Suasana pembelajaran Bahasa Jerman, salah satu kursus bahasa asing yang tersedia di Unit Pusat Bahasa Global ITS (Sumber: Dokumentasi UPBG ITS)
Kampus ITS, GLC News — Bagi mahasiswa, kemampuan berbahasa asing dapat menjadi bekal untuk mendukung proses akademik sekaligus membuka kesempatan pengembangan diri. Namun, akses terhadap pembelajaran bahasa tambahan tidak selalu mudah dijangkau oleh setiap mahasiswa. Melalui Beasiswa IKOMA EMAS+ yang disediakan oleh Ikatan Orang Tua Mahasiswa (IKOMA) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) jenjang sarjana (S1) dan sarjana terapan (D4) dapat memperoleh dukungan untuk mengikuti pembelajaran bahasa.
Mahasiswa akan mendapatkan subsidi biaya kursus di Unit Pusat Bahasa Global (UPBG) dengan besaran yang disesuaikan berdasarkan jalur masuk. Mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) memperoleh subsidi 100 persen, sedangkan mahasiswa jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) memperoleh subsidi 50 persen. Sementara itu, mahasiswa jalur Mandiri memperoleh subsidi sebesar 25 persen dari biaya kursus reguler sebesar Rp650.000,00.
Dukungan tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memilih pembelajaran sesuai kebutuhan. Program kursus yang tersedia meliputi General English Conventional secara luring maupun daring, General English melalui aplikasi (Neo Study), serta sejumlah bahasa asing lain, seperti Jepang, Jerman, Korea, Mandarin, dan Arab.
“Tujuan utama Beasiswa IKOMA EMAS+ adalah memberikan subsidi biaya kursus, baik bahasa Inggris maupun bahasa asing lainnya, bagi mahasiswa ITS. Beasiswa ini diberikan kepada seluruh mahasiswa ITS dengan syarat dan ketentuan yang berlaku,” ujar Ibu Anik Amaliyah SPd.
Dengan kuota lebih dari 800 mahasiswa setiap tahun, Beasiswa IKOMA EMAS+ dirancang untuk memperluas kesempatan mahasiswa ITS dalam memperoleh pembelajaran bahasa. Mahasiswa yang telah mengikuti program juga dapat kembali mendaftarkan diri pada program beasiswa yang sama setelah empat bulan sejak tanggal pendaftaran sebelumnya dengan mengikuti prosedur yang berlaku.
Kemudahan akses tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap pemerataan kesempatan belajar di lingkungan ITS. Melalui subsidi biaya kursus, mahasiswa dari berbagai jalur penerimaan memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan bahasa tanpa harus menanggung biaya kursus secara penuh.
Program ini juga memperlihatkan bahwa dukungan terhadap pendidikan tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran di ruang kuliah. Kesempatan untuk memperoleh keterampilan tambahan dapat menjadi bagian dari upaya membangun kapasitas mahasiswa secara lebih menyeluruh, sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi kebutuhan akademik dan profesional yang terus berkembang.
Ibu Anik berharap mahasiswa ITS dapat memanfaatkan kesempatan yang telah diberikan oleh IKOMA ITS dengan baik. “Saya berharap Beasiswa IKOMA EMAS+ dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh mahasiswa ITS. Penguasaan bahasa asing sangat penting di era global. Dengan memanfaatkan beasiswa ini, mahasiswa dapat belajar dengan maksimal, tidak hanya sekadar mengejar target untuk syarat kelulusan, tetapi juga meningkatkan kompetensi bahasa dengan lebih baik,” pungkasnya.
Keberadaan Beasiswa IKOMA EMAS+ selaras dengan Sustainable Development Goal (SDG) 4 tentang Pendidikan Bermutu, khususnya dalam memperluas akses kepada pendidikan. Di sisi lain, subsidi yang diberikan berdasarkan kondisi dan jalur penerimaan mahasiswa turut mendukung tercapainya SDG 10 tentang Mengurangi Ketimpangan, terutama melalui upaya mendorong kesetaraan kesempatan dan inklusi sosial. (*)
Disusun oleh: Alzena Mayla ShabrinaRedaktur: Unit Pusat Bahasa Global, ITS
Kampus ITS, GLC News — Bagi mahasiswa, kemampuan berbahasa asing dapat menjadi bekal untuk mendukung proses akademik sekaligus membuka
Kampus ITS, GLC News — Unit Pusat Bahasa Global (UPBG) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menyelenggarakan English as the
Kampus ITS, GLC News — Unit Pusat Bahasa Global (UPBG) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menyelenggarakan Tes English as
Kampus ITS, GLC News — Di tengah meningkatnya tuntutan publikasi ilmiah di tingkat nasional maupun internasional, kemampuan menulis akademik