Usung Sistem Multimesin Demi Gelar Doktor

Published on
By

Menurut Irrine, kesetimbangan peralihan atau biasa dipanggil transient tergantung pada keadaan operasi sistem dan tingkat keparahan gangguan yang terjadi. Adanya gangguan akan mengubah sistem, sehingga kondisi sistem setelah gangguan akan berbeda dengan kondisi sebelumnya.

Ketidakstabilan sistem biasanya diamati dalam bentuk arus nonperiodik. Dengan mengambil contoh pada pembangkit listrik Jawa Bali. Ibu tiga anak ini menemukan bahwa pada sistem multimesin dengan tegangan 500 kilovolt dan 54 buah generator, ketidakstabilan transient tidak selalu terjadi pada ayunan pertama.

Dalam disertasinya, Irrine menyebutkan bahwa waktu pemutusan kritis merupakan waktu yang digunakan untuk memutus sistem yang mengalami gangguan untuk kembali ke kondisi stabil. periode tersebut berkaitan dengan waktu membuka Circuit Breaker (CB). Untuk memastikan sistem dapat kembali ke kondisi normal, waktu membuka CB haruslah lebih sedikit dari waktu pemutusan kritis.

Selanjutnya, Irrine memberikan teknik baru dalam mendapatkan waktu pemutusan kritis. Hal tersebut didapat berdasarkan perhitungan numerik dan kecerdasan buatan dengan mengadopsi metode critical trajectory, serta prediksi menggunakan extreme learning machine.

Metode ini berbeda dengan metode yang sudah ada sebelumnya. Irrine menemukan bahwa waktu pemutusan kritis diperoleh dengan meminimalisasi permasalahan dengan melakukan perhitungan lintasan kritis pada batas stabilitas, "Dari perhitungan ini diperoleh nilai waktu pemutusan kritis yang tepat tanpa perkiraan seperti metode-metode yang telah ada," tutur dosen Institut Teknologi Nasional Malang itu.

Dari hasil simulasi yang ia kerjakan, Irrine menemukan bahwa waktu pemutusan kritis yang ia hasilkan akurat. "Pun demikian, algoritma yang digunakan handal. Hal itu dibuktikan dengan dapat dilakukannya proses perhitungan melalui pola perubahan beban pada sistem dan lokasi gangguan yang berbeda," pungkasnya. (ven/hil)

×