrokembang.
Surabaya, FTEIC ITS – Hamparan sawah di Desa Cokrokembang, Kabupaten Pacitan, selama beberapa tahun terakhir menghadapi persoalan serius. Di tengah melimpahnya sumber daya alam dan dominasi masyarakat yang berprofesi sebagai petani, krisis air bersih justru menjadi tantangan utama yang berdampak pada produktivitas pertanian warga. Berangkat dari kondisi tersebut, tim multidisiplin dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bersama Telkom University menghadirkan solusi berbasis teknologi melalui program EPICS in IEEE 2025–2026.
Program ini dipimpin oleh dosen Sistem Informasi ITS, Bu Febby Artwodini Muqtadiroh, bersama tim yang terdiri atas akademisi dan mahasiswa lintas bidang. Melalui integrasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan Internet of Things (IoT), program tersebut dirancang untuk membantu masyarakat memperoleh akses air bersih sekaligus meningkatkan sistem irigasi pertanian secara berkelanjutan.
Bu Febby menjelaskan bahwa program ini bermula dari pengalaman timnya yang sebelumnya pernah memperoleh hibah Humanitarian Activities Committee and Special Interest Group on Humanitarian Technology (HAC-SIGHT) dari IEEE pada 2022–2023. Setelah menyelesaikan studi doktoralnya pada 2024, ia bersama tim kembali mencoba skema berbeda melalui EPICS in IEEE yang memiliki fokus lebih luas pada penerapan teknologi profesional untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“EPICS itu lebih ke arah bagaimana kemampuan teknikal profesional bisa memberikan dampak untuk komunitas,” ujar Bu Febby.

Gambar : Petani di Desa Cokrokembang memanfaatkan sistem pengairan sawah yang didukung teknologi dalam program EPICS in IEEE 2026.
Pemilihan Desa Cokrokembang sebagai lokasi implementasi berawal dari cerita salah satu anggota tim yang berasal dari Pacitan. Berdasarkan informasi warga, masyarakat setempat mengalami kesulitan air untuk mengairi sawah sehingga petani harus melakukan iuran listrik setiap bulan demi mengoperasikan pompa air. Selain itu, masyarakat juga mengeluhkan dugaan pencemaran lingkungan akibat aktivitas pertambangan di sekitar wilayah tersebut yang diduga berdampak pada kualitas air dan hasil panen.
Menanggapi kondisi itu, tim kemudian melakukan survei dan pendekatan langsung kepada warga, RT, hingga kepala desa untuk memastikan kebutuhan masyarakat. Dari hasil diskusi dan studi kelayakan, tim memutuskan membangun sistem PLTS menggunakan empat panel surya yang terintegrasi dengan teknologi IoT untuk memantau kualitas air.
Teknologi tersebut memungkinkan proses pemompaan air dari sumur bor menuju sekitar 20 petak sawah tanpa bergantung pada listrik berbayar. Tidak hanya itu, sistem IoT yang dikembangkan juga mampu memonitor kondisi kualitas air secara berkala sehingga masyarakat dapat mengetahui kondisi air yang digunakan untuk pertanian.

Gambar : Instalasi panel surya yang dikembangkan tim EPICS in IEEE 2026 untuk membantu sistem pengairan sawah dan penyediaan air bersih bagi masyarakat Desa Cokrokembang, Pacitan.
“Awalnya kami hanya memproposalkan solar cell saja. Namun setelah mengetahui adanya dugaan polusi tambang, akhirnya kami integrasikan dengan alat IoT untuk memonitor kualitas air bersih,” jelasnya.
Dalam proses implementasi, tim juga membangun sumur bor sedalam 40 meter setelah pengeboran awal sedalam 20 meter dinilai belum menghasilkan air dengan kualitas yang cukup baik. Selain itu, dibangun pula rumah panel untuk melindungi perangkat PLTS dan IoT agar lebih aman dari kerusakan maupun kehilangan.
Program ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari ITS, Telkom University, pemerintah desa, hingga SMKN Ngadirojo. Keterlibatan sekolah vokasi tersebut menjadi bagian penting dalam pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) yang diusung EPICS. Sebanyak sekitar 65 siswa SMK dilibatkan dalam pelatihan pengoperasian dan perawatan sistem agar teknologi dapat terus dimanfaatkan secara mandiri oleh masyarakat.
Gambar : Tim EPICS in IEEE 2026 memberikan pendampingan intensif kepada masyarakat Desa Cokrokembang terkait pengoperasian dan perawatan sistem pengairan berbasis panel surya dan IoT.
Tidak hanya fokus pada pembangunan teknologi, tim juga memberikan pendampingan intensif kepada warga. Mereka menyiapkan modul pembelajaran, poster panduan operasional, hingga pelatihan langsung kepada petani dan siswa SMK sebelum proses serah terima dilakukan.
Meski demikian, perjalanan implementasi tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi tim adalah kondisi geografis dan karakteristik tanah di lokasi pengeboran. Struktur tanah berbatu menyebabkan alat impeller sempat rusak sehingga proses instalasi yang semula ditargetkan selesai pada Desember 2025 harus mundur hingga Februari 2026.
Selain kendala teknis, tim juga menghadapi tantangan sosial dari sebagian masyarakat yang awalnya berharap program tersebut memberikan bantuan dana secara langsung. Karena itu, tim harus menjelaskan kembali bahwa tujuan utama program adalah menghadirkan solusi teknologi jangka panjang yang dapat membantu petani mengurangi biaya operasional irigasi.
Walaupun menghadapi berbagai hambatan, respons masyarakat terhadap program ini sangat positif. Pada acara sosialisasi dan serah terima yang digelar pada 30 Maret 2026, warga hadir dengan antusias bersama perangkat desa hingga camat setempat. Tim juga memperoleh berbagai apresiasi dari petani yang merasakan langsung manfaat sistem pengairan tersebut.
Bu Febby mengungkapkan bahwa program ini tidak berhenti pada tahap implementasi awal saja. Tim berencana melakukan monitoring lanjutan pada Juni mendatang untuk mengevaluasi efektivitas sistem berdasarkan data yang dikumpulkan perangkat IoT. Selain itu, terdapat rencana pengembangan sistem filter air apabila kualitas air dinilai masih memerlukan perbaikan.
Tim juga berencana membangun sistem monitoring berbasis website agar kondisi PLTS dan kualitas air di Pacitan dapat dipantau langsung dari Surabaya secara real time. Dengan sistem tersebut, potensi kerusakan maupun gangguan dapat diketahui lebih cepat sebelum berdampak pada masyarakat.
“Harapannya teknologi ini bisa diperluas ke wilayah lain dan benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” tutup Bu Febby.
