Tali Kasih 2011, Beri Penghargaan Untuk Para Purna Tugas ITS

Published on
By

Tali Kasih 2011 merupakan acara penghargaan bagi para purna tugas yang telah mendedikasikan sebagian waktunya di lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mereka yang mengikuti kegiatan ini tak lain adalah para civitas akademika ITS yang telah memasuki masa pensiun  serta civitas yang tahun ini mengajukan pensiun dini.

”Kegiatan yang merupakan wujud apresiasi ITS atas segala jasa yang telah dilakukan para dosen dan karyawannya,”  terang Nurijati Hamid S H selaku Kepala Badan Administasi Urusan Keuangan (BAUK) ITS. Nurijati juga menjelaskan bahwa acara besutan BAUK ini telah diselenggarakan setiap tahunnya oleh sejak tahun 2004 silam.

Dalam acara yang langsung dibuka oleh Rektor ITS, Prof Dr Ir Tri Yogi Yuwono DEA tersebut, juga disertai dengan acara membagikan penghargaan bagi civitas ITS. Yaitu civitas yang telah berusia 65 tahun untuk golongan dosen, 56 tahun untuk golongan karyawan, dan 60 tahun untuk golongan pustakawan.

Penghargaan yang diberikan diantaranya berupa uang muka sebesar Rp 5 juta dan sekeping emas berlogo ITS seberat 10 gram. Tak cukup itu, dalam kesempatan tersebut juga diberikan penghargaan kepada para janda dari civitas akademika ITS yang telah meninggal dunia sebelum masa pensiun.

Nuri menyebutkan bahwa para penerima Tali Kasih ini masih bisa melakukan kegiatannya sebagai civitas akademika ITS. Akan tetapi dalam status berbeda. Sebut saja untuk dosen, mereka masih dapat mengajar seperti biasa bila diminta oleh pihak jurusannya. Sedangkan untuk karyawan, hanya bisa memperpanjang masa kerjanya selama satu tahun. Namun, keduanya hanya bersifat honorer.

Tak ketinggalan, Drs Achmad MA, Kepala Perpustakaan ITS 1995-1997 juga datang dalam acara tersebut guna memberi sambutan.  Dalam kesempatan tersebut, Ahmad mengungkapkan beberapa harapannya untuk ITS. Salah satunya yaitu agar ITS dapat lebih mengajak dan menghargai civitas mereka, termasuk yang telah melepas ikatan bersama kampus perjuangan ini.

”Saya harap, ini bisa menjadi pembelajaran, jangan memberi persepsi pada kami bahwa ITS identik memperlakukan karyawannya yang telah pensiun dengan istilah habis manis, sepah dibuang,” tegas Ahmad.

Pria murah senyum ini juga menerangkan alasannya mengungkapkan hal tersebut, yakni supaya segala sesuatu yang telah mereka lakukan untuk membangun kampus ITS selama ini tidak menjadi sia-sia ketika apa mereka dapatkan setelah ini tidak sesuai harapan. (fir/fz)

×