News

Singapore, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) has strengthened its global standing through a series of strategic engagements in Singapore and Batam, uniting alumni, industry leaders, and international partners to advance its 2021–2045 World Class University vision and foster impactful collaborations in innovation, talent development, and global competitiveness In pursuit of its 2021–2045 […]

Latest News
Andai saja pertandingan knock out Jerman versus Inggris di Piala Dunia–27 Juni 2010–kemarin  berlangsung sebelum saya berkesempatan mengunjungi Jerman, mungkin saya akan lebih berpihak ke kesebelasan Inggris. Maklum, setidaknya hal ini karena saya pernah studi doktoral di negara Ratu Elizabeth tersebut. Tapi, yang terjadi kemarin justru sebaliknya, saya lebih “memihak” kesebelasan Jerman daripada kesebelasan tiga singa itu. Pengalaman tinggal lebih dari tiga tahun di sana ternyata “dipatahkan” oleh kunjugan singkat saya yang hanya dua minggu saja di Jerman. Kok bisa?
Andai saat ini adalah tahun 60-an, saya dan teman-teman pasti akan mengenal secara langsung sosok mahasiswa yang selalu gelisah atas nama integritas itu. Sesosok inspirator yang tak hentinya menggugat atas nama kehormatan diri. Seorang aktivis pergerakan mahasiswa yang menurut istilah WS Rendra "berumah di awan". Ya, siapa lagi kalau bukan Soe Hok-Gie.
Saya sempat terkejut ketika beberapa hari lalu menerima sebuah pesan singkat dari seorang teman saya, juga seorang mahasiswa ITS, kira-kira bunyinya seperti ini: Teman, saya baru saja ke Universitas Trunojoyo. Asri banget ya.
Kuliah di kampus teknik itu banyak seni dan tantangannya. Tak hanya seni menghafalkan ribuan rumus dan berjuang untuk lulus tepat waktu. Lebih dari itu, bagi saya Engineering itu paduan dari sains, seni dan teknologi. Ada sebuah seni tersendiri ketika otak kiri harus beradu dengan otak kanan. Dan pertunjukkan seni itu akan nampak lebih memukau ketika anda menjadi pemeran seorang technopreneur.
Seorang lelaki berjalan tertatih memasuki gerbang istana. Wajahnya koyak, telinganya putus. Seseorang bersantai di dipan berlapis emas, segera berdiri sigap memperhatikan pria sempoyongan tadi dari kejauhan. Wajahnya memerah, tangannya mengepal, pitamnya meninggi. Nampaknya, akan ada pertumpahan besar di timur jauh. Begitu kiranya tekad seorang yang telah dipermalukan harga dirinya.
1...143144145146147...211
Trending

Kampus ITS, Opini — Indonesia patut berbangga dengan statusnya sebagai negara kepulauan. Alih-alih menjadi batasan, selat dan laut bukanlah pemisah antara satu pulau dengan yang lain. Lebih dari itu, dibalik terwujudnya negara kesatuan dengan wilayah laut yang luas ini, ada perjuangan diplomasi yang harus selalu diingat, yaitu Deklarasi Djuanda. Deklarasi Djuanda yang dilaksanakan pada 13 Desember […]

Kampus ITS, Opini – Peristiwa pemberontakan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) yang telah terjadi 56 tahun silam masih terus menjadi topik hangat di tengah masyarakat. Bagaimana tidak, baru 20 tahun setelah masyarakat Indonesia berjuang mati-matian, DN Aidit dan pengikutnya yang tergabung dalam PKI melakukan pemberontakan. Hal ini dilakukan untuk merubah ideologi Bangsa Indonesia, […]

Jelajahi Cerita Inspiratif ITS

Temukan inovasi, penelitian terkini, dan kisah sukses sivitas akademika ITS dalam setiap edisi majalah kami.

Latest Videos
×