Teknik Perkapalan Juarai Violet CUP FKM Unair

Published on
By

Terus berjuang dan tidak putus asa, itulah kunci kemenangan Tim Basket yang beranggotakan 12 pemain tersebut. Walaupun kalah dalam final Rektor Cup ITS 2010, tidak membuat para pemain basket ini berkecil hati dan putus asa. Ketika ada kompetisi lagi, mereka terus mencoba. Cukup lama mengarungi beragam kompetisi, Violet Cup FKM Unair pun menjadi tonggak baru bagi sejarah basket mahasiswa Tekpal.

”Setelah kalah pada Final Rektor Cup ITS, Kami merasa malu dan hal itu membuat kami terpacu untuk terus termotivasi menjadi Juara,” ungkap salah satu pemain inti Tim Basket Tekpal, Galilea Prima.

Mahasiswa yang biasa dipanggil Lea ini mengungkapkan bahwa hadiah uang tunai juga mendongkrak semangat mereka. ”Hadiah uang tunainya juga jadi motivasi kita. Semakin besar hadiahnya, kita semakin semangat,” ungkap Lea lalu tertawa.

Pria kelahiran 5 Mei 1987 ini menceritakan bahwa timnya bermain sebanyak empat kali pertandingan dalam kompetisi yang diikuti 16 tim se-Surabaya ini. Babak perdelapan final berhadapan dengan Tim Basket Sosiologi Unair, perempat final dengan Farmasi Unair, semi final dengan Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah dan final dengan Teknik Elektro Unesa.

”Kita berhasil menyisihkan semuanya, dan membawa pulang trofi dan uang 1,5 juta rupiah,” ungkap mahasiswa angktan 2005 ini. Selain itu, hal yang lebih membuat Lea dan timnya bahagia adalah mengharumkan nama Tekpal dan ITS.

Pria asal Surabaya ini mengungkapkan bahwa dari total 12 pemain terdapat lima pemain inti. ”Tiga menjadi guard dan dua menjadi forward,” ungkap Lea. Ivan afandi, Prima Ida dan Dedi K menjadi guard. Sedangkan M Marten dan Lea sendiri menjadi forward.

Selain itu, Lea juga mengungkapkan bahwa timnya akan berusaha terus aktif dalam kompetisi-kompetisi lain yang akan digelar nanti. ”Kami tidak berhenti di sini, kalau ada pertandingan lagi. Kami masih ingin ikut dan mengharumkan nama Tekpal dan ITS,” ungkap mahasiswa asli Surabaya ini.

Lea juga mengaku bahwa semua pembiayaan untuk mengikuti kompetisi berasal dari kantong mereka sendiri. ”Tidak ada biaya dari birokrasi, semua pake uang kita sendiri,” ungkap pria murah senyum ini.

Pada akhir wawancara, Lea berpesan bahwa menjadi juara bukan segalanya. ”Buat apa menjadi juara kalau hanya untuk diri sendiri. Kita bermain tidak hanya untuk diri kita tetapi untuk semua yang mendukung kami dan untuk almamater,” ungkap Lea dengan nada serius.(rik/bah)

×