
Kampus ITS, ITS News — Tim Bayucaraka Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) optimis merebut juara umum Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026. Optimisme tersebut disampaikan saat grand launching inovasi pada Jumat, 11 September 2026 di Galeri ITS. KRTI 2026 akan berlangsung pada 21–26 September 2026 di Institut Teknologi Kalimantan (ITK) dan Ibu Kota Nusantara (IKN). Kompetisi tersebut akan mempertemukan 43 perguruan tinggi dari berbagai daerah di Indonesia.
Direktorat Kemahasiswaan ITS Nur Syahroni ST MT PhD mengatakan capaian Bayucaraka pada kompetisi tahun lalu menjadi modal penting untuk kembali berprestasi. Tahun 2025, seluruh divisi ITS berhasil membawa pulang medali. “Semoga tahun ini jauh lebih hebat dan mampu membawa pulang medali juara umum,” ujarnya.

Tim Bayucaraka ITS mengirimkan sekitar 50 anggota yang terbagi dalam lima divisi, yakni Fixed Wing, Racing Plane, Vertical Take-Off and Landing (VTOL), Technology Development (TD), dan Long Endurance Low Altitude (LELA).
Kelima divisi membawa fokus inovasi yang berbeda. Fixed Wing mengembangkan teknologi pemetaan pesawat dengan mengutamakan ketangguhan. Sementara itu, LELA mengembangkan teknologi penerbangan berdurasi panjang pada ketinggian rendah dengan konsumsi energi minimal. Adapun Racing Plane berfokus pada pencapaian kecepatan maksimum pesawat.
Salah satu inovasi yang diandalkan berasal dari divisi TD. Divisi ini mengembangkan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau pesawat nirawak untuk mempercepat penanganan bencana dan kecelakaan lalu lintas. Teknologi tersebut dirancang untuk membantu pemerataan pencarian dan pemantauan korban secara real-time sehingga dapat memangkas waktu respons aparat di medan kritis.

Mohammad Rifqi Firmansyah, mahasiswa Departemen Teknik Elektro semester lima dari divisi TD, mengungkapkan bahwa persiapan telah dilakukan selama empat bulan. “Kami hampir setiap hari melakukan uji coba, belajar dari kegagalan, lalu memperbaiki kekurangan,” ungkapnya.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, UAV TD menghadirkan kebaruan pada airframe serta sejumlah komponen yang dibuat secara mandiri, seperti sistem dan pengendali jarak jauh. Bagi Rifqi, inovasi tersebut menjadi pembuktian kemampuan mahasiswa Indonesia dalam mengembangkan pesawat nirawak secara mandiri.
Sementara itu, divisi VTOL menghadirkan teknologi Real-Time Kinematic (RTK) untuk meningkatkan akurasi GPS. Tantangan tahun ini mendorong tim mengembangkan sensor Light Detection and Ranging (LiDAR) agar pesawat tetap dapat terbang secara presisi dan cepat di area tanpa GPS.
Mohammad Khirz El Jausyan, mahasiswa Departemen Teknik Komputer semester lima dari divisi VTOL, mengatakan inovasi juga dilakukan pada sistem dropper. “Tahun ini kami mengganti desain dropper menjadi kotak P3K yang melintang vertikal,” jelasnya.
Berbagai pengembangan tersebut menjadi bekal Tim Bayucaraka ITS menghadapi KRTI 2026. Semangat inovasi dan evaluasi berkelanjutan diharapkan mampu membawa karya-karya ITS semakin kompetitif sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-9, tentang pengembangan industri, inovasi, dan infrastruktur yang berkelanjutan. (*)
Reporter: Restu Aisyah Rizki Permatasari