Third Prize Kedua Satria di Bulgaria

Published on
By

Namun, pencapaian tersebut penuh dengan perjuangan dan kerja keras. Sebelum melangkah ke Blagoevgrad, Bulgaria, Satria harus mengikuti serangkaian seleksi yang ketat.  Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ONMIPA) adalah salah satunya.

Sebagai peraih Third Prize di IMC 2010, Satria mendapatkan kesempatan untuk lolos pada ON MIPA tahap ketiga tanpa melalui seleksi. Pada tahap ini, Satria harus bersaing dengan mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk menjadi yang terbaik. Namun, di final ON MIPA ia gagal mendapatkan medali emas. Ia harus  puas medali perak . ”Maklum, terlambat panas,” ujarnya.

Selepas babak ON MIPA, ia dan 23 peserta lain harus bersaing memperebutkan tiket ke IMC melalui tahap pembinaan dan seleksi awal. Seleksi tersebut diselenggarakan oleh Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) selama 3 minggu terhitung sejak 29 Mei silam di Bandung.

Di sana, Satria dan kawan-kawan pun diberi materi yang diujikan di IMC sekaligus diseleksi sesuai dengan materi yang diajarkan. Pengajarnya pun merupakan dosen-dosen yang ahli dalam bidang masing-masing.

Setelah melalui serangkaian proses seleksi, Satria akhirnya terpilih untuk mewakili Indonesia di IMC 2011 yang diselenggarakan oleh University College London dan American University di Bulgaria. Bersama tujuh mahasiswa asal indonesia lainnya ia akan berhadapan dengan 304 peserta dari 71 negara. ”Alhamdulillah,” ujar Satria yang merupakan satu-satunya wakil dari ITS.

Satria : Lolos IMC Bisa Jadi Tradisi ITS
IMC sendiri memberikan banyak pengalaman bagi Satria. Hardwork and friendly adalah dua kata yang dapat menggambarkannya. ”Pastinya butuh tidak sekedar kerja keras untuk menang di sana. Persiapan yang besar dan fokus adalah kuncinya,” ceritanya.

Satria pun mengenang ucapan John Jayne, presiden kompetisi tersebut. ”Mungkin pemenangnya nanti telah menyiapkan diri selama 1000 jam untuk mengikuti IMC,” ujarnya menirukan ucapan John. Di sisi lain, persaingan para peserta tidak menghilangkan esensi dari kompetisi ini, yakni untuk membangun relasi.

Tak seperti kompetisi matematika lainnya, peserta IMC memperoleh lebih banyak waktu untuk bersosialisasi dengan peserta dari kampus lain. Menurut John Jayne, tak seperti beberapa puluh tahun yang lalu, saat ini komunikasi menjadi bagian yang sangat penting dari pergaulan antar negara. Kompetisi ini diharapkan bisa membangun relasi antar peserta dari berbagai negara.

”IMC sesungguhnya hanyalah mengerjakan soal selama 2 hari, masing-masing 5 soal dalam waktu 5 jam,” papar Satria. Tes disesuaikan dengan materi setingkat sarjana. Soal dipilih melalui sidang yang diikuti oleh team leader dari setiap institut. Dalam hal ini, tim Indonesia diwakili oleh 2 orang dosen. Sidang ini juga menentukan urutan tingkat kesulitan soal. Bidang yang dikompetisikan adalah Aljabar, Analisis (Real dan Kompleks), Geometri dan Kombinatorik dengan pengantar bahasa Inggris.

Namun, peserta IMC tak hanya menghabiskan waktu dengan mengerjakan soal. Ada tahapan di mana peserta diperbolehkan untuk melakukan moderasi atas jawaban mereka kepada korektor soal. Menurut Satria, tahapan inilah yang paling tidak disukainya. Sebab, banyak sekali peserta yang memanfaatkan momen ini untuk menaikkan peringkat mereka, terutama peserta yang berada pada cut off prize. ”Moderasi dilakukan 2 kali, yang hasilnya bisa mengacak-acak peringkat peserta. Wow,” ujar Satria yang sempat mengunjungi pusat peradaban kelompok ortodoks di wilayah Romawi timur ini.

Pada acara puncak, yaitu Closing Ceremony, setiap peserta dipanggil untuk menerima penghargaan masing-masing. Sekitar 50 peserta mendapatkan first prize, 6 diantaranya grand first prize. Sekitar 70 peserta peringkat di bawahnya mendapatkan second prize, 100 peserta setelahnya mendapat third prize, 60 honorable mention dan sisanya sertifikat. ”Alhamdulillah saya pun memperoleh third prize,” tutur mahasiswa yang telah menggeluti Matematika sejak SD ini.

Secara keseluruhan, Indonesia memperoleh 1 second prize, 5 third prize dan 1 honorable mention. Prestasi ini menurun dibanding tahun 2010, dengan raihan 1 first prize, 1 second prize, 3 third prize dan 1 honorable mention.

Satu yang menarik dari IMC ialah bagaimana Satria dapat mengukur kemampuannya di bidang yang telah ditekuninya selama 3 tahun terakhir. ”Selain itu, saya juga dapat membandingkan kemampuan saya dengan mahasiswa di belahan bumi yang lain, terutama negara-negara Eropa Timur,” ujar Satria.

IMC memang bukan sekedar mencari siapa pemenangnya, tetapi sekaligus menjadi ajang pembelajaran bagi mahasiswa matematika yang selanjutnya terjun di riset. ”Saya berharap IMC kelak menjadi tradisi mahasiswa matematika ITS dan selanjutnya ada mahasiswa ITS yang meraih first prize,” harap mahasiswa yang kelak ingin menjadi dosen ini.

Menurut Satria, yang terpenting adalah menjadikan IMC sebagai sarana membangun komunikasi dengan universitas lain.”Toh negara sudah membiayai,” ujarnya. IMC ke-19 mendatang kemungkinan dilaksanakan di Rusia. ”Semoga ada wakil ITS di sana,” pungkasnya.(ers/yud)

×