
Gambar : Tim Sidoarjo Hebat ITS saat menerima penghargaan Juara 1 UI/UX National Competition Prog{r}amming 8.2.
Surabaya, FTEIC ITS – Tumpukan pakaian yang jarang digunakan sering kali berakhir menjadi limbah tekstil yang terus meningkat setiap tahunnya. Berangkat dari permasalahan tersebut, lima mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan Clovear, sebuah inovasi digital berbasis circular fashion yang berhasil mengantarkan mereka meraih Juara 1 pada UI/UX National Competition dalam ajang Prog{r}amming 8.2 yang diselenggarakan oleh Universitas Prasetiya Mulya.
Prestasi tersebut diraih oleh Tim Sidoarjo Hebat yang terdiri atas Joycelyn Emmanuella Passandaran dari Teknik Komputer, Diva Nesia Putri dari Sistem Informasi, Imelda Alexis Jovita dan Siti Zahra Ananda Kurniawan dari Teknik Informatika, serta Dita Aulya Septiani dari Desain Komunikasi Visual. Perpaduan kompetensi di bidang teknologi, desain, dan analisis kebutuhan pengguna menjadi modal utama tim dalam mengembangkan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga memiliki dampak sosial dan lingkungan yang nyata.
Menariknya, hubungan para anggota tim telah terjalin sejak masa sekolah. Kedekatan tersebut menjadi fondasi yang memperkuat kerja sama mereka selama mengikuti kompetisi. Berbekal ketertarikan yang sama pada bidang UI/UX, mereka memutuskan untuk berkolaborasi dan menjawab tantangan yang diangkat dalam kompetisi tingkat nasional tersebut.
Kompetisi UI/UX National Competition Prog{r}amming 8.2 tahun ini mengusung tema Save the Earth: Revolution through Technology, Maintaining Sustainability. Melalui tema tersebut, peserta ditantang untuk merancang solusi digital yang mampu memberikan dampak positif terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan. Dari berbagai subtema yang tersedia, Tim Sidoarjo Hebat memilih fokus pada Sustainable Digital Marketplace dengan mengintegrasikan aspek Community and Social Impact melalui sebuah inovasi yang berfokus pada industri fesyen berkelanjutan.
Ide tersebut kemudian diwujudkan dalam sebuah aplikasi bernama Clovear. Aplikasi mobile ini memungkinkan pengguna untuk bertukar pakaian bekas yang masih layak pakai dengan pengguna lain. Selain itu, Clovear juga menghadirkan sistem swipe and match yang membantu pengguna menemukan gaya berpakaian baru tanpa harus membeli pakaian baru. Melalui konsep circular fashion, aplikasi ini diharapkan mampu mengurangi limbah tekstil sekaligus mendorong pemanfaatan kembali pakaian yang masih memiliki nilai guna.

Gambar : Tim Sidoarjo Hebat ITS saat mengikuti rangkaian UI/UX National Competition Prog{r}amming 8.2.
Gagasan Clovear lahir dari permasalahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak orang memiliki pakaian yang menumpuk di lemari, namun tetap terdorong untuk membeli produk baru demi mengikuti tren yang terus berubah. Kondisi tersebut pada akhirnya berkontribusi terhadap meningkatnya limbah dari industri fesyen.
Untuk memastikan solusi yang dikembangkan benar-benar relevan dengan kebutuhan pengguna, tim menerapkan pendekatan Design Thinking dalam proses pengembangannya. Melalui wawancara, studi literatur, dan pengujian prototipe, tim berupaya memahami kebutuhan pengguna sekaligus menyusun solusi yang efektif dan mudah digunakan.
“Proses kerja tim kami mengikuti lima tahap Design Thinking dari Stanford (d.school), mulai dari empathize hingga testing,” jelas Zahra.
Dalam proses pengerjaannya, tim juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu yang terbesar adalah minimnya referensi mengenai platform pertukaran pakaian bekas yang tidak melibatkan transaksi jual beli. Kondisi tersebut mendorong tim untuk melakukan eksplorasi lebih dalam guna menemukan pendekatan yang tepat sekaligus menawarkan nilai kebaruan.
Keberhasilan Clovear meraih posisi tertinggi tidak lepas dari keberanian tim mengangkat isu yang masih jarang dibahas dalam kompetisi inovasi digital. Di tengah banyaknya solusi bertema lingkungan yang cenderung serupa, Clovear hadir dengan fokus pada dampak fast fashion yang hingga kini masih menjadi persoalan yang kurang mendapat perhatian di Indonesia.
Menurut Joycelyn, salah satu keunggulan utama Clovear terletak pada keberaniannya menghadirkan inovasi lingkungan yang berbeda dari kebanyakan solusi yang ada.
“Aspek yang menjadi kekuatan utama dari solusi kami adalah inovasi mengenai lingkungan yang tidak terpaku pada tema yang mainstream.” tutur Joycelyn mengenai kekuatan utama solusi yang mereka kembangkan.
Saat ini, Clovear masih berada pada tahap konsep dan prototipe yang dikembangkan untuk kebutuhan kompetisi. Meski demikian, tim membuka peluang untuk mengembangkan solusi tersebut lebih lanjut apabila terdapat kesempatan implementasi di masa depan. Dengan potensi yang dimiliki, Clovear diharapkan dapat menjadi salah satu solusi digital yang berkontribusi dalam mengurangi limbah tekstil sekaligus mendorong terciptanya budaya fesyen yang lebih berkelanjutan.
Melalui prestasi ini, Tim Sidoarjo Hebat berharap semakin banyak mahasiswa yang berani mengembangkan inovasi dari permasalahan sederhana yang ditemui di sekitar mereka.
“Ide dan inovasi tidak harus selalu tentang masalah yang besar. Observe our surroundings, berinovasilah untuk permasalahan lingkungan di kehidupan sehari-hari,” pungkas Joycelyn.