News

Kembali Ke Rumah

Sel, 24 Mar 2020
6:35 AM
Opini
Share :
Oleh : Admin-Teknik Kelautan   |

Kembali Ke Rumah
Oleh Prof. Ir. Daniel M. Rosyid, Ph.D – YPTDI

 

 

Cukup lama sebelum pandemi Covid19 menyebabkan banyak kegiatan harus dilakukan di rumah, Mendikbud Nadiem Makarim sudah meluncurkan kebijakan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka. Intinya satu : kegiatan di sekolah dan di kampus harus dikurangi, sedangkan interaksi dengan masyarakat ditingkatkan. Resep ini lebih sesuai dengan wasiyat lama Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan itu bertumpu pada 3 pilar : keluarga, masyarakat, dan baru perguruan. Merdeka belajar pada dasarnya adalah merdeka dari kungkungan dan monopoli persekolahan.

Saat pandemi Covid19 makin merajalela, kebijakan social distancing memaksa hampir semua kegiatan belajar dilakukan di rumah dan atau secara daring dengan menggunakan internet. Bagi saya, pandemi ini telah memaksa Sisdiknas lebih patuh pada wasiyat Ki Hadjar Dewantara dan lebih compliant pada prinsip-prinsip UU Sisdiknas yang telah lama dibengkokkan oleh persekolahan sebagai industri dan instrumen teknokratik penyiapan buruh trampil.

Sayang banyak orangtua dan masyarakat tidak memahami peluang besar yang dibawa oleh pandemi Covid19 ini. Cara berpikir lama yang keliru bahwa belajar itu harus di sekolah atau di kampus masih banyak menguasai kesadaran masyarakat. Belajar di rumah seolah harus memindahkan kegiatan di sekolah ke rumah. Persis seperti Pekerjaan Rumah. Padahal, belajar di rumah membuka kesempatan emas bagi warga muda untuk mempelajari banyak hal yang jauh lebih penting dan bermakna daripada yang bisa dipelajari di sekolah.

Pengalaman adalah guru terbaik, bukan guru profesional bersertifikat. Generasi baby boomers yang hidup pasca perang memiliki karakter yang berbeda dengan generasi milenial yang hidup dalam era keberlimpahan. Anak-anak Palestina di jalur Gaza tumbuh sebagai anak-anak pemberani karena hidup dalam desingan peluru dan ledakan mortir. Membangun perilaku dan akhlaq terpuji hanya bisa dilakukan dalam masyarakat dengan resiko nyata. Sekolah sebagai lingkungan buatan yang relatif aman tidak bisa memberi pengalaman dengan resiko nyata.

Keluarga saat ini dianggap tidak kompeten menyelenggarakan pembelajaran ala sekolah. Memang keliru jika kita meminta orangtua di rumah untuk mengajarkan pembelajaran ala sekolah. Keluarga memiliki tugas lain : memberi pengalaman adab dan akhlaq yang penting melalui teladan adab dan akhlaq orangtua : keberanian berkorban, kejujuran, kesetiaan, kepedulian dan tanggungjawab. Tugas mendidik keluarga ini penting justru untuk menguatkan keluarga. Mengambil alih tugas itu oleh sekolah tidak saja tidak mungkin, tapi juga merusak keluarga sebagai satuan pendidikan yang sah. Kita tidak mungkin membangun masyarakat di atas puing-puing keluarga.

Keluargalah yang menyiapkan sarapan beragam. Masyarakatlah yang menyiapkan makan malam beraneka ragam. Sekolah hanya menyediakan makan siang seragam. Bahkan selama puasa, kita tidak perlu makan siang. Jadi, pandemi Covid19 ini membuka kesempatan emas kita untuk memperbaiki kinerja Sistem Pendidikan Nasional kita yang selama ini terlalu dimonopoli oleh persekolahan. Sekarang tiba saatnya tugas-tugas mendidik warga muda dikembalikan pada keluarga di rumah dan di masyarakat.

Gunung Anyar, 23/3/2020

Latest News

  • Raden Ajeng KARTINI (21 April 1879-21 April 2024) Keteladanan akan Kesalehan dan kepedulian Sosial dalam Pengurangan Risiko Bencana

    Raden Ajeng KARTINI (21 April 1879-21 April 2024) Keteladanan akan Kesalehan dan kepedulian Sosial dalam Pengurangan Risiko Bencana Oleh

    26 Apr 2024
  • Puasa Satu Teknologi Pertahanan

    Puasa Satu Teknologi Pertahanan Oleh Prof. Daniel Mohammad Rosyid, Ph.D Latar Belakang Shaum yang sering diterjemahkan sebagai puasa adalah

    05 Apr 2023
  • Maritiming Indonesia

    Maritiming Indonesia Oleh Prof. Ir. Daniel M. Rosyid, Ph.D @Rosyid College of Arts Dalam artikel opininya di Harian Kompas

    12 Jan 2023