
Kampus ITS, ITS News — Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tidak pernah berhenti menunjukkan kemampuan dan kualitasnya. Kali ini, lewat inovasi rekayasa genetika dan kemahiran berargumen, Mahasiswa Departemen Biologi ITS Dicka Elkana Putra sukses menyabet gelar juara pada dua kompetisi nasional.
Gelar juara harapan satu berhasil diraih lelaki yang akrab disapa El itu lewat ajang National Plant Innovation and Creativity Competition (N-PLANTIC) 2026 di Universitas Jember pada 3 Mei lalu. Pada kompetisi esai ini, ia mengusung inovasi Engineered C4-Hybrid Oryza & Real Time Crop Evaluation (ECHO-RICE). “Inovasi ini mengintegrasikan rekayasa genetika benih padi dengan metode CRISPR-Cas9 dan sistem pertanian pintar berbasis Internet of Things (IoT),” jelasnya.

Bersama rekannya Muhammad Dzaky Habib Ridho, El memanfaatkan metode editing genomik Homology Directed Repair (HRD) untuk menyunting karakter padi. Metode ini memungkinkan untuk memotong gen RubisCo padi dan menggantinya dengan gen sorgum yang lebih sintas. “Hasilnya, kami berhasil menciptakan varietas padi yang lebih tahan terhadap kekeringan akibat El Nino,” ungkapnya.
Lelaki asal Nganjuk ini juga melakukan analisis alignment sequence menggunakan data pustaka genomik Phytozome untuk memastikan kesesuaian fungsi gen yang digunakan. Melalui rekayasa tersebut, benih padi yang dihasilkan berpotensi memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan padi konvensional. Di antaranya, efisiensi penggunaan air lebih tinggi, laju fotosintesis lebih baik, serta ketahanan yang lebih kuat terhadap kekeringan.
Tidak hanya unggul dalam riset, El juga menunjukkan kemampuan berargumennya lewat ajang debat Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 2026 di Universitas Diponegoro pada 24 Mei lalu. Bersama Mahasiswa Program Studi Teknologi Kedokteran ITS Aprilia Renata Wijaya, El membentuk tim Biology Engineer. Berkat performa yang solid, tim tersebut berhasil membawa pulang gelar juara tiga.

Pada babak final, El berhasil mengupas mosi mengenai subsidi perawatan penyakit yang disebabkan oleh bahan aditif. Tim Biology Engineer menawarkan berbagai solusi ilmiah berbasis bioteknologi serta didukung oleh data dan kajian terkini. “Kami membawa bukti ilmiah terkait rekayasa genetik tembakau untuk mengurangi kadar nikotin,” papar Mahasiswa Program Studi Bioteknologi ITS itu.
Pencapaian gemilang ini menjadi bukti nyata kontribusi aktif mahasiswa ITS dalam mendukung berbagai agenda pembangunan global. Inovasi ECHO-RICE serta argumentasi ilmiah yang diusung menunjukkan komitmen mahasiswa dalam menghadirkan solusi berbasis sains. Upaya ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-2 tentang ketahanan pangan serta poin ke-9 mengenai inovasi, industri, dan infrastruktur yang berkelanjutan. (*)
Reporter: Naila Zalfa Hamidah
Redaktur: Ahmad Naufal Ilham