News

Ocean Engineering Webinar Series #2

Fri, 24 Jul 2020
7:06 AM
News
Share :
Oleh : Admin-Teknik Kelautan   |

Ocean Engineering Webinar Series #2 merupakan webinar kedua yang diselenggarakan oleh Departemen Teknik Kelautan. Webinar Series kedua ini mengangkat materi mengenai Reeving System dan manfaatnya, Seri Keselamatan Operasi Pengangkatan. Webinar yang dilaksanakan pada hari Rabu, 15 Juli 2020 diselenggarakan secara daring melalui ZOOM dan disiarkan juga di kanal YouTube TeknikKelautanITS TV.

Acara dimulai pukul 10.00 WIB oleh moderator dengan menjelaskan tata tertib selama berlangsungnya webinar. Kemudian acara dilanjutkan dengan sambutan dari Herman Pratikno S.T., M.T., Ph.D. selaku Kepala Departemen Teknik Kelautan FTK ITS dan Prof. Soegiono. Narasumber webinar kali ini yaitu bapak Ir. Sugeng Riyono yang juga merupakan alumni Teknik Kelautan ITS angkatan pertama tahun 1983.

Sambutan dari Herman Pratikno S.T., M.T., Ph.D. selaku Kepala Departemen Teknik Kelautan FTK ITS

Sebelum memasuki materi, Sugeng Riyono menyampaikan harapannya setelah melaksanakan webinar ini agar kedepannya agar lebih banyak yang mengenal reeving system agar bisa lebih mengapresiasi lifting operation safety, sehingga kedepannya lebih banyak lagi orang yang menekuni bidang ini agar terlahir orang-orang yang lebih ahli, lebih berkompeten dan lebih peduli untuk praktik yang lebih aman. Materi webinar dilanjutkan dengan pengertian dan istilah yang biasa digunakan dalam reeving system.  Setelah pengenalan istilah-istilahnya, materi dilanjutkan dengan perhitungan partlines pada crane. Beliau mengatakan bahwasanya semakin banyak jumlah reeving, semakin kritikal juga perawatan untuk reeving.

Ir. Sugeng Riyono alumni Teknik Kelautan ITS angkatan pertama tahun 1983

Lead Line Pull (LLP) atau Tegangan Tali Tunggal merupakan beban tarik yang harus mampu ditahan oleh wire rope dan winch. LLP perbandingan antara Load (W) dengan Mechanical Advantage (MA). Idealnya Mechanical Advantage sama dengan N, namun karena adanya kehilangan energi akibat koefisien gesek maka ada energi efisiensi yang disebut dengan Efficiency Rigging System (ERS). Dijelaskan bagaimana pelumas dapat sangat mempengaruhi nilai dari koefisien bearing yang mana akan mempengaruhi Mechanical Advantage (MA). Saat koefisien bearing ini semakin tinggi Mechanical Advantage (MA) semakin menurun. “Semakin banyak reeving atau partlinesnya, maka lubrikasi pada crane ini akan semakin critical.” Jelasnya. Dari persamaan yang beliau jelaskan tadi dapat diterapkan untuk mengatahui spesifikasi LLP minimum dari winch load-line dan boom-line, beban maksimum crane, berapa partlines (N) dan pulley (S) minimum, bisa memahami Load Table Crane. Beliau juga memberikan latihan soal dan pembahasan mengenai latihan soalnya agar peserta webinar lebih paham bagaimana penerapan materi yang diberikan.

Seperti pada API Spec. 2C mengenai Offshore Pedestal Mounted Crane, setiap pulley harus memiliki jalur lubrikasi sendiri tidak boleh bersama-sama. Jadwal lubrikasi yang sesuai dengan rekomendasi dari API RP 2D mengenai Operation and Maintenance of Offshore Cranes untuk block & seaves tipe Bronze Bushing dengan Continuous Operation perlu dilakukan lubrikasi setiap 8 jam dan Intermittent Operation (penggunaan yang jarang atau intermediate) setiap 14 hari. Sedangkan untuk tipe Roller Bearing dengan Continuous Operation lubrikasi setiap 24 jam atau sehari sekali dan Intermittent Operation dilakukan setiap 14 hari sama seperti pada tipe Bronze Bushing.

Beberapa catatan yang diberikan oleh Ir. Sugeng Riyono di antaranya panjang wire rope dan boom spesifik per crane, partlines tergantung dari panjang wire rope (semakin banyak partlines semakin panjang wire rope), running rope (wire yang melewati pulley) lebih cepat rusak. Untuk memperbaiki wire rope yang rusak biasanya ujung yang rusak dipotong yang mana menyebabkan partline menjadi lebih sedikit. Biasanya fokus evaluasi partline lebih terfokus ke load-line. Adanya potensi kontak antara 2 block merupakan kondisi yang berbahaya karena block bisa saja pecah. Terdapat bagian crane yang sulit terjangkau sehingga cukup menyulitkan saat maintenance. Paparan cuaca pada saat panas menyebabkan pulley akan mudah kering, dan sebaliknya pada saat hujan ada potensi water trap dan juga karat. Wire rope atau pulley yang sudah beroprasi cukup lama biasanya mengalami aus. LLP tinggi harus memperhatikan agar talinya terbebas dari gesekan-gesekan.

Di akhir materi yang diberikan, Ir. Sugeng Riyono mengungkapkan bagaimana kedepannya pendalaman, perbaikan dan inovasi apa yang harus diterapkan. Hal-hal yang disorot disini diantaranya mengenai safe access, sistem lubrikasi pulley existing, jalur air pencegah water trap, bushing material yang lebih bebas perawatan, dan A2B (Anti to Block) yang lebih handal.

Antusiasme peserta terlihat pada sesi tanya jawab yang dilaksanakan di akhir webinar terdapat 2 termin dengan 5 pertanyaan. Webinar ini berakhir pada pukul 12.00 WIB. Untuk lebih lengkapnya Webinar ini dapat di saksikan kembali di kanal YouTube TeknikKelautanITS TV. (shd)

Latest News

  • Bantu Penanggulangan Covid-19, Mahasiswa DTK ITS Salurkan Sembako dan Menyemprotkan Disinfektan di Desa Jatigedong, Kabupaten Jombang

      JOMBANG – DTK ITS:  Mahasiswa Departemen Teknik Kelautan, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) yang

    01 Aug 2020
  • Ocean Engineering Webinar Series #2

    Ocean Engineering Webinar Series #2 merupakan webinar kedua yang diselenggarakan oleh Departemen Teknik Kelautan. Webinar Series kedua ini mengangkat

    24 Jul 2020
  • Ocean Engineering webinar series

    Pada hari Rabu 1 Juli 2020, Departemen Teknik Kelautan Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember telah menyelenggarakan acara

    07 Jul 2020