
FT-IRS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali mengukuhkan tiga profesor dari Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem (FTIRS) dalam Upacara Pengukuhan Profesor yang disiarkan secara langsung melalui ITS TV pada Kamis (9/7/2026) di Auditorium Research Center lantai 11, Kampus ITS Surabaya. Ketiga profesor tersebut menghadirkan berbagai inovasi di bidang kecerdasan buatan, material komposit, dan teknologi aerosol yang diharapkan mampu menjawab tantangan pendidikan, industri, serta lingkungan secara berkelanjutan.
Adapun tiga profesor yang dikukuhkan ialah Prof. Dr. Ir. Syamsul Arifin, M.T. dari Departemen Teknik Fisika dalam bidang kepakaran Pemodelan Sistem Kecerdasan Buatan, Prof. Dr. Eng. Hosta Ardhyananta, S.T., M.Sc. dari Departemen Teknik Material dan Metalurgi dalam bidang kepakaran Teknik Material Komposit Polimer, serta Prof. Dr. Eng. Kusdianto, S.T., M.Sc.Eng. dari Departemen Teknik Kimia dalam bidang kepakaran Sintesa Partikel dan Teknologi Aerosol.
Dalam orasi ilmiahnya bertajuk “Peran Pemodelan Kecerdasan Buatan dalam Mendorong Inovasi dan Transformasi Pendidikan Tinggi di Indonesia“, Prof. Syamsul Arifin menyoroti pentingnya penerapan Artificial Intelligence (AI) dalam sistem pendidikan tinggi. Menurutnya, pesatnya perkembangan AI perlu diimbangi dengan transformasi proses pembelajaran agar perguruan tinggi mampu menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja dan perkembangan teknologi.
Untuk mendukung transformasi tersebut, Prof. Syamsul mengembangkan konsep System Modeling Based on Artificial Intelligence (SIMBA-AI) yang dipadukan dengan kerangka Conceive, Design, Implement, Operate (CDIO) sebagai pendekatan pembelajaran berbasis proyek. Konsep ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa, khususnya pada bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), melalui pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan.
Implementasi konsep tersebut diwujudkan melalui pengembangan B-Weather (Buoy Weather), stasiun cuaca terapung berbasis AI yang mampu menyajikan data cuaca maritim secara real-time. Teknologi ini diharapkan dapat mendukung keselamatan pelayaran sekaligus membantu nelayan menentukan lokasi penangkapan ikan yang lebih akurat. Selain itu, ia juga mengembangkan ekosistem mobile learning yang memungkinkan mahasiswa belajar secara fleksibel sekaligus memantau perkembangan kompetensinya secara berkelanjutan.
Pada bidang rekayasa material, Prof. Hosta Ardhyananta mengangkat pentingnya pengembangan material komposit polimer untuk mendukung kemajuan teknologi dan memperkuat kemandirian industri nasional. Menurutnya, material komposit memiliki keunggulan karena mampu menggabungkan berbagai karakteristik material sehingga menghasilkan produk yang lebih ringan, kuat, dan efisien dibandingkan material konvensional.
Melalui penelitiannya, Prof. Hosta mengembangkan hybrid synthetic foam composite, yaitu material komposit yang tersusun dari resin epoksi, mikrobalon silika, mikroselulosa, serta berbagai aditif kimia. Material tersebut memiliki densitas rendah dengan kekuatan mekanik tinggi sehingga berpotensi diterapkan pada industri kedirgantaraan, kendaraan, drone, hingga berbagai komponen industri modern yang membutuhkan efisiensi energi serta performa tinggi.
Sementara itu, Prof. Kusdianto dalam orasi ilmiahnya menjelaskan pengembangan teknologi sintesis partikel dan material komposit berbasis nanoteknologi sebagai solusi pengolahan limbah di Indonesia. Ia mengembangkan material fotokatalis berbasis zinc oxide (ZnO) dan titanium dioxide (TiO₂) yang dipadukan dengan logam mulia untuk meningkatkan efektivitas degradasi limbah melalui pemanfaatan energi cahaya.
Selain mengembangkan material fotokatalis, Prof. Kusdianto juga menerapkan berbagai metode sintesis, seperti plasma-enhanced chemical vapor deposition (PECVD), physical vapor deposition (PVD), flame spray pyrolysis, dan spray pyrolysis. Tidak hanya itu, ia mengembangkan konsep green synthesis dengan memanfaatkan ekstrak daun jati dan limbah biomassa sebagai bahan baku nanokomposit yang lebih ramah lingkungan. Berbagai inovasi tersebut berpotensi diterapkan sebagai material antibakteri, pengolah limbah industri, hingga penyerap gas pada sektor energi.
Melalui ketiga orasi ilmiah tersebut, FTIRS ITS kembali menunjukkan kontribusinya dalam menghasilkan riset yang mampu menjawab tantangan masyarakat melalui pendekatan multidisiplin. Inovasi di bidang kecerdasan buatan, material komposit, dan teknologi aerosol tidak hanya memperkuat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga membuka peluang penerapan teknologi yang lebih adaptif, efisien, dan berkelanjutan di berbagai sektor.
Pengukuhan tiga profesor ini sekaligus mempertegas komitmen ITS dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui penguatan riset dan inovasi. Berbagai hasil penelitian yang dipaparkan sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui transformasi pembelajaran berbasis AI, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan material maju dan teknologi rekayasa, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui inovasi pengolahan limbah berbasis nanoteknologi, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui pengembangan teknologi yang mendukung efisiensi sumber daya dan keberlanjutan lingkungan.
Reporter: Atikah, Redaktur: Muchus