
Surabaya, ITS News — Meningkatnya frekuensi bencana akibat perubahan iklim mendorong perlunya sistem mitigasi yang lebih adaptif. Menjawab tantangan tersebut, Departemen Teknik Geomatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar 11th Geomatics International Conference (GeoICON) 2026 di Hotel DoubleTree by Hilton, Rabu (15/7).
Membuka konferensi, Wakil Rektor III Bidang Sumber Daya Manusia, Organisasi, dan Teknologi Sistem Informasi ITS Imam Baihaqi ST MSc PhD menyampaikan bahwa penyelenggaraan GeoICON mencerminkan komitmen ITS dalam menghadirkan riset yang berdampak nyata. Dalam hal ini, dirinya mengapresiasi kontribusi berbagai peneliti dari sebelas negara, yakni Indonesia, Malaysia, Vietnam, Filipina, Thailand, Korea Selatan, Jepang, China, Arab Saudi, Prancis, dan Australia.

Ketua Pelaksana GeoICON 2026 Dr Muhammad Aldila Syariz ST MS PhD menjelaskan bahwa pemilihan tema dilatarbelakangi oleh tingginya frekuensi bencana alam. Kondisi tersebut, sambung Aldila, mendorong kebutuhan pemanfaatan geospatial intelligence guna mendukung mitigasi bencana.
Tidak hanya itu, Aldilla menambahkan bahwa konferensi ini bertujuan untuk mengajak peneliti dan praktisi untuk membahas pengembangan sistem peringatan dini multibahaya yang lebih efektif. Dalam hal ini, pemanfaatan AI dan teknologi geospasial dapat menghasilkan informasi yang lebih cepat dan akurat sehingga dapat meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan saat menghadapi potensi bencana.

Aldilla turut menyampaikan bahwa konferensi yang mengusung tema Climate Resilience and Geospatial Intelligence for Multi-Hazard Early Warning Systems ini memiliki semangat untuk memperkuat climate resilience melalui geospatial intelligence. Pendekatan tersebut memungkinkan berbagai data spasial dan lingkungan diintegrasikan untuk menghasilkan analisis risiko bencana yang lebih komprehensif.
Senada dengan hal tersebut, Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dr Ardhasena Sopaheluwakan menyoroti pentingnya ketersediaan data geospasial yang akurat dan tepat waktu dalam pengambilan kebijakan. Ardhasena menilai, ketahanan iklim masa depan bergantung pada integrasi teknologi. “Integrasi tersebut yakni pengamatan satelit, pemantauan real-time, dan Sistem Informasi Geografis,” imbuhnya.

Menutup pemaparannya, Ardhasena menegaskan bahwa penguatan ketahanan iklim memerlukan kolaborasi berbagai pihak. Menurutnya, ekosistem geospasial yang terbuka dan saling terhubung dapat mempercepat lahirnya inovasi dalam meningkatkan kesiagaan menghadapi bermacam ancaman bencana. “Ketahanan iklim hanya dapat dibangun melalui kolaborasi yang kuat dengan memanfaatkan iptek,” tutupnya penuh harap.

Dalam rangkaian acara, ITS juga menandatangani nota kesepahaman dengan PT Cakra Pratamindo, Supermap GIS, dan OseanLand untuk kolaborasi bidang geospasial. Penyelenggaraan GeoICON 2026 menjadi wujud kontribusi ITS terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) ke-13 Penanganan Perubahan Iklim, poin ke-9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui pengembangan riset dan jejaring kolaborasi global. (*)
Reporter: Naurah Fitri
Redaktur: Mohammad Febryan Khamim