Tim ITS Maritime Challenge (ITS-IMC) 2006, Jumat (7/7) siang, secara resmi diberangkatkan Rektor ITS dari halaman Gedung Rektorat menuju Genoa, Italia. Setelah transit di Jakarta, Senin (10/7), ITS-IMC akan dilepas ke Italia oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi.
Tim yang terdiri atas 16 mahasiswa dan seorang dosen itu, akan mengikuti International Maritime Challenge (IMC) di Genoa, Italia, mulai 14-21 Juli mendatang. Ini adalah ketigakalinya sejak tahun 2002, tim ITS ikut serta dalam ajang bahari bertaraf internasional ini.
Rektor ITS, Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA dalam sambutannya mengatakan, ada tiga peran yang akan dilakukan oleh duta-duta ITS dalam mewakili Indonesia di IMC. “Pertama, peran didalam menumbuhkan nasionalisme sebagai bangsa Indonesia dari generasi muda," ungkap Nuh. Sedikit informasi, ITS-MC merupakan satu-satunya delegasi dari Indonesia dan satu-satunya tim dari Asia Pasifik.
Kedua, Nuh menambahkan, peran untuk bertindak profesional dalam melakukan serangkaian kegiatan di kejuaraan itu. “Sebagai mahasiswa mereka dituntut untuk bertindak dan bekerja profesional dalam kejuaraan ini, karena berkait dengan kemampuan seseorang didalam melakukan pekerjaan-pekerjaan lapangan,” kata Nuh.
Sedangkan peran ketiga, sebagai sebuah langkah untuk mengukur apakah Bendera ITS masih laku di jual di masyarakat berkait dengan pengumpulan dana sponsor untuk keberangkatan tim ini. “Terbukti meski dengan susah payah didalam mengumpulkan dana, toh akhirnya terpenuhi semuanya. Ini artinya, ITS masih diakui di masyarakat,” katanya.
Dikatakan Nuh, selain mengikuti IMC, tim ITS juga akan menyerahkan kapal tradisional Madura jenis gole’an yang diberinama Lanceng Madureh (Perjaka Madura). Kapal itu rencananya akan ditempatkan di museum maritim di Italia sekaligus diusulkan untuk dapat diikutkan di lomba serupa pada penyelenggaraan berikutnya.
Dosen pembimbing kegiatan IMC, Ir Ketut Pria Utama MSc PhD mengungkapkan, keberangkatan tim ITS-MC bukan hanya untuk mempertahankan gelar juara yang selama dua kali berturut-turut diboyong ITS, namun mereka juga akan memperjuangkan kapal gole’an untuk bisa dilombakan. “Karena itu, kini kami sedang menyiapkan copy right agar ketika usulan kami itu diterima, mereka tidak kesulitan meminta izin untuk membuatnya,” katanya.
Di IMC kali ini, tim ITS-MC membawa dua buah kapal. Pertama Kapal Merdeka yang memang selama ini dilombakan, dan Kapal Lanceng Madureh yang untuk pertamakali akan dikenalkan di arena internasional, sekaligus akan dicoba oleh semua tim dari 13 negara lain yang turut berlaga di IMC.
Kenalkan Indonesia
Sementara itu, koordinator mahasiswa tim ITS-MC, Adhitya Mahardhika menjelaskan, keikutsertaannya dalam IMC didorong keinginan untuk memperkenalkan Indonesia di kancah internasional. “Karena itu, keikutsertaan kami di sana tidak hanya sebatas untuk mengikuti berbagai lomba tentang ketangkasan menggunakan kapal dan peralatannya tapi juga menyajikan misi budaya,” katanya.
Tahun ini, tambahnya, Tim ITS-MC akan mengenalkan budaya Aceh lewat tarian tradisional Seulaweut. Tari itu menggambarkan kekompakan, yang memang dibutuhkan dalam arena lomba tersebut. “Tentu pertimbangannya bukan hanya soal kekompakan dalam tarian itu, tapi kami juga akan mengingatkan kembali tentang musibah tsunami yang telah merenggut banyak korban dan kami telah mengambil bagian di sana dalam pembuatan kapal untuk para nelayan,” katanya. (humas/rin)