Inka Novita Dinia, S.Si. (kiri) sebagai narasumber bersama dengan Maulidina Tri Andini, S.IP (kanan) dalam podcast “Pemanfaatan AI Sebagai Teman Belajar”, Kamis (20/8/2026).
SURABAYA – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kian pesat dan menyentuh berbagai lini kehidupan, tidak terkecuali ruang-ruang akademik. Guna merespons dinamika tersebut dan memberikan edukasi terkait batasan penggunaan AI secara bijak, Perpustakaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar episode terbaru podcast bertajuk “Pemanfaatan AI Sebagai Teman Belajar: Bersama AI, Menjelajahi Pengetahuan dan Membangun Pengalaman Belajar yang Lebih Cerdas” melalui kanal YouTube resmi perpustakaan ITS pada Kamis (20/8/2026).
Dipandu oleh host Maulidina Tri Andini, S.IP., diskusi tersebut menghadirkan narasumber Inka Novita Dinia, S.Si., pustakawan ITS yang bertugas di ruang Dr. Angka Corner sekaligus pemateri kelas literasi AI. Dalam pemaparannya, Inka menekankan bahwa AI sebaiknya diposisikan sebagai pendamping atau asisten belajar, bukan pembuat keputusan akhir apalagi pengganti dosen maupun pustakawan. Keunggulan utama AI terletak pada fleksibilitas dan aksesibilitasnya yang tersedia 24 jam nonstop (24/7 availability), sehingga dapat menjadi sarana alternatif untuk berdiskusi, brainstorming, maupun memperjelas konsep-konsep rumit di luar jam operasional kampus.
Meskipun memberikan banyak kemudahan, Inka mengingatkan adanya risiko besar jika informasi dari AI ditelan secara mentah-mentah. Ia menyoroti fenomena AI Hallucination ketika AI memberikan jawaban yang terkesan sangat meyakinkan padahal secara faktual keliru, serta istilah Hallucitation ketika AI merangkai rujukan atau sitasi fiktif. Oleh karena itu, sivitas akademika diimbau untuk selalu melakukan evaluasi sumber (source evaluation) dengan memeriksa keberadaan judul artikel, kepakaran penulis, hingga kredibilitas jurnal sebelum mengutip suatu informasi.
Mengenai batasan etis dalam iklim akademik, pemanfaatan AI yang diperbolehkan meliputi perbaikan tata bahasa (grammar checking), pembuatan soal latihan kuis, perancangan kata kunci pencarian, serta sarana menguji argumen (partner diskusi). Sebaliknya, menyuruh AI membuat karya ilmiah secara keseluruhan dari pendahuluan hingga penutup, melakukan copy-paste tanpa verifikasi, serta menyembunyikan penggunaan AI (non-disclosure) merupakan pelanggaran etika dan bentuk plagiarisme yang tegas dilarang. Sebab, nama yang tertulis di lembar pernyataan orisinalitas adalah nama mahasiswa atau peneliti itu sendiri, sehingga tanggung jawab ilmiah sepenuhnya tetap berada pada pembuatnya.
Sebagai penutup, Inka mengajak para akademisi untuk menguasai literasi AI agar dapat memanfaatkan teknologi secara cerdas dan beretika tanpa mengorbankan proses berpikir independen. Ia berpesan agar sivitas akademika tidak perlu takut memanfaatkan AI, selama memahami batasannya. Pemanfaatan AI diperbolehkan sebagai teman belajar, namun proses berpikir dan belajar itu sendiri tetap harus dilakukan oleh manusia. Terkait panduan resmi penggunaan AI generatif di lingkungan perguruan tinggi, aturan teknisnya juga telah diturunkan pada tingkat institusi dan dapat diakses melalui portal resmi Perpustakaan ITS maupun Direktorat Pendidikan ITS.
SURABAYA – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kian pesat dan menyentuh berbagai lini kehidupan, tidak terkecuali ruang-ruang akademik. Guna
SURABAYA – Perpustakaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus berkomitmen memperkuat kapasitas para pustakawannya dalam mendukung iklim akademik dan
SURABAYA – Di tengah pesatnya gelombang transformasi digital yang mengarahkan berbagai fasilitas kampus menuju serba otomatis, Perpustakaan Institut Teknologi
Surabaya, 6 Agustus 2026 — Perpustakaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus mendorong transformasi digital melalui pengembangan berbagai sistem