
Kampus ITS, ITS News — Guna meningkatkan budaya berkendara yang aman di kampus, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar pelatihan keselamatan berkendara untuk sivitas akademikanya. Berkolaborasi dengan Royal Enfield, pelatihan bertajuk Smart Riding & Safety Training ini berlangsung di Auditorium Tower 2 ITS, Rabu (3/6).
Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD menyoroti tingkat kecelakaan yang masih beberapa kali terjadi di lingkungan kampus. Menurutnya, sebagai ekosistem akademik, sudah semestinya ITS menjadi tempat yang aman bagi setiap pengguna jalan. “Pelatihan ini menjadi upaya ITS meningkatkan kesadaran dan sistem keamanan berkendara di kampus,” tutur Bambang.
Menambahkan ungkapan Bambang, Smart Driving Consulting Royal Enfield Abdullah Sahal menyampaikan bahwa ketertiban berkendara dapat menciptakan rasa aman bagi pengguna jalan. Sebagai institusi pendidikan, ITS memiliki tanggung jawab moral untuk memelopori lingkungan berkendara yang aman.

Dalam berkendara, setiap pengendara harus memperhatikan tiga aspek krusial, mulai dari keamanan, keterampilan berkendara, hingga prinsip berkendara yang ramah lingkungan. Etika ketika berkendara mencerminkan karakter setiap pengendara sehingga penting untuk selalu bertanggung jawab, sabar, dan santun. “Maka dari itu, budaya berkendara yang aman perlu dibiasakan setiap pengendara ,” tambahnya.
Berdasarkan data, Sahal mengungkapkan bahwa sumber daya manusia (SDM) yang bijak menjadi prioritas utama karena 93% kecelakaan lalu lintas dipicu oleh faktor manusia. Selain akibat kelalaian manusia, kondisi fisik seperti kelelahan turut menjadi masalah utama di jalan raya. “Kondisi lelah tidak dapat diantisipasi dengan cara apapun, jadi satu-satunya cara ialah dengan tidur,” tegasnya.
Selain karena kelelahan, kelalaian pengendara juga dapat dipicu oleh penggunaan gawai yang mengganggu konsentrasi saat berkendara. Sahal menyoroti fenomena pengendara yang kerap membagi fokusnya antara jalan raya dan layar ponsel untuk membaca peta digital. Kebiasaan ini dinilai berbahaya karena berpotensi menghilangkan kewaspadaan akibat mata yang selalu terpaku pada ponsel.

Sebagai konsultan keselamatan berkendara, Sahal menekankan pentingnya penggunaan alat pelindung diri yang lengkap karena setiap pengendara berpotensi menghadapi risiko di jalan raya. Kendatipun demikian, alat pelindung diri masih sering diabaikan padahal memiliki peran krusial dalam menjadi proteksi utama tubuh.
Sinergi ITS dengan praktisi keselamatan berkendara ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran sivitas akademika ITS untuk berkendara dengan aman dan tertib. Tidak hanya itu, pelatihan ini juga mendukung capaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-11 terkait Kota dan Permukiman Berkelanjutan dan poin ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (*)
Reporter: Syifa Rahmadina
Redaktur: Mohammad Febryan Khamim