Untuk Menjadi Penyiar, Lancar Berbicara Saja Tidak Cukup

Published on
By

Teater C ITS, ITS Online – Tidak sekedar hanya asal berbicara, proses siaran bagi seorang broadcaster juga berarti kegiatan untuk mengeksplorasi kemampuan diri. Sebagus apapun materi yang dimiliki, suatu acara akan terasa hambar bila seorang penyiar tidak dapat membawakan materinya secara baik. Berbicara datar, dan tanpa ekspresi tentu akan terdengar membosankan di telinga pendengar. Lucky, salah satu penyiar di Hard Rock FM Surabaya menyampaikan pengalamanya bagaimana ia bisa terjun di dunia broadcasting.

"Tugas penyiar itu bukan hanya berbicara, tapi juga sebagai sales person, kita harus bisa menjual barang client,selain itu kita harus bisa menjadi sahabat pendengar dan yang terpenting, penyiar itu adalah ujung tombak radio." ungkap Lucky kepada puluhan peserta Seminar Broadcasting yang diadakan BEM FTI Minggu (2/12). Selain menceritakan bagaimana ia sampai terjun di dunia broadcasting, ibu muda ini juga memberikan tips-tips  apabila kita ingin terjun ke dunia broadcasting. Menurutnya, selain keterampilan berbicara, seorang penyiar harus bisa menunjukan sifat kreatifnya ketika ia memutuskan untuk terjun ke dunia broadcasting.

Pada awalnya, ketertarikanya untuk tejun di dunia penyiaran karena ia ingin membuka diri. Sebelum menjadi penyiar, Lucky mengaku ia adalah seorang pemalu. Ia juga mengatakan bahwa sampai saat ini ia tidak bisa menjalankan kendaraan bermotor, walaupun itu hanyalah sebuah sepeda motor. Namun, karena ia ingin mengeksplorasi apa yang ia miliki, akhirnya memilih untuk terjun ke dunia broadcasting. "Penyiar itu harus kreatif, jangan pernah mengirim surat lamaran dengan format yang biasa saja, buatlah sekreatif mungkin, karena itu yang dicari dari seorang penyiar". Walaupun tedengar sedikit aneh, namun Lucky berkali-kali menekankan pada peserta bahwa apa yang dikatakanya adalah benar.

Pada kesempatan itu juga, Lucky menjelaskan bagaimana berbicara yang baik dan benar ketika sedang on-air. Beberapa peserta kemudian menyampaikan beberapa kendala yang sering ditemui ketika berbicara. Salah satunya adalah aryo, mahasiswa Biologi ini menceritakan kebingunganya dalam sesi tanya-jawab. "Bagaimana menghilangkan rasa grogi, saat sedang berbicara panjang-lebar ketika siaran sedang berjalan?" tanyanya lugas. Mendengarnya, lucky lalu menjelaskan bahwa grogi itu akan muncul apabila kita kurang persiapan. "Grogi itu akan berkurang apabila kita telah memiliki well prepared yang baik",jawabnya tegas.

Selain menjelaskan bagaimana ia bisa terjun ke dunia broadcasting, ia juga meluruskan pendapat bahwa menjadi penyiar radio tidak semudah apa yang dibayangkan orang selama ini. Walaupun tidak dilihat oleh orang lain, selama proses siaran, setiap penyiar diharuskan menggunakan pakaian yang pantas dan enak dilihat. "Biarpun tidak perlu wangi, tapi jangan sampai bau badan" ungkap alumni SMA Negeri 1 Surabaya ini. Masih banyak lagi aturan-aturan yang harus dipatuhi untuk menjaga citra radio di mata pendengar. Karena penyiar adalah ujung tombak radio, segala sikap dan perbuatanya akan diperhatikan oleh pendengar setianya.

×