News

5 Trade-offs Divisi Produksi dan Sales Ngga Pernah Akur? Ini Alasannya

Jum, 27 Mar 2026
10:35 pm
MANSYS Insight
Share :
Oleh : bagus.n@its.ac.id   |

Hi Sismanity!

Tahu ngga kenapa sering muncul candaan “produksi bilang tekan, sales bilang jual ke mana”? Karena di balik candaan itu ada trade-off sistemik yang nyata. Yuk kita bongkar.

Source: https://ollozaqr.elementor.cloud/sales-and-production-connection/

 

Konflik antara produksi dan fungsi lain, terutama supply chain dan sales, sering muncul karena pilihan desain sistem memaksa trade-off. Berikut lima trade-off utama yang sering menimbulkan “ketidak-akuran” antara produksi dan supply chain, plus analisis bagaimana Lab Sistem Manufaktur dapat mengkuantifikasi dan mengajarkannya.

1. Inventory level vs Service level

Produksi cenderung prefer stabilitas lini dan batch besar untuk efisiensi; sales menuntut ketersediaan produk tinggi. Menyimpan inventory tinggi meningkatkan service level tetapi menaikkan holding cost dan risiko obsolescence. Di lab, eksperimen simulasikan policy reorder dan batch size pada model kecil, ukur trade-off fill rate vs inventory cost [1].

2. Speed (throughput) vs Cost

Mempercepat throughput sering memerlukan overtime, faster machines, atau buffer. Itu naikkan biaya. Sales ingin lead time pendek; produksi ingin efisiensi biaya. Di lab, lakukan studi takt time dan line balancing, hitung biaya per unit pada beberapa skenario throughput untuk menunjukkan ambang optimal operasi [2].

3. Centralize vs Decentralize production (cost vs responsiveness)

Sentralisasi produksi menurunkan unit cost lewat skala, tetapi menambah lead time dan risiko rantai pasok; desentralisasi meningkatkan responsiveness tapi menaikkan biaya. Lab bisa menggunakan digital twin untuk mensimulasikan jaringan pabrik dengan parameter lokasi, lead time, dan biaya transport, lalu analisis total landed cost vs service level [3].

4. Quality control strictness vs Throughput

Pemeriksaan kualitas ketat menurunkan defect tetapi memperlambat produksi. Sales ingin cepat, tapi produksi harus menjaga kualitas dan menghindari recalls. Di laboratorium, jalankan eksperimen trade-off inspection intensity vs throughput, catat reject rate, rework time, dan total cost of quality.

5. Flexibility vs Efficiency

Produksi highly standardized sangat efisien, tetapi sales yang menghadapi variasi permintaan membutuhkan fleksibilitas produk/line. Menambah fleksibilitas (changeover cepat, modular tooling) sering menaikkan cost atau menurunkan peak efficiency. Di lab, uji SMED-like (single minute exchange of die) pada cell kecil untuk kuantifikasi time-to-changeover dan dampaknya pada throughput dan cost [4].

Bagaimana Lab Sistem Manufaktur dapat membantu menyelesaikan “ngga akur” ini?

  1. Bangun modul simulasi kebijakan inventory dan batch size agar mahasiswa dapat memvisualisasikan dampak policy pada service level dan biaya.
  2. Implementasikan digital twin untuk network design experiments: ubah lokasi pabrik, lead time, dan biaya transport untuk melihat pengaruhnya terhadap total cost dan responsiveness.
  3. Pakai eksperimen praktis SMED dan line balancing untuk menunjukkan empiris trade-off flexibility vs efficiency.
  4. Gunakan metrik terpadu (OEE + Days of Inventory + Fill Rate + Cost of Quality) dalam dashboard untuk memudahkan keputusan cross-functional.

Konflik antara produksi dan sales sering bukan soal siapa salah, tetapi soal pilihan arsitektur sistem dan prioritas KPI. Laboratorium Sistem Manufaktur dapat menjadi ruang aman untuk menguji kebijakan, mengukur trade-off, dan melatih mahasiswa menjadi mediator yang mengerti kompromi teknis dan bisnis. Dengan data dan simulasi, “ketidak-akuran” bisa diubah menjadi diskusi produktif untuk solusi sistemik.

Referensi

[1] M. Christopher, “The Triple-A Supply Chain,” Harvard Business Review, Oct. 2004, https://hbr.org/2004/10/the-triple-a-supply-chain.

[2] McKinsey & Company, “Capturing the true value of Industry 4.0,” https://www.mckinsey.com/capabilities/operations/our-insights/capturing-the-true-value-of-industry-four-point-zero.

[3] L. Alfaro et al., “Global Supply Chains: The Looming ‘Great Reallocation’,” Harvard Business School, 2023, https://www.hbs.edu/.

[4] Gartner, “Supply Chain Management overview,” https://www.gartner.com/en/supply-chain.

 

Penulis: Mohammad Hilmi Hidayatullah

Penyunting: Brian Arga Prasidio Putra

 

Cek berita selengkapnya di sosial media kami:

– Website: https://www.its.ac.id/tindustri/laboratorium-sistem-manufaktur/
– Instagram: @sismanity
– Linkedin: https://www.linkedin.com/company/manufacturing-systems-laboratory-dtsi-its/
– Youtube: SISMANITY ITS

Latest News

  • Mengapa Perusahaan Berani Memberikan Garansi? Pelajari Ilmu di Baliknya

    Hi Sismanity! 👋        Saat membeli smartphone, laptop, atau mesin cuci, kita hampir selalu menemukan label garansi,

    28 Jul 2026
  • Kenapa Barang Buatan Cina Sering Kali Lebih Murah?

    Hi Sismanity! 👋        Pernahkah kamu menemukan dua produk yang bentuk dan fungsinya hampir sama, tetapi harganya

    24 Jul 2026
  • Apa Itu Muda? 7 Pemborosan yang Diam-Diam Membuat Perusahaan Rugi

    Hi Sismanity! 👋        Pernah merasa waktu habis hanya karena harus bolak-balik mencari barang yang lupa dibawa?

    24 Jul 2026