Kampus Sukolilo. Akhir Mei 2026.
Saya menatap layar. Menyimak webinar Departemen Teknik Geofisika ITS. Tajuknya “20 Years of the ‘Lumpur Sidoarjo’ Mud Volcano Disaster”. Tepat Jumat, 29 Mei 2026. Dua dekade penuh.
Pikiran saya langsung mengenang. Lumpur Sidoarjo. Lusi.
Mulai 29 Mei 2006. Bumi di Sidoarjo tiba-tiba robek. Memuntahkan fluida panas dari perutnya. Tanpa permisi. Tanpa peringatan yang cukup.
Salah satu urat nadi penting Jawa Timur seketika lumpuh. Jalan tol Surabaya–Gempol terputus. Akses jalan provinsi tersendat parah. Di tengah kekacauan penanggulangan bencana yang belum pernah ada presedennya.
Dampaknya cepat.
Kerabat saya di Porong, bersama puluhan ribu warga, angkat kaki. Direlokasi. Menerima ganti rugi. Namun tak akan bisa menggantikan ribuan memori. Kini kawasan itu telah terkubur dalam lumpur yang terus membanjiri.
Di kampus kala itu, suasana siaga menyelimuti. Dosen dan peneliti bahu-membahu bersama instansi dan industri. Menelaah fenomena dan teori. Tanggap darurat dan beberapa skenario penutupan semburan dieksekusi. Namun bumi bergerak di luar kendali. Lumpur tetap menyembur tanpa henti.
Di webinar ini, kenangan itu mewujud kembali. Para ilmuwan bicara. Bumi membuka rahasianya lapis demi lapis.
Sesi materi oleh Prof. Matteo Lupi, salah satu narasumber dalam Webinar “20 Years of the Lumpur Sidoarjo Mud Volcano Disaster”
Bapak Darwis Daraba hadir sebagai Keynote Speaker. Kepala Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) memaparkan realita dan peta jalan mitigasi di lapangan.
Tiga narasumber membawa tiga lapisan pemahaman.
Dr. Firman Syaifuddin, kolega saya di Teknik Geofisika ITS, menayangkan gambar bawah tanah itu. Dua dekade ini, mata kita semua hanya tertuju pada genangan lumpur di permukaan. Padahal, ancaman senyap bekerja di bawahnya.
Amblesan.
Radar dan sensor elektromagnetik kini memastikan apa yang dulu hanya kami khawatirkan. Perlapisan tanah di bawah sana rusak parah, penuh rekahan radial yang melingkar, dan struktur kolaps di sekitar pusat semburan. Erupsi ini berakar dalam. Amblesan adalah ancaman jangka panjang bagi apa pun yang berdiri di atasnya.
Dr. Burhannudinnur dari Universitas Trisakti kemudian mengajak kami menyelami lebih dalam. Ia membedah sistem Mud Volcano secara komprehensif. Kawasan Lusi, jelasnya, dikontrol oleh pergerakan shale diapir. Massa serpih raksasa yang terdorong ke atas oleh tekanan ekstrem dari dalam bumi. Zona overpressure terbentuk di sekitarnya, dengan anomali kecepatan rendah dan saluran bawah tanah yang bersifat chaotic. Lusi bukan sekadar kantong gas bocor. Ia adalah bagian dari perut bumi yang bergolak dalam skala besar.
Prof. Matteo Lupi dari University of Geneva membawa kami melihat “foto rontgen” perut bumi Sidoarjo. Di layar, hasil tomografi resistivitas elektrik 3D menampakkan saluran utama Lusi dengan jelas. Sebuah elips raksasa, menukik ratusan meter ke bawah, seperti akar beringin raksasa yang terbalik. Bentuk dan arahnya dikontrol oleh Sesar Watukosek. Menurut Prof. Lupi, patahan ini adalah “jalan tol bawah tanah” yang menghubungkan Lusi langsung ke sistem kompleks gunung api Arjuno-Welirang di barat daya.
Fluida magmatik dan hidrotermal bermigrasi lewat jalur ini. Memanaskan lapisan sedimen dalam yang kaya organik. Menghasilkan tekanan berlebih. Kesimpulannya, Lusi bukan letupan kantong gas dangkal. Ia adalah sistem panas bumi berbasis sedimen yang digerakkan oleh aktivitas vulkanik dalam. Sebuah mesin bawah tanah yang hidup. Dan belum ada tanda-tanda akan berhenti.
Ancaman amblesan pun menemukan penjelasannya. Puluhan ribu meter kubik fluida menyembur keluar setiap hari. Massa raksasa lenyap dari perut bumi. Ruang kosong masif terbentuk. Penyangga batuan lenyap. Formasi geologi di atasnya berpotensi ambruk secara ireversibel. Ekosistem hidrologi regional mengalami disfungsi. Tak bisa dipulihkan secara konvensional.
Ini adalah wajah asli bencana berkepanjangan. Bukan hanya letupan dua puluh tahun lalu. Melainkan degenerasi yang tak henti.
PPLS menyadari realita ini. Respons mereka bukan lagi sekadar memompa lumpur ke sungai dan berharap semburan terhenti. Tanggul cincin sepanjang 11 km diperkuat, ditinggikan hingga elevasi sekitar 11 meter. Stabilitas waduk dipantau secara real-time lewat Lusi Map, CCTV, inklinometer, seismograf, dan patok geser. Sebuah ikhtiar mekanis raksasa. Manusia meredam gerak alam.
Namun bertahan saja tidak cukup. Peradaban menuntut lebih dari sekadar pertahanan.
Lusi bukan sekadar limbah bencana. Kandungan utamanya silika, alumina, dan besi oksida. Riset ITS telah membuktikan, lumpur ini bisa diubah menjadi geopolymer. Pengikat konstruksi ramah lingkungan. Kajian geokimia juga menemukan lithium, material krusial era transisi energi. Simpanan strategis yang naik sendiri ke permukaan, tak perlu digali dari kedalaman. Tentu, kajian potensi, ekonomi, dan skala industri masih diperlukan.
Ke depan, PPLS merencanakan Museum Geopark dan ekowisata Embung Lentera. Kawasan ini didorong menjadi laboratorium alam riset kebencanaan kebumian tingkat dunia. Sebuah visi yang tepat. Itulah sejatinya Lusi.
Penggunaan Alat Seismik Dalam Penelitian Kuliah Lapangan Terpadu Mahasiswa Teknik Geofisika ITS di Lumpur Sidoarjo
Lusi adalah Global Living Laboratory. Laboratorium alam berskala dunia, yang hidup dan terus berevolusi. Bukan di negeri orang. Di halaman belakang kita sendiri.
Fenomena ini adalah world-class problem yang menuntut world-class solutions. Solusi yang harus lahir dari rahim riset ilmuwan lokal. Kita tak bisa terus meminjam kerangka teori dari belahan bumi lain. Sistem bumi kita terbukti chaotic, dinamis, tidak linier. Kita harus berhenti menjadi konsumen sains. Mulai menjadi produsennya.
Dua dekade telah berlalu. Tangis kerabat saya di Porong mungkin sudah lama mengering. Jalur tol baru Surabaya–Gempol telah lama tersambung kembali. Namun pemulihan dampak masih belum sepenuhnya selesai.
Bumi di bawah Sidoarjo belum berhenti mencari keseimbangannya. Senyap. Pelan. Menuntut perhatian yang tak boleh sedikit pun kendur.
Suatu hari nanti, saya ingin kerabat saya yang dulu terusir dari Porong bisa bercerita kepada cucunya dengan bangga. Bahwa tanah yang menenggelamkan rumah mereka dua puluh tahun lalu, kini telah menjadi laboratorium sains kelas dunia. Bahwa dari lumpur yang sama, lahir material unggulan baru. Bahwa di bawahnya juga tersimpan logam yang menggerakkan ekonomi masa depan.
Bahwa bencana itu tidak sia-sia.
Dua puluh tahun adalah jeda yang cukup panjang. Tapi juga waktu yang tepat untuk bertransformasi.
Dari tragedi menjadi laboratorium. Dari semburan menjadi material unggulan. Dari luka mendalam menjadi peta jalan keberlanjutan.
Sains dan inovasi harus hadir. Merancang mitigasi yang presisi. Menciptakan nilai dan kemandirian bangsa dari semburan lumpur.
Penggunaan Alat Gravitymeter Dalam Penelitian Kuliah Lapangan Terpadu Mahasiswa Teknik Geofisika ITS di Lumpur Sidoarjo
Sebab ilmu pengetahuan yang sejati bukan ilmu yang hanya mampu menjelaskan. Melainkan ilmu yang mampu meringankan beban, memecahkan masalah nyata, dan memberikan kebermanfaatan. Termasuk bagi kerabat saya di Porong. Dan semua yang pernah kehilangan.
AMH Agus Muhamad Hatta
Kampus Sukolilo. Akhir Mei 2026. Saya menatap layar. Menyimak webinar Departemen Teknik Geofisika ITS. Tajuknya “20 Years of the
Tingkatkan Kompetensi Sektor Migas, Departemen Teknik Geofisika ITS Gelar Petrophysics Training Berbasis Data Analytics SURABAYA, TG ITS — Dalam
Gunung lumpur Lusi (Lumpur Sidoarjo) yang terletak di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia, telah meletus sejak 29 Mei 2006.