News

Literasi Kebencanaan #1 – Status Gunung Api Aktif dan Level Bahayanya

Kam, 07 Des 2023
4:32 pm
Informasi
Share :
Oleh : Admin-Teknik Geofisika   |

Setiap gunung api aktif selalu dipantau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMG) untuk menilai status bahaya gunung api. Alat pantau gunung api aktif antara lain seismometer untuk memgamati kegempaan, tiltmeter untuk pengukuran perubahan puncak gunung, inframerah untuk pengamatan suhu, alat pantau gas dsb.

Status bahaya gunung api dibagi menjadi 4 level yaitu :

  • Aktif Normal (#Level_I)

Kegiatan gunungapi berdasarkan pengamatan dari hasil visual, kegempaan dan gejala vulkanik lainnya tidak memperlihatkan adanya kelainan.

Pada level ini, aktivitas dibolehkan mendekati puncak atau kawah gunung berapi. Kita bisa melihat langsung erupsi G.Bromo di bibir kawah. Para pendaki juga dibolehkan sampai ke puncak G.Semeru dsb.

  • Waspada (#Level_II)

Terjadi peningkatan kegiatan berupa kelainan yang tampak secara visual atau hasil pemeriksaan kawah, kegempaan dan gejala vulkanik lainnya.

Pada level ini dilarang ada aktivitas masyarakat mendekati kawah atau puncak gunung sampai radius yang sudah ditentukan sesuai batas Kawasan Rawan Bencana III. Ancaman gas beracun, lava, hujan batu pijar, hujan abu sangat deras. Radius KRB III sudah ditentukan setiap gunung berbeda beda. Misal G.Bromo sampai seluas lautan pasir, sedangkan G.Kelud KRB III lebih luas lagi (Gambar).

  • Siaga (#Level_III)

Peningkatan semakin nyata hasil pengamatan visual/pemeriksaan kawah, kegempaan dan metoda lain saling mendukung. Berdasarkan analisis, perubahan kegiatan cenderung diikuti letusan.

KRB III dan KRB II harus dikosongkan dari kegiatan manusia dikhawatirkan terjena jatuhan batu pijar, hujan batu dan awan panas. Misal G.Bromo sampai radius 6 km dari puncak.

  • Awas (#Level_IV)

Menjelang letusan utama, letusan awal mulai terjadi berupa abu/asap. Berdasarkan analisis data pengamatan, segera akan diikuti letusan utama.

Pada level ini, radius yag dikosongkan bisa mencapai 10 km bahkan penduduk di pinggir sungai yang berhulu di puncak gunung api juga harus mengungsi karena kawasan sekitar sungai ini termasuk KRB I rawan banjir lahar panas maupun banjir lahar dingin.

 

Perubahan status ke level berikutnya bisa lambat selama berhari hari, bisa sangat cepat hanya beberapa jam saja. Misal G.Kelud tahun 2014, ditetapkan level III (siaga).. 2 jam kemudian menjadi Level IV (Awas). Masyarakat yang bermukim di sekeliling puncak G. Kelud mengungsi berbarengan turun. Alhamdulillah tidak ada korban karena masyarakat lereng Kelud sudah belajar dari kejadian sebelumnya.

 

Dr. Amien Widodo
Kamis, 7 Desember 2023 | 16:30

 

Latest News

  • Strengthening Global Earth Science Research, ITS Geophysical Engineering Hosts Joint Symposium with Universiti Malaysia Sabah (UMS)

    SURABAYA, geofisika.its.ac.id – The Department of Geophysical Engineering at the Faculty of Civil, Planning, and Geo Engineering (FTSPK), Institut

    25 Jun 2026
  • Air yang Kita Racuni, Krisis yang Kita Warisi : HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA, 5 JUNI 2026

    Air yang Kita Racuni, Krisis yang Kita Warisi Dari sungai-sungai Indonesia hingga laut lepas, pencemaran air telah menjadi ancaman

    19 Jun 2026
  • Lengkapi Rantai Keilmuan Kebumian, ITS Gelar FGD Penjaringan Aspirasi Pendirian Program Studi S1 Teknik Geologi

    SURABAYA, TG ITS — Dalam rangka mewujudkan rencana strategis perluasan kontribusi ilmiah di sektor kebumian, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

    18 Jun 2026