ITS library

EXPLORE YOUR KNOWLEDGE HERE
13 Agustus 2026, 14:08

Senyum Humanis di Meja Front Office: Menjaga Sentuhan Manusia di Tengah Digitalisasi

Oleh : tondo@its.ac.id | | Source : -
Menjaga Sentuhan Manusia di Tengah Digitalisasi

Host Asri Fatihatus Syafira (kanan) bersama Narasumber Taufiq Rachmanu (kiri) saat pengambilan gambar podcast Perpustakaan ITS bertajuk “Melayani dengan Jiwa yang Tersenyum”, Kamis (13/8/2026).

SURABAYA – Di tengah pesatnya gelombang transformasi digital yang mengarahkan berbagai fasilitas kampus menuju serba otomatis, Perpustakaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membagikan sudut pandang berharga mengenai pentingnya menjaga ketulusan sentuhan manusia. Melalui tayangan podcast terbaru yang diunggah di akun YouTube resmi Perpustakaan ITS pada Kamis (13/8/2026), hangatnya makna pelayanan dibahas secara mendalam.

Dipandu oleh pustakawan ITS, Asri Fatihatus Syafira sebagai host, episode bertajuk “Melayani dengan Jiwa yang Tersenyum: Menghadirkan pelayanan yang humanis di tengah transformasi digital untuk pengalaman yang lebih bermakna” ini menghadirkan Taufiq Rachmanu, sesama pustakawan senior ITS, untuk mengulas peran meja front office sebagai garda terdepan penentu kesan pertama pemustaka.

Taufiq Rachmanu, pustakawan yang telah mengabdi di Perpustakaan ITS sejak tahun 1997, menegaskan bahwa kecanggihan teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan empati dan keterbukaan seorang pelayan publik.

“Senyum adalah senjata pertama kita. Senyum itu sederhana, tetapi tidak semua orang mau tersenyum pada orang lain. Ketika kita menyambut pemustaka dengan senyum dan salam—terlebih jika kita menyebut namanya—mereka akan merasa diterima dan nyaman,” ungkap Taufiq.

Taufiq juga membagikan resep pelayanannya yang tidak hanya terpaku pada budaya 3S, melainkan diperluas menjadi 5S: Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun. Menurutnya, perbedaan terbesar antara sekadar bersikap ramah dan benar-benar peduli terletak pada perpaduan antara kompetensi kerja dan ketulusan hati.

Kunci utama pelayanan maksimal menurut Taufiq adalah kemampuan memposisikan diri (empati) serta memanusiakan manusia. Ketika menghadapi pengunjung yang datang dalam kondisi emosi kurang baik atau kebingungan terkait akses sistem, seorang petugas front office dituntut untuk menjadi pendengar yang baik tanpa menyela, mengendalikan emosi pribadi, serta memberikan solusi konkret dan fleksibel.

“Intinya kita harus pandai-pandai memposisikan diri. Perlakukan orang lain sebagaimana kita sendiri ingin diperlakukan. Jangan sampai masalah pribadi dibawa ke meja pelayanan,” tambahnya.

Dedikasi dan ketulusan dalam melayani tersebut terbukti membuahkan hubungan jangka panjang yang berkesan. Tidak sedikit mahasiswa hingga alumni yang masih mengingat kebaikan-kebaikan kecil yang diberikan di front office, mulai dari bantuan fleksibilitas akses hingga sekadar tegur sapa hangat setiap pagi.

Melalui podcast ini, Perpustakaan ITS berharap pesan moral mengenai pelayanan yang inklusif, ramah, dan solutif ini dapat menginspirasi para tenaga pelayan publik di berbagai sektor. Bahwa pada akhirnya, perpustakaan yang dirindukan pengunjung bukan hanya karena kelengkapan koleksi buku atau kecanggihan teknologinya, melainkan karena rasa nyaman dan kehangatan yang dihadirkan oleh orang-orang di dalamnya.

Berita Terkait