Redefinisi Memori Urban: Menghidupkan Sumbu Filosofi Jogja Lewat Alkimia Biru Cyanotype

YOGYAKARTA – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi modern yang perlahan mengikis perhatian generasi muda terhadap kebudayaan lokal, sebuah langkah kreatif diinisiasi oleh akademisi dan praktisi seni. Sebanyak 20 peserta yang terdiri dari siswa SMA dan mahasiswa di Yogyakarta berkumpul di pelataran Museum Sandi untuk mengikuti lokakarya interaktif bertajuk “Redefinisi Memori Urban: Transformasi Sumbu Filosofi Yogyakarta melalui Kolase Cyanotype sebagai Elemen Interior Naratif”. Kegiatan edukatif yang berlangsung pada Sabtu, 23 Mei 2026 ini merupakan wujud nyata dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) yang diinisiasi oleh Laboratorium Estetika Interior, Departemen Desain Interior Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Dalam pelaksanaannya, tim ITS membangun kolaborasi apik bersama Museum Sandi dan kolektif seni Ruang Mes 56 untuk menghadirkan pengalaman belajar yang holistik.

Gagasan segar ini sejatinya telah mulai dirancang sejak awal Maret 2026. Program ini diketuai oleh dosen Laboratorium Estetika Interior ITS, Ajeng Kusumadewi Putri Jatmiko, S.Ds., M.Arch., dan didukung penuh oleh tim dosen yang beranggotakan Anggri Indraprasti, S.Sn., M.Ds., Aria Weny Anggraita, S.T., M.MT., Ir. Nanik Rachmaniyah, M.T., serta Dr. Firman Hawari, S.Sn., M.Ds. Tidak hanya melibatkan para pakar, sistem pelatihan ini juga digagas secara berkala melalui diskusi terbuka bersama para mahasiswa Desain Interior ITS yang terlibat aktif sebagai tim pelaksana lapangan, di antaranya Ni Luh Made Anindya Giovani, Achmad Rayssal Ramzi, Sri Nur Azizah, Moch. Hafid Raditya, Sherina Waqdy Alfiddah Mubaroq, dan Amalia Firda Az-Zahra.

Pemilihan tema Sumbu Filosofi Yogyakarta bukan tanpa alasan. Urgensi ini muncul karena masih banyak generasi muda yang belum memahami secara utuh rangkaian nilai simbolis Sangkan Paraning Dumadi yang membentang dari Panggung Krapyak, Kraton Yogyakarta, hingga Tugu Yogyakarta. Terlebih setelah UNESCO menetapkan kawasan bersejarah ini sebagai Warisan Dunia pada tahun 2023, masyarakat dituntut untuk memiliki kesadaran kritis dalam menjaga nilai-nilai universal tersebut. Alih-alih membiarkan sejarah kota hanya menjadi pengetahuan tekstual yang kaku di dalam buku pelajaran, program Abmas ITS ini menjembatani kesenjangan tersebut dengan mengajak peserta mentransformasikan nilai sejarah tata kota menjadi elemen dekoratif interior yang fungsional dan memiliki kedalaman cerita.

Medium yang digunakan untuk merespons ruang kota tersebut adalah Cyanotype, salah satu teknik cetak fotografi tertua di dunia yang ditemukan oleh Sir John Herschel pada tahun 1842. Teknik fotografi alternatif ini belakangan kembali populer dalam tren desain interior kontemporer karena karakteristik visualnya yang unik dan memiliki tekstur taktil yang kuat. Proses cetak analog ini memanfaatkan sensitivitas cahaya dari campuran bahan kimia khusus, yaitu ferric ammonium citrate dan potassium ferricyanide. Ketika formula peka cahaya ini terpapar oleh sinar matahari, akan terjadi reaksi fotokimia alami yang menghasilkan gradasi warna biru klasik yang khas dan menawan, yang dikenal secara global sebagai Prussian Blue.

Di bawah pendampingan intensif dari tim dosen ITS dan praktisi Ruang Mes 56, para peserta dipandu langsung melewati empat tahapan utama proses cetak kontak yang mengalir secara berkesinambungan. Proses kreatif diawali dengan fase pelapisan emulsi (coating), di mana peserta mengoleskan cairan kimia fotosensitif secara merata di atas permukaan kertas cat air atau kain serat alami dalam ruangan dengan pencahayaan redup agar tidak memicu reaksi dini. Setelah media mengering, peserta memasuki tahap penyusunan komposisi (composing) dengan menata aset visual bangunan bersejarah Sumbu Filosofi di atas media untuk menciptakan efek bayangan langsung.

Momen magis dan paling dinanti terjadi pada fase penyinaran (exposure), di mana lembaran kerja dibawa ke area terbuka pelataran Museum Sandi untuk dijemur di bawah terik matahari langsung. Sinar ultraviolet matahari seketika memicu perubahan warna pada area yang tidak tertutup objek menjadi biru gelap. Sebagai langkah pamungkas, peserta melakukan pembilasan (development) menggunakan air mengalir untuk membersihkan sisa emulsi kimia. Air tersebut secara permanen menghentikan reaksi kimia dan seketika memunculkan siluet putih murni yang kontras dan estetik di atas latar biru pekat.

Melalui hasil akhir berupa kolase Cyanotype yang memukau, artefak visual Sumbu Filosofi tidak lagi sekadar menjadi objek fisik kota yang statis, melainkan bertransformasi menjadi pengingat harian akan identitas budaya lokal yang terintegrasi secara harmonis di dalam tata ruang hunian modern sebagai elemen interior naratif. Melalui reportase kegiatan ini, diharapkan atensi generasi muda terhadap pelestarian situs warisan budaya dunia dapat terus meningkat melalui media visual yang kreatif dan aplikatif. Bagi publik yang tidak ingin ketinggalan informasi mengenai pengembangan program, pameran hasil karya, maupun lokakarya inovatif pelestarian budaya selanjutnya, seluruh pembaruan kegiatan dapat dipantau secara berkala melalui akun Instagram resmi @interioraesthetic.lab.

Ketua Pengabdian Masyarakat: Ajeng Kusumadewi Putri Jatmiko, S.Ds., M.Arch

Anggota Dosen: Anggri Indraprasti, S.Sn., M.Ds., Aria Weny Anggraita, S.T., M.MT., Ir. Nanik Rachmaniyah, M.T., dan Dr. Firman Hawari, S.Sn., M.Ds..

Anggota Mahasiswa: Ni Luh Made Anindya Giovani, Achmad Rayssal Ramzi, Sri Nur Azizah, Moch. Hafid Raditya, Sherina Waqdy Alfiddah Mubaroq, dan Amalia Firda Az-Zahra.

Laboratorium: Lab. Estetika Interior