News

Sambut Hari Santri 2022, Tim Abmas ITS Serahkan Desain Kemasan Produk OPOP

Jum, 21 Okt 2022
11:18 am
Berita
Share :
Oleh : dkvadmin   |

Ketua Abmas ITS Suyatman menyerahkan hasil karya desain kemasan kepada Sekjen OPOP (One Pesantren One Product) Jatim Mohammad Ghofirin, Jumat (21/10/2022). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

 

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Tim Abmas Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menyerahkan katalog hasil karya desain kemasan kepada Sekjen OPOP (One Pesantren One Product) Jatim Mohammad Ghofirin, dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2022.

Pengabdian kepada masyarakat (Abmas) yang diketuai Sayatman, S.Sn, M.Si  ini diberi tajuk “Gerakan 1000 Desain Kemasan OPOP”.

Program ini merupakan salah satu program Abmas prioritas ITS yang bertujuan membantu meningkatkan kualitas produk pondok pesantren melalui desain kemasannya.

“Ini sebenarnya diawali dari komitmen kerja sama ITS dengan pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam rangka mengembangkan dan memberdayakan perekonomian masyarakat pesantren di Jawa Timur,” kata Sayatman, Jumat (21/10/2022).

Sayatman menerangkan, ia dan tim-nya diberi amanah untuk membantu pengembangan desain kemasan produk-produk pondok pesantren.

Guna menyukseskan program tersebut, Tim Abmas ITS di bawah pimpinan Sayatman mengajak sekitar 100 mahasiswa dari Departemen Desain Komunikasi Visual di Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital ITS untuk membuat rancangan desain kemasannya.

Lebih lanjut Sayatman menerangkan, Program Abmas kali ini memang menargetkan mitra pesantren. Harapannya akan semakin banyak produk-produk unggulan pondok pesantren yang dibarengi dengan kemasan bagus dan menarik sehingga dapat meningkatkan citra dan daya saing produk tersebut.

“Sementara ini lebih dari 100 pesantren yang sudah melengkapi dan memasukkan data-data produknya sehingga itu yang kita garap lebih dulu,” ujar Desain Komunikasi Visual Fakultas CREABIZ ini.

“Ada juga yang dari satu merek produk terdiri dari beberapa varian dan kami coba kembangkan desain kemasannya lebih lanjut. Kami bersama-sama Sekjen OPOP Jatim berkomitmen untuk terus membantu mitra Pesantren ini secara bertahap,” terangnya lagi.

Setelah melaunching hasil program ini, Sayatman mengaku telah diminta salah satu dinas terkait di Probolinggo untuk memberikan pelatihan desain kemasan produk untuk para santri.

“Insya Allah, kemarin sudah ada yang menghubungi dari Probolinggo yang ingin menyelenggarakan pelatihan kemasan produk santri,” ujar Sayatman.

Di tempat yang sama, Sekjen OPOP Jatim Mohammad Ghofirin mengapresasi Tim Creabiz ITS karena telah membantu membuatkan rancangan kemasan produk pesantren agar bisa menarik perhatian pasar.

“Berawal dari desain kemasan inilah, nanti pesantren itu akan menunjukkan upaya konkretnya dalam mewujudkan kemandirian ekonomi pesantren,” ucap Ghofirin.

Setelah pesantren berdaya secara ekonomi dengan mempunyai produk sendiri sebagai salah satu sumber pendapatan, maka otomatis masyarakat di sekitar ponpes akan mendapatkan manfaat.

“Dengan demikian peningkatan kesejahteraan masyarakat, pengurangan angka pengangguran, pengurangan angka kemiskinan secara makro di Jawa Timur itu akan terjadi,” jelas Ghofirin.

Pemberdayaan Ekonomi Pesantren

Menurut Ghofirin, pesantren berfungsi bukan hanya sebagai lembaga pendidikan dan dakwah, namun juga sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat. Kemandirian Pesantren menjadi isu strategis saat ini.

Berbagai seminar, sarasehan dan diskusi sering dilakukan untuk membahas konsep dan program kemandirian pesantren.

Berangkat dari pijakan Undang Undang nomor 18 tahun 2019 tentang Pesantren, saat ini pesantren berfungsi bukan hanya sebagai lembaga pendidikan dan lembaga dakwah, namun juga berfungsi sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat.

Pemberdayaan ekonomi yang dilakukan harus simultan antara pemberdayaan intern pesantren dan pemberdayaan masyarakat di sekitar pesantren.

Pemberdayaan ekonomi di internal Pesantren dapat dilakukan dengan pendekatan kurikuler untuk para santri, pendekatan entitas bisnis untuk lembaga usaha di pesantren, dan pendekatan kemitraan dengan alumni pesantren.

“Jika pemberdayaan di internal berhasil maka, selanjutnya Pesantren dapat mengembangkan ke masyarakat sekitar sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.

Pesantren memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan internalnya berupa biaya sarana prasarana, biaya operasional, biaya santri, kesejahteraan, dan biaya pengembangan pondok pesantren.

Biaya-biaya tersebut dipenuhi dari SPP Santri, dana zakat, infaq, sadaqah, dan wakaf, hibah pemerintah dan donasi, serta dari hasil usaha/bisnis yang  dijalankan pesantren melalui Koperasi Pondok Pesantren dan Badan Usaha Milik Pesantren.

Semakin tidak bergantung kepada orang atau lembaga lain maka pesantren dikatakan semakin mandiri. Dari berbagai kebutuhan dan sumber pemenuhan kebutuhan ekonomi pesantren tersebut, pesantren diharapkan semakin memperbesar  usaha maupun bisnis yang dijalankannya.

“Sehingga hasil dari usaha tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional pesantren,” tutur Ghofirin.

Secara nasional, sebut Ghofirin, terdapat lima tingkatan existing bisnis di pondok pesantren.

Pertama, startup business (bisnis rintisan). Pesantren yang termasuk kelompok ini menjalankan usahanya kurang 2 tahun dan skala bisnis mikro (kekayaan bersih Rp50 juta, omzet paling banyak Rp300 juta).

“Pesantren kelompok ini  sebesar 22,5 % secara nasional,” tandasnya.

Kedua, unorganized business (bisnis belum terorganisir dan belum dikelola dengan baik). Pesantren yang termasuk kelompok ini menjalankan usahanya antara 2-3 tahun.

Usaha yang dijalankan belum mampu memberikan kontribusi ke Pesantren,  dan skala bisnis kecil (kekayaan bersih Rp50-Rp500 juta, omzet paling banyak Rp300 juta – Rp2,5 miliar). Pesantren kelompok ini sebesar 39,5 % secara nasional.

Ketiga, survive and stable business (bisnis stabil dan dapat bertahan). Pesantren yang termasuk kelompok ini menjalankan usahanya antara 4-5 tahun. Usaha yang dijalankan mampu memberikan kontribusi ke Pesantren antara 10-25%,  dan skala bisnis menengah (kekayaan bersih 500 jt – 10 M, omzet paling banyak Rp2,5 miliar– Rp10 miliar). Pesantren kelompok ini sebesar 25,6 % secara nasional.

Keempat, growing and developing business (bisnis tumbuh dan berkembang).

Pesantren yang termasuk kelompok ini menjalankan usahanya lebih dari 5 tahun. Usaha yang dijalankan mampu memberikan kontribusi ke pesantren sebesar 25% ke atas,  dan skala bisnis atas (kekayaan bersih lebih dari Rp10 miliar, omzet tahunan Rp50 miliar ke atas). Pesantren kelompok ini sebesar 9,8 % secara nasional.

Kelima, capable and independently (bisnis mampu memandirikan pondok pesantren). Usaha yang di jalankan pesantren yang termasuk kelompok ini mampu membiayai seluruh operasional pondok pesantren dan gratis semua fasilitas, meskipun pesantren tetap menerima sumbangan yang bersifat sukarela. Pesantren kelompok ini sebesar 2,6 % secara nasional.

Oleh karena perkembangan bisnis produk dalam pondok pesantren tersebut, Tim Abmas Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya secara khusus membuat katalog hasil karya desain kemasan OPOP (One Pesantren One Product) Jatim dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2022.(*)

source : https://timesindonesia.co.id/peristiwa-daerah/433287/sambut-hari-santri-2022-tim-abmas-its-serahkan-desain-kemasan-produk-opop

Hits: 3

Latest News

  • Pecah Rekor! Dosen ITS Jadi Penerima Habibie Prize Termuda dalam Sejarah

    Source : https://brin.go.id/gallery?id=179&slug=habibie-prize-2022 Jakarta – Humas BRIN, Penghargaan Habibie Prize 2022 diberikan kepada empat orang yang berkontribusi aktif di

    10 Nov 2022
  • LOMBA KREATIF TENNOVEX ITS 2022

        LOMBA KREATIF TENNOVEX ITS 2022 DI GRAND CITY MALL KOMIK STRIP dengan tema “Hari Pahlawan”. CP :

    05 Nov 2022
  • Mahasiswa ITS Boyong Dua Medali Emas di Peksiminas 2022

    (dari kiri) Asyroful Anam, Bahalwan Apriyansyah (dosen Departemen Manajemen Bisnis ITS), Tania Andini Susanto, dan Naufan Noordyanto usai pengumuman

    31 Okt 2022