Cita Indonesia menuju kemandirian teknologi tidaklah mudah, negara ini membutuhkan peran dari berbagai stakeholder-nya. Pemerintah, akademisi, serta Industri adalah triple helix yang harus saling bersinergi untuk mewujudkan impian tersebut.
Saat ini, isu kemandirian di bidang teknologi sedang gencar-gencarnya berhembus di tengah realitas kelangkaan energi. Prof Dr Ing Herman Sasongko, pembantu rektor I bidang akademik dan kemahasiswaan, menganggap bahwa harus ada suatu trigger untuk mewujudkan isu kemandirian teknologi ini.
Tercetuslah Kuliah Bung Karno untuk menjadi salah satu trigger tersebut. ”Selagi angin berhembus kencang, kita harus menghempasnya dengan lebih kuat,” imbuhnya menganalogi.
Kuliah kebangsaan ini dihelat atas kerjasama ITS, Perpustakaan Proklamator Bung Karno, serta Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur. Kuliah ini akan digelar dalam empat bagian dengan topik yang berbeda, namun menuju pada sebuah impian yang sama, kemandirian.
Empat topik tersebut dimulai dengan topik Membangun Kemandirian Teknologi Energi yang telah dihelat pada Sabtu (31/3). Topik-topik berikutnya adalah mengenai kemandirian transportasi, komunikasi, serta pertanian. Empat kuliah ini telah menjadi agenda ITS di tahun 2012.
Rencana menghadirkan Habibie pun bukan tanpa alasan. Habibie dianggap sebagai sosok yang paling berperan dalam sejarah transportasi di Indonesia. Dengan kehadiran Habibie sebagai keynote speaker, penyelenggara berharap pesan kemandirian teknologi transportasi benar-benar tersampaikan kepada triple helix dan masyarakat.
Sulistyanto Soejoso, salah satu kurator Kuliah Bung Karno ingin menambahkan nuansa nasionalisme dalam acara tersebut. Ia menyarankan untuk lebih menggalakkan himbauan untuk membeli produk dalam negeri. Hal tersebut dirasanya kurang ditonjolkan dalam Kuliah Bung Karno yang pertama. ”Agar masyarakat makin mencintai produk buatan bangsa sendiri,” ujarnya.
Karena antusiasme peserta saat Kuliah Bung Karno cukup besar, rencananya buku Kuliah Bung Karno akan diperbanyak dan dijual ke masyarakat. Tidak hanya itu, Prof Daniel M Rosyid juga menginginkan video kuliah ini dapat diperbanyak bersama dengan bukunya.
Lebih lanjut, panitia Kuliah Bung Karno akan melakukan survei ke lokasi acara untuk perencanaan lebih matang. Diharapkan, undangan dan publikasi telah tersebar luas satu bulan sebelum acara tersebut digelar.
BEM ITS Siap Gerakkan Massa
Pemilihan kota kelahiran Bung Karno menjadi tempat acara ternyata menimbulkan sedikit permasalahan. Para kurator berpikir keras mencari siapa audience dari pihak mahasiswa yang dapat berkontribusi dalam acara tersebut.
Kegelisahan tersebut dijawab oleh Imron Ghozali, presiden BEM ITS. Ia menyatakan akan berusaha menggerakkan mahasiswa ITS untuk turut menghadiri acara ini. Dihelat di bulan Juni, mahasiswa telah memasuki masa liburan semester genap. Sehingga, Imron mencetuskan sebuah ide untuk rekreasi bersama.
Seusai penat dengan ujian akhir semester, mahasiswa akan diajak untuk rekreasi bersama ke Blitar. Tidak hanya mahasiswa ITS, mahasiswa Universitas Airlangga dan Universitas Negeri Surabaya pun turut diundang. ”Kita dapat refreshing bersama setelah ujian dengan kuliah kebangsaan,” ujarnya disambut anggukan puas para kurator. (fin/izz)