Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem

PSEID 2026 Perkuat Sinergi Akademisi dan Industri Menuju Industri Hijau

Published on
By

FT-IRS News — Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem (FTIRS) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menyelenggarakan Process System Engineering Indonesia Conference (PSEID) 2026 di Tower 2 ITS, Surabaya, pada 24–25 Juni 2026. Mengusung tema Advancing Sustainable Green Industry for National Resilience: The Strategic Role of Process Engineering, konferensi ini menjadi wadah kolaborasi akademisi, industri, pemerintah, dan organisasi profesi dalam mendorong inovasi rekayasa sistem proses guna mewujudkan industri hijau yang berkelanjutan.

Memasuki penyelenggaraan tahun kedua sejak pertama kali digelar pada 2025, PSEID 2026 diikuti oleh 150 presenter yang terdiri atas 75 akademisi dan 75 praktisi industri. Komposisi tersebut mencerminkan komitmen penyelenggara dalam memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri melalui pertukaran gagasan, hasil riset, serta pengalaman implementasi di lapangan.

Ketua Panitia PSEID 2026, Dr. Rendra Panca Anugraha, S.T., menyampaikan bahwa konferensi ini dirancang sebagai ruang kolaborasi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk menghasilkan solusi yang dapat diterapkan secara nyata.

“Harapannya PSEID menjadi wadah bagi akademisi maupun industri untuk saling berkolaborasi, berdiskusi, serta membagikan hasil riset dan inovasi. Dengan demikian, solusi yang telah berhasil diterapkan di suatu tempat dapat menjadi inspirasi bagi institusi lain yang menghadapi tantangan serupa,” tuturnya.

Selain menghadirkan pemakalah dari berbagai perguruan tinggi dan perusahaan, PSEID 2026 juga mengundang para pakar dari pemerintah, akademisi, dan industri sebagai keynote speaker. Pada hari pertama, Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian RI Dr. Ir. Taufik Bawazier, M.Si., memaparkan arah pengembangan industri kimia nasional yang berkelanjutan. Paparan tersebut dilengkapi dengan perspektif akademik dari Prof. Ir. Muslikhin. Hidayat, S.T., M.T., PD., IPU dari Universitas Gadjah Mada (UGM) serta pengalaman implementasi di sektor industri yang disampaikan oleh perwakilan PT Pertamina Patra Niaga.

Sementara itu, pada hari kedua, konferensi menghadirkan Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) RI Dr. Satya Widya Yudha M.Sc., PhD., yang membahas strategi penguatan ketahanan energi nasional melalui transisi menuju energi berkelanjutan. Turut hadir pula Prof. Ir. Juwari, S.T., M.Eng., PhD. , IPM., Dekan Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem (FTIRS) ITS sekaligus Ketua Komite Ilmiah PSEID 2026, yang memaparkan perkembangan riset rekayasa sistem proses di ITS. Perspektif industri juga disampaikan oleh perwakilan PT Pupuk Indonesia mengenai penerapan inovasi rekayasa proses dalam meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan sektor industri pupuk.

Konferensi ini mengangkat berbagai topik strategis yang relevan dengan perkembangan industri modern, di antaranya process dynamics and control, product and process design, supply chain management, process safety and operations, artificial intelligence and big data in process system engineering, molecular system engineering, process modelling, hingga thermodynamics. Ragam topik tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk mendiskusikan perkembangan teknologi, inovasi riset, serta pemanfaatan kecerdasan buatan dalam bidang rekayasa sistem proses.

Kepala Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia (BKKPII), Dr. Ir. Sripeni Inten Cahyani M.M., menilai kolaborasi lintas sektor seperti yang dibangun melalui PSEID menjadi faktor penting dalam mempercepat implementasi inovasi di dunia industri. Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua BKKPII Ir. Ganis Dananjati menyebut konferensi ini mampu memperkuat link and match antara perguruan tinggi, industri, regulator, dan organisasi profesi.

“Interaksi antara akademisi, industri, dan regulator akan menghasilkan ide-ide baru yang aplikatif sehingga mampu meningkatkan kompetensi insinyur Indonesia sekaligus menjawab kebutuhan industri,” jelasnya.

Pada penyelenggaraan tahun ini, PSEID juga memperkuat keterlibatan berbagai mitra strategis dari pemerintah, organisasi profesi, dan sektor industri. Sinergi tersebut diharapkan mampu mempercepat hilirisasi hasil riset sehingga inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi dapat diimplementasikan secara langsung untuk mendukung transformasi industri nasional menuju industri hijau yang berkelanjutan.

Selain menjadi forum pertukaran ilmu pengetahuan, PSEID 2026 juga memberikan kesempatan publikasi bagi para peserta. Makalah yang memenuhi persyaratan berpeluang dipublikasikan pada jurnal terakreditasi SINTA 4 maupun Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering (JFACHE). Fasilitas konferensi juga mencakup akses penuh ke seluruh rangkaian kegiatan, seminar kit, serta sertifikat digital bagi peserta.

Di balik penyelenggaraannya, konferensi ini juga menjadi bukti semangat kolaborasi sivitas akademika ITS. Sebagian besar panitia merupakan mahasiswa yang tengah menyelesaikan tugas akhir, namun tetap mampu mengelola persiapan konferensi berskala nasional melalui manajemen waktu dan kerja sama tim yang baik.

Melalui penyelenggaraan PSEID 2026, Departemen Teknik Kimia ITS berharap kolaborasi antara akademisi, industri, pemerintah, dan organisasi profesi dapat terus diperkuat untuk menghasilkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat. Sinergi tersebut diharapkan mampu mempercepat transformasi menuju industri hijau yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan daya saing industri kimia Indonesia di tingkat global.

Penyelenggaraan PSEID 2026 sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur melalui penguatan riset serta kolaborasi lintas sektor. Konferensi ini juga mendukung SDGs poin ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, SDGs poin ke-13 tentang penanganan perubahan iklim melalui pengembangan industri hijau, serta SDGs poin ke-17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan organisasi profesi.

Reporter: Atikah, Redaktur: Muchus

×