News

GeoICON 2026 Angkat Peran Teknologi Geospasial dalam Membangun Ketahanan Iklim dan Sistem Peringatan Dini Multi-Bahaya

Sen, 20 Jul 2026
11:40 am
Berita

Sorry, no posts matched your criteria.

Share :
Oleh : wawansw   |

Surabaya, 15 Juli 2026 – Departemen Teknik Geomatika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), sukses menyelenggarakan The International Conference on Geomatics and Innovative Technologies (GeoICON) 2026 pada Rabu (15/7) di Hotel DoubleTree by Hilton Surabaya. Mengusung tema “Geospatial Technology for Mapping the Future: Climate Resilience and Geospatial Intelligence for Multi-Hazard Early Warning,” konferensi internasional ini menjadi wadah bagi para akademisi, peneliti, praktisi industri, perwakilan pemerintah, serta mahasiswa dari berbagai negara untuk mendiskusikan peran strategis teknologi geospasial dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan memperkuat ketahanan terhadap berbagai jenis bencana.

 

Melalui tema tersebut, GeoICON 2026 menegaskan pentingnya pemanfaatan teknologi geospasial sebagai fondasi dalam membangun masa depan yang lebih tangguh. Konferensi ini menjadi forum internasional untuk berbagi pengetahuan ilmiah, hasil riset mutakhir, serta memperkuat kolaborasi dalam pengembangan solusi geospasial yang mendukung pembangunan berkelanjutan, adaptasi perubahan iklim, serta pengurangan risiko bencana melalui sistem peringatan dini yang lebih akurat dan terintegrasi.

Kegiatan diawali dengan registrasi peserta mulai pukul 07.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan Opening Ceremony yang dipandu oleh Master of Ceremony (MC). Acara pembukaan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Hymne ITS, kemudian dilanjutkan dengan penampilan tari tradisional sebagai representasi kekayaan budaya Indonesia kepada para peserta internasional.

Dalam sambutannya, Ketua GeoICON 2026 menyampaikan bahwa tema konferensi tahun ini dipilih sebagai respons terhadap meningkatnya tantangan global akibat perubahan iklim, cuaca ekstrem, kenaikan muka air laut, serta berbagai bencana alam yang memerlukan dukungan teknologi geospasial dalam proses mitigasi dan pengambilan keputusan. Menurutnya, perkembangan penginderaan jauh, sistem informasi geografis (SIG), kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence), pemodelan spasial, dan analisis big data telah membuka peluang baru dalam membangun sistem Multi-Hazard Early Warning yang lebih cepat, akurat, dan adaptif.

Konferensi secara resmi dibuka oleh Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang dalam sambutannya menegaskan komitmen ITS untuk terus mendorong riset dan inovasi bertaraf internasional. Rektor juga menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga penelitian, dan industri dalam menghasilkan inovasi teknologi yang mampu memberikan solusi nyata terhadap berbagai tantangan pembangunan dan lingkungan.

Sebagai Keynote Speaker, Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, Deputy Head for Climatology, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), memaparkan perkembangan terkini mengenai dampak perubahan iklim terhadap berbagai sektor kehidupan serta pentingnya integrasi data klimatologi dan informasi geospasial dalam mendukung sistem peringatan dini multi-bahaya. Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan data spasial, pemodelan iklim, serta teknologi prediktif menjadi komponen penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan mengurangi risiko bencana di masa mendatang.

Setelah sesi keynote, acara dilanjutkan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) sebagai bentuk penguatan kerja sama strategis antar institusi dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan teknologi geospasial. Selanjutnya, peserta mengikuti sesi Speakers of Innovation Technology, yang menghadirkan berbagai inovasi teknologi terbaru dalam bidang akuisisi data geospasial, analisis spasial, visualisasi data, hingga sistem pendukung pengambilan keputusan berbasis kecerdasan geospasial.

Usai coffee break yang disertai dengan sesi presentasi poster, kegiatan dilanjutkan dengan Invited Speaker Session I yang menghadirkan Prof. Hone-Jay Chu dari National Cheng Kung University, Taiwan, serta Assoc. Prof. Abdullah Hisam bin Omar dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Malaysia. Kedua narasumber memaparkan perkembangan terkini mengenai analisis geospasial, aplikasi penginderaan jauh, pemantauan lingkungan, serta pemodelan spasial untuk mendukung adaptasi perubahan iklim dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Diskusi interaktif yang berlangsung setelah presentasi menunjukkan tingginya antusiasme peserta dalam bertukar pengalaman dan gagasan.

Sesi berikutnya menghadirkan Iyan E. Mulia, Ph.D., dari RIKEN Center for Advanced Intelligence Project, Jepang, yang membahas pemanfaatan kecerdasan artifisial dan pemodelan numerik dalam prediksi tsunami serta analisis bahaya wilayah pesisir. Selanjutnya, Hepi Hapsari Handayani, Ph.D., dosen Departemen Teknik Geomatika ITS, memaparkan berbagai hasil penelitian mengenai pemanfaatan teknologi geospasial untuk pemantauan lingkungan dan mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Kedua presentasi tersebut menunjukkan bahwa integrasi antara kecerdasan artifisial dan teknologi geospasial menjadi salah satu kunci dalam membangun sistem mitigasi bencana yang lebih efektif di masa depan.

Setelah istirahat siang, konferensi dilanjutkan dengan Parallel Session I yang diselenggarakan secara bersamaan di sepuluh ruang presentasi. Para pemakalah mempresentasikan hasil penelitian mereka dengan alokasi waktu 14 menit untuk setiap makalah, termasuk sesi tanya jawab. Berbagai topik ilmiah dipresentasikan, mulai dari Sistem Informasi Geografis (SIG), penginderaan jauh, fotogrametri, hidrografi, administrasi pertanahan, smart city, kecerdasan artifisial, pemantauan lingkungan, hingga mitigasi bencana. Pada waktu yang sama juga diselenggarakan APTTEGGI Meeting sebagai forum komunikasi dan koordinasi antar perguruan tinggi yang tergabung dalam Asosiasi Pendidikan Tinggi Teknik Geomatika Indonesia.

Diskusi ilmiah berlanjut pada Parallel Session II, yang kembali menghadirkan presentasi hasil penelitian dari para peserta. Berbagai sesi berlangsung dinamis dengan diskusi yang aktif, menunjukkan besarnya perhatian komunitas ilmiah terhadap pemanfaatan teknologi geospasial dalam meningkatkan ketahanan iklim, memperkuat sistem peringatan dini multi-bahaya, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data.

Menjelang akhir kegiatan, panitia mengumumkan Best Presenter Awards sebagai bentuk apresiasi kepada para pemakalah terbaik yang telah menyampaikan presentasi ilmiah secara unggul selama konferensi berlangsung. Dalam sambutan penutupnya, Kepala Departemen Teknik Geomatika ITS menyampaikan apresiasi kepada seluruh pembicara, peserta, reviewer, sponsor, serta panitia atas terselenggaranya GeoICON 2026 dengan sukses. Ia berharap konferensi ini dapat menjadi titik awal lahirnya kolaborasi internasional yang lebih luas dalam mengembangkan teknologi geospasial untuk menjawab tantangan perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana di masa depan.

Melalui penyelenggaraan GeoICON 2026, Departemen Teknik Geomatika ITS kembali menegaskan perannya sebagai salah satu pusat unggulan pendidikan, penelitian, dan inovasi di bidang geomatika yang aktif berkontribusi dalam komunitas ilmiah internasional. Sejalan dengan tema “Geospatial Technology for Mapping the Future: Climate Resilience and Geospatial Intelligence for Multi-Hazard Early Warning,” konferensi ini menunjukkan bahwa teknologi geospasial tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat pemetaan, tetapi telah berkembang menjadi instrumen strategis dalam membangun masyarakat yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim, memperkuat sistem peringatan dini multi-bahaya, serta mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan. Melalui kolaborasi lintas negara dan lintas disiplin ilmu yang terjalin selama konferensi, GeoICON 2026 diharapkan mampu menghasilkan inovasi dan kemitraan yang memberikan dampak nyata bagi masa depan yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan.

Latest News

Sorry, no posts matched your criteria.