”Dari puluhan tim asal ITS yang turut serta, tim ITS Diversal dan Garuda berhasil lolos hingga tahap nasional,” ungkap Rendy Aries Fajrin, ketua tim ITS Diversal. Ia mengatakan, hal ini merupakan hasil positif yang dapat diraih ITS sejauh perjalanan kompetisi ini. Namun cukup disayangkan, gelar juara belum bisa dipersembahkan para kontingen bagi almamater tercinta.
Rendy pun turut menjelaskan jenis usaha yang membawa timnya bersaing dengan 23 kelompok yang lain di tingkat nasional ini. ”Produk usaha ini kami beri nama Susu Apel (Supel) merupakan olahan buah apel yang kami jadikan susu,” jelasnya. Lebih lanjut, ia menerangkan produk ini merupakan salah satu produk favorit yang diminati juri saat seleksi semifinal dilaksanakan di Jakarta, Selasa (26/2) lalu.
Menurutnya, ide ini bermula ketika muncul keprihatinan salah satu anggota tim terhadap kampung halamannya. ”Saat ini sentra perdagangan dan pengembangan apel telah beralih menjadi pengembangan industri pariwisata,” sesalnya. Karena itu, lanjutnya, upaya inovasi produk pun ditempuh timnya yang beranggotakan Mukhlis Ndoyo Said, Silvia Roshita, Haris Fattah, Olivia Renanda.
Selain itu, pihaknya mengaku telah melakukan berbagai usaha guna merealisasikan mimpi tersebut. Di antaranya, pemberdayaan para petani apel, menjalin kerja sama dengan berbagai lini produksi serta penjualan apel di sekitar Kota Batu, Malang.
Ia pun menyebutkan telah menyempurnakan proyek percontohan ini bersama dengan kelompok tani bernama Makmur Abadi. ”Sesuai dengan jenis usahanya, yaitu social entrepreneur, kami berupaya untuk turut mengembangkan masyarakat sekitar,” tutur mahasiswa Jurusan Teknik Industri ini.
Di akhir, ia juga berharap pengalaman yang mereka rasakan dapat pula dialami oleh sivitas akademika lainnya. Sehingga, atmosfer kewirausahaan di ITS pun semakin meningkat. ”Yang penting perluas wawasan kita dengan pengalaman mengkuti kompetisi seperti ini,” tutupnya. (man/esy)