Win Hendrarso: Isu Beredar, Bencana Lumpur Dikenal Lumpo

Published on
By

Menurut Win Hendrarso, Bupati Sidoarjo yang hadir di sesi akhir simposium nasional ‘Pembuangan Lumpur Panas Sidoarjo ke Laut?’, Kamis (7/9), memberikan komentar tentang Lapindo sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas bencana lumpur Sidoarjo yang terjadi selama seratus hari lebih. ”Hingga saat ini, Lapindo berkomitmen menanggung semua pembiayaan penanganan lumpur. Namun, kita tidak tahu yang akan datang, mudah-mudahan komitmen mereka masih bisa dipegang,” paparnya.

Seperti yang ditakutkan semua pihak, lanjut Win, banyak yang menyangka masalah ini merupakan rekayasa politik dari Lapindo. ”Sehingga masyarakat sekarang sering menyebut bencana ini sebagai lumpo (lumpur politik). Kemungkinan itu bisa saja terjadi, kita tidak tahu apa dibaliknya. Namun, jika itu memang sebuah rekayasa saya pikir tidak  mungkin karena cost penanganan yang dikeluarkan lebih besar,” kata pria berkacamata ini.

Sementara itu, imbuh Win, masalah yang paling penting saat ini wanita dan anak-anak. ”Yang paling menderita dari adanya bencana adalah perempuan dan anak-anak. Kita sudah berpikir ke sana. Buktinya, kami segera membuat crisis center, ketika pertama kali mendengar bencana ini, sehingga sudah running dari awal. Crisis center ini merupakan kerjasama Pemda dengan LSM. Kita tidak akan apriori terhadap kebutuhan masyarakat,” tandasnya.

Saat ini, kata Win, Pemerintah daerah Sidoarjo butuh juga dukungan politik dari pemerintah pusat. ”Ini bukan hanya persoalan Sidoarjo, kita butuh dukungan politik juga. Misalnya pemerintah segera membuat badan otorita untuk selesaikan bencana ini. Karena jika tidak segera diselesaikan akan mengancam kepentingan ekonomi, sosial bahkan politik,” tegasnya.

Hal ini dibenarkan oleh Hotman Siahaan, praktisi Unair. ”Bencana ini adalah lumpur politik oleh-oleh DPR. Saya tahu DPRD Sidoarjo saja yang sudah membuat surat secara resmi saja nggak direken. Jangan salahkan bupati dan pemda, mereka juga bingung ambil keputusan. Bencana ini adalah teroris lingkungan dan sudah jadi tragedi kemanusiaan. Nasib rakyat dipertaruhkan di sini, masak manusia dikalahkan udang, ’sampeyan enak kami kelelep’. Ayo, mari bantu Sidoarjo, jangan saling kontroversi, segera bicarakan yang harus segera diatasi,” saran Hotman.

Air Lumpur Aman Di Buang ke Laut
Hasil penelitian terbaru yang dilakukan ITS, ternyata menunjukkan bahwa lumpur Sidoarjo bukan kategori B3 (Bahan berbahaya, beracun dan berbau). Sedangkan air lumpur yang berada 20 persen paling atas dari genangan lumpur ternyata aman dibuang ke laut.

Deputi Menteri Kelautan dan Perikanan, Sahal Hutabarat menolak jika lumpur Lapindo dibuang ke laut sebelum ada kajian. ”Sebelum ada kajian baik keamanan ekosistem serta water treatment, lumpur jangan dibuang ke laut,” ujarnya. Penolakan itu diperlukan untuk memberi jaminan terhadap ekosistem dari mata pencaharian masyarakat di sekitar pesisir. Mengingat saat ini perekonomian di sekitar selat Madura mencapai Rp 1,7 triliun.

Bertolak dengan Hutabarat, hal ini dibuktikan oleh tim ITS yang melakukan uji penelitian kandungan lumpur Sidoarjo. Lili Pudjiastuti, salah satu tim penguji ITS untuk lumpur Sidoarjo, mengungkapkan hasil penelitian yang baru dilakukan September ini. ”Dari hasil pengujian B3 melalui uji TCLP, lumpur Sidoarjo tak terkategori B3, karena faktanya memang di bawah baku mutu,” papar dalam wawancara, Kamis (7/9) siang di gedung Rektorat ITS.

Menurut Lili, ITS telah melakukan beberapa kali jenis pengujian, diantaranya uji TLCP dan uji karakteristik. “Beberapa uji karakteristik menunjukkan hasil yang negatif, sedangkan uji berdasarkan PH mengandung sekitar 7,3. Untuk salinitasnya cukup tinggi yaitu lebih dari tiga puluh persen. Tapi, memang mengenai laju korositasnya akan diteliti lagi karena prosedurnya masih belum lengkap,” jelas dosen jurusan Teknik Kimia ITS ini. Selain itu, ITS juga melakukan uji toksikologi menggunakan LC 50 dan LD 50. ”Dalam LC 50 kita menggunakan udang sebagai simulatornya karena udang adalah jenis yang paling peka, dan hasilnya ternyata udang itu bisa hidup dalam air lumpur yang sudah di treatment,” paparnya.

Namun, imbuh wanita berjilbab ini, ada satu bahan membahayakan yang ditakuti yaitu senyawa Phenol. ”Dalam air lumpur mengandung sekitar 0,2 Phenol dan ini aman, karena hasilnya dibawah baku mutu. Sehingga air lumpur yang 20 persen yang berada paling atas aman untuk dibuang ke laut setelah di treatment,” tandas Lili. Oleh karena itu, kata wanita berkacama ini, aman jika segera dipindahkan cairan lumpur yang 20 persen itu.

Akan tetapi, imbuh Lili, kondisinya berbeda dengan lumpur di kolam induk yang sangat berbahaya. ”Dari penelitian yang kami lakukan, penol paling tinggi di kolam induk yaitu sebesar 10 ppm, padahal toleransi standart baku mutu untuk phenol hanya satu ppm,” katanya. Sebab, senyawa jenis ini akan menimbulkan efek gatal-gatal bila bebas di udara.

Ratusan titik sampling yang diambil oleh tim ITS telah dilakukan dalam tiga tahap. Pertama pada 4 hingga 22 Juni yang dilakukan bersama dengan tim terpadu. Pengambilan sample yang kedua pada 13-17 Juli. ”Dan terakhir kemarin antara 31 Agustus hingga 3 September kemarin. Yang ini benar-benar dilakukan ITS sendiri,” tukas Lili. (th@/asa)

×