Smart Car Semarakkan Dies Natalis ITS

Published on
By

Smart Car generasi ke enam ini dirakit bersama oleh Widjokongko Hananto ST, Rasiawan ST, dan Muhammad Nuzni ST dari Pasca Sarjana Teknik Mesin ITS. Selain ketiga mahasiswa tersebut ada pula Ir Muhammad Harly MT dari S3 Teknik Mesin ITS yang juga menjadi pemilik garasi tempat Smart Car dirakit yaitu di Kota Malang. Proses perakitan Smart Car juga dibantu oleh DR Ir Bambang Sampurno MT dan Prof Ir I Nyoman Sutantra MSc PhD dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM).

Berbeda dengan mobil pada umumnya, Smart Car memiliki beberapa keunggulan dalam hal kontrol mesin, pengendalian kecepatan, hingga bahan bakar. Hampir setiap proses yang terjadi pada Smart Car dapat dipantau melalui Notebook dengan software sederhana yang dibuat oleh para kru. Dari software berbasis C++ dan Assembler tersebut dapat diketahui temperatur dalam mesin, putaran roda tiap menitnya, injeksi dan pengapian yang terjadi, baterai yang digunakan, dan beberapa kontrol lain dalam mesin.

Informasi mengenai setiap proses tersebut didapat berdasarkan respon output pada sensor-sensor hidrolik yang dimiliki Smart Car. Keuntungan dari kontrol demikian adalah ketika terdapat sistem yang rusak maka akan segera teridentifikasi. Selain itu, bila supply bahan bakar kurang baik, Smart Car akan mengaturnya secara otomatis hingga supply bahan bakar bisa kembali normal.

Selain itu yang menjadikan mobil ini pintar adalah kontrol kecepatan pada ban depan dan ban belakang. Pada saat berbelok, biasanya pengendara lupa mengurangi kecepatan sehingga sering kali terjadi gaya sentrifugal yang tidak diinginkan pada ban belakang. Gaya sentrifugal tersebut dapat menimbulkan slip yang membahayakan penumpang. Untuk mengatasi permasalahan ini, Smart Car dilengkapi sensor yang dapat mengatur kecepatan ban depan dan ban belakang secara otomatis.

Smart Car juga memiliki keunggulan dalam hal bahan bakar dan pengaturan injeksinya. Dengan bahan bakar hydro power yang terdiri atas tiga puluh persen air dan tujuh puluh persen premium, Smart Car mampu menempuh jarak hingga 900 mill. Bahan bakar ini diletakkan dalam empat tank berbeda di belakang mobil. Tank tersebut juga berisi KOH sebagai katalist yang tidak ikut dalam proses pembakaran. Selain itu juga terdapat elektroda dari tank tersebut mampu dihasilkan hidrogen dan oksigen dalam bentuk gas. Gas inilah yang membantu proses pembakaran dan mengurangi knocking dan destonasi selama mesin bekerja. Setelah menempuh jarak 900 mill, biasanya elektrolit dalam tank akan mengendap. Bila situasi demikian terjadi, pengendara cukup menambahkan air untuk mengencerkan elektrolit tersebut.

Dengan segala keunggulan tersebut, banyak kendala yang dihadapi kru Smart Car selama perakitan termasuk masalah pembiayaan. "Kami mengandalkan dana penelitian dan iuran bersama para kru," ungkap Widjokongko. Selain itu, kendala yang sering dihadapi adalah kelangkaan komponen. Karena Smart Car dirakit dari nol, maka seluruh komponen Smart Car harus dikumpulkan sendiri oleh kru. Padahal ada banyak komponen yang hanya ada di kota-kota yang jauh dari Surabaya. Bahkan mesin Smart Car pun hanya bisa didapat di Singapura.

Saat ini para kru Smart Car sedang merencanakan modifikasi lebih lanjut, diantaranya mengganti bahan bakarnya menjadi Bahan Bakar Gas. "BBG sangat baik untuk bahan bakar mobil ini karena hemat dan ramah lingkungan. Sayangnya infrastruktur BBG di Jawa Timur masih sangat kurang padahal polusi di sini (Jawa Timur, red) terus bertambah seiring dengan meningkatnya jumlah mobil," papar Muhammad Nuzni. Perubahan lain yang sedang direncanakan adalah mengganti persneling Smart Car dengan Continous Variable Transmission supaya perpindahan gigi terjadi secara otomatis. (m1/mtb)

×