”Persiapan hanya seminggu, mau bagaimana lagi, kami terpaksa tidak ikut GKM dan memilih berfokus pada bidang PKM,” ungkap Sony Junianto, Menteri Riset dan Teknologi BEM ITS. Untuk bisa membuat GKM sebaik tahun lalu, tim ITS membutuhkan persiapan sedikitnya satu bulan. Karena itu, Sony sangat menyayangkan penentuan peserta Pimnas yang sangat mendadak.
Meski sempat terkejut dengan kabar tersebut, Sony justru menerapkan langkah baru perbaikan sistem pembinaan peserta. Yaitu dengan menginisiasi komunitas alumni Pimnas. Pada masa Pimnas berikutnya, setiap tim peserta yang terlibat saat ini akan menaungi satu tim baru. Hal ini menghapuskan sistem binaan lama, yaitu menggunakan bantuan ‘Tim Tujuh’.
‘Tim Tujuh’ merupakan istilah bagi tujuh orang pembina khusus peserta Pimnas di ITS. Masing-masing merupakan ahli PKM, setidaknya dalam satu bidang tersendiri. Namun, hasil evaluasi menunjukkan bahwa ketidakseimbangan antara jumlah pembimbing dan anak bimbing sangat mencolok. ”Ini menjadi evaluasi besar kami, semoga kami bisa segera menerapkan sistem baru ini secepatnya. Minimal menarik para veteran presenter tiap kelompok ke komunitas ini,” ujar mahasiswa Jurusan Teknik Kelautan ITS ini.
Kendati menemui berbagai kendala, harapan ITS untuk tampil maksimal tak pupus juga. Sony mencontohkan laporan akhir tahun lalu yang kurang maksimal. Kali ini ia dan tim pembina optimis bahwa hasilnya lebih baik. ”Perubahan regulasi terkait banyaknya jumlah halaman pada laporan akhir pun dapat kami tangani dengan baik,” paparnya. (man/lis)