Walhi dan Siklus ITS Tolak RTRW

Published on
By

Perda RTRW dianggap lebih mengutamakan pembangunan perumahan, pertokoan, mal, serta sarana-prasarana fisik lain, dengan mengabaikan ruang terbuka hijau (RTH). Hal ini dikhawatirkan akan semakin meningkatkan suhu udara panas di kota, menurunkan kualitas tanah, meningkatkan kadar karbon-dioksida serta memburuknya kualitas oksigen yang dihirup warga kota.

Dalam aksinya para aktivis Walhi menggunakan perahu sembari membentangkan poster serta spanduk bertema penyelamatan lingkungan. Aksi ini berawal dari Taman Prestasi, kemudian menyusuri Kalimas menuju dermaga depan Pangarmatim.

"Hak atas lingkungan hidup adalah hak asasi," ujar Kepala Divisi Hukum dan Kebijakan Walhi Jatim Khairul Anwar.

Anwar mengatakan, bencana lingkugan merupakan akibat pembangunan kota yang berbasis fisik. Dan, Perda RTRW tidak berpihak pada lingkungan.

Walhi juga menyayangkan minimnya warga yang dilibatkan dalam penyusunan Perda RTRW Jatim, padahal ini menyangkut ruang publik.

Walhi juga menolak keras rencana pembangunan jalur lintas selatan yang melewati hutan di Jember dan Kediri. Jika pembangunan ini terealisasi maka ratusan ribu hektare areal hutan serta lahan pertanian tadah hujan terancam. "Ini tidak rasional dan dapat memicu konflik," tambahnya.

Rencana pemprov untuk menambah kawasan lindung serta RTH juga dianggap hiburan semata bagi masyarakat. Menurut Walhi sampai sekarang pembangunan infrastruktur kota lebih dominan. Jika hal ini terus berlanjut maka lingkungan akan punah. "Lahan pertanian turun, produksi turun. Kemiskinan pasti bertambah," jelasnya

Sementara itu kelompok pecinta lingkungan hidup, Siklus ITS, lebih menyoroti Perda RTRW Kota Surabaya. Puluhan mahasiswa yang melumuri badannya dengan cat warna hijau ini sempat melakukan aksi teatrikal pohon hijau hidup di perempatan Kertajaya, depan Hotel Sahid sebelum akhirnya melakukan orasi di depan Grahadi.

Menurut juru bicara aksi Irwin Dwi A., pemkot sampai sekarang cenderung melakukan pembangunan kota tanpa memperhatikan RTH. "Ruang hijau disulap jadi perumahan," ujar mahasiswi ITS ini.

Dwi menuntut agar pemkot melakukan tindakan tegas terhadap pengembang yang menggusur daerah resapan. Jika hal ini dibiarkan maka kawasan banjir semakin bertambah. "Pemkot tidak mampu menindak pengembang nakal yang hanya cari untung," tambahnya.

Selain menuntut Pemkot merevisi Perda RTRW Kota, Siklus ITS juga menghimbau kepada warga Surabaya untuk mengalokasikan sebidang tanahnya untuk ditanami pohon pelindung. Satu Jiwa Satu Pohon. Hal ini perlu segera dilakukan sebagai upaya menambah kualitas oksigen di Kota.

Aksi mahasiswa yang bertema Parade Hijau ini berakhir dengan tertib, sebagian massa aksi pulang dengan menggunakan sepeda angin. (san)

×