Workshop Penulisan, Produktivitas Tulisan Jadi Sorotan

Published on
By

Edy menyebutkan bahwa produktivitas buku di Indonesia kurang lebih hanya 10 ribu judul baru per tahunnya. Menurutnya, hal itu tidak sebanding dengan negara-negara maju seperti Jepang dengan jumlah 100 ribu judul per tahunnya.

Bahkan, dibandingkan dengan beberapa negara Asia Tenggara, Indonesia juga belum unggul. Padahal, jumlah penduduk Indonesia sangatlah besar. Ia mengakui bahwa yang menjadi penghambat adalah budaya baca dan tulis masih belum mengakar di masyarakat Indonesia.

Edy menyebutkan salah satu faktornya adalah karena keuntungan yang didapat melalui penulisan buku masih belum menjanjikan. Ia mencontohkan beberapa pengalamannya di dunia penerbitan ketika menawarkan kerja sama dengan dosen-dosen di berbagai universitas top di Indonesia. Ternyata sebagian besar dari mereka lebih memilih untuk mengambil proyek-proyek dari pada harus berkutat dengan penulisan buku yang butuh konsentrasi tinggi.

“Bayangkan royalti yang didapatkan hanyalah 10 persen tiap eksemplar. Jika harganya 50 ribu berarti satu buku hanya dapat untung 5 ribu,” ujarnya setengah menyindir.

Menurut Edy, beberapa dosen memang membuat sebuah buku namun hanya untuk internal kampus. Potensi besar ini sebenarnya bisa dimanfaatkan. Salah satu caranya dengan membawanya ke penerbit kemudian dipublikasikan dan dapat dikonsumsi orang banyak. Hal itu juga akan membangkitkan bisnis penerbitan kampus yang selama ini terkesan hidup segan mati tak mau.

“Manajemen penerbitan kampus belum dapat memanfaatkan potensi bisnis ini dan malah cenderung untuk memfasilitasi para pembajak karena hanya mampu mencetak buku tersebut dalam jumlah kecil (sekitar 500 eksemplar, Red),” ujar pria yang sekarang bertugas sebagai manajer pemasaran Penerbit Andi ini.

Namun Edy juga mengungkapkan bahwa masih banyak dosen-dosen yang memiliki idealisme untuk menebarkan ilmu tanpa memikirkan keuntungan yang didapatnya. Ia berseloroh bahwa universitas-universitas yang dekat pusat pemerintahan lebih banyak ‘godaan’ (proyek-proyek, Red). Sementara itu, ITS yang jauh dari pusat pemerintahan masih punya idealisme ilmu. “Makanya kami (penerbit Andi, Red) lebih mudah menjalin kerjasama penulisan buku dengan dosen-dosen ITS, tidak seperti di kampus lain,” tuturnya.

Edy kemudian menyampaikan tips untuk para mahasiswa yang ingin menjadi penulis buku. Mahasiswa bisa menerbitkan buku-buku pengantar sesuai bidang keahlian dalam kuliah. "Caranya mudah, cukup rajin mencatat saat kuliah dan banyak bertanya. Lalu coba tuliskan dalam bentuk yang rapi dan kirimkan ke pihak penerbitan," ujarnya.

Ia menceritakan pengalamannya ketika mampu membiayai kuliahnya dari hasil mencatat materi kuliah dan banyak bertanya kemudian dibuat menjadi sebuah buku. Buku itu pun laku keras. Karenanya, Edy berpesan kepada peserta bahwa menulis itu tidak sulit. "Tapi butuh niat untuk memulai walaupun sesekali penulis akan mengalami block writing, yakni kebosanan saat menekuni tulisan itu sehingga ide-ide tidak bisa muncul," tukasnya.(bah/f@y)

×