Komisaris perusahaan, ketua yayasan, dan pemegang berbagai gelar lintas bidang, Anas akhirnya genap menjadi Insinyur — sebuah cita-cita yang ia rajut sejak kecil terinspirasi dari sosok B.J. Habibie.
Surabaya, April 2026 — Ada momen dalam hidup yang tidak datang tepat waktu, tetapi justru karena itu terasa lebih bermakna. Itulah yang dialami Anas Firman Adi (48), wisudawan Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) Sekolah Interdisiplin Manajemen dan Teknologi (SIMT) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada Wisuda ke-133, April 2026.
Anas Firman Adi lahir di Malang, 28 Agustus 1977. Ia bukan wisudawan biasa. Di balik toga yang ia kenakan, Anas adalah seorang Komisaris Utama PT Nasional Media Citra, Ketua Dewan Pembina Yayasan STIKes Maharani Malang, sekaligus akademisi yang telah mengoleksi gelar sarjana hukum, magister hukum, magister pendidikan, hingga doktor administrasi bisnis. Namun, satu gelar yang selalu ia impikan sejak kecil — Insinyur — baru ia raih di usia hampir 50 tahun.
Kekaguman Anas pada sosok Prof. Ir. B.J. Habibie — insinyur jenius sekaligus Presiden ke-3 Republik Indonesia — telah bersemi sejak ia masih duduk di bangku SMP. Impian masuk Departemen Teknik Elektro ITS terpaksa kandas karena kondisi ekonomi keluarga. Namun kegagalan itu tidak pernah memadamkan api cita-citanya. Setelah merintis bisnis perakitan komputer, mengembangkannya menjadi perusahaan teknologi, dan meraih berbagai gelar akademik, panggilan jiwa untuk dunia keinsinyuran akhirnya membawanya ke PSPPI SIMT ITS.
Anas menempuh studi di Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI), Sekolah Interdisiplin Manajemen dan Teknologi (SIMT) ITS Surabaya. Ia diwisuda pada Wisuda ke-133 ITS yang digelar pada 19 April 2026. ITS, kampus yang dulu hanya menjadi angan-angan, kini resmi menjadi bagian dari riwayat hidupnya.
Tantangan terbesar Anas adalah menyeimbangkan peran sebagai profesional, mahasiswa, dan ayah sekaligus. Ia mengatasinya dengan disiplin tinggi: menyusun jadwal mingguan yang memisahkan waktu kerja dan belajar, serta mengaitkan materi perkuliahan langsung dengan praktik di lapangan. “Saya mengatasinya dengan menyelaraskan kerangka akademik dengan praktik profesional,” ungkapnya. Bagi Anas, studi ini bukan sekadar menambah gelar, melainkan sebuah proses rekonstruksi cara berpikir sebagai insinyur profesional.
Kisah Anas adalah bukti nyata bahwa pendidikan tidak mengenal batas usia. Di tengah budaya yang sering mengaitkan keberhasilan akademik dengan masa muda, Anas membuktikan sebaliknya. “Jalan yang diberikan Tuhan memang luar biasa, saya akhirnya meraih impian itu di usia hampir 50 tahun,” tuturnya penuh syukur. Ceritanya menjadi inspirasi bagi siapa pun yang merasa terlambat untuk kembali belajar dan berkembang.
Tertarik Menjadi Insinyur Profesional Seperti Anas?
Program Profesi Insinyur (PPI) di SIMT ITS terbuka untuk para profesional dari berbagai latar belakang yang ingin meraih gelar Insinyur secara resmi. Daftarkan diri Anda dan mulai perjalanan Anda hari ini!
Informasi pendaftaran: https://www.its.ac.id/admission/
Raih mimpimu bersama ITS — Kampus Pahlawan yang terus Advancing Humanity!
SURABAYA, 29 Juni 2026 – Program Doktor Manajemen Teknologi (DMT) ITS resmi meluluskan salah satu pionir terbaiknya pada
SURABAYA, 29 Juni 2026 – Momentum Wisuda ke-127 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjadi saksi keberhasilan
SURABAYA, 29 Juni 2026 – Kisah inspiratif datang dari wisudawati Program Magister