"Lembaga pengampunannya Allah itu luas. Namun, itu tak berlaku bila kita berdosa pada saudara kita. Tuhan tak akan mengampuni dosa kita hingga saudara kita memaafkannya," wejang gus Mus kepada hadirin. Karena itu, imbuhnya, bisa jadi dosa sesama manusia ini jauh lebih berat tanggungannya dari pada dosa kepada Yang Kuasa.
Kemudian gus Mus menyoroti perilaku pejabat negara yang suka melakukan korupsi. "Mereka seharusnya meminta maaf kepada warga di seluruh negeri ini," ujarnya. Bahkan, lanjut gus Mus, andaikan mereka berani meminta maaf lewat media televisi misalnya, dirinya akan mengajak para kyai untuk mengampanyekan permohonan maafnya kepada rakyat. "Sak beja-bejane wong (seuntung-untungnya orang, Red) bukan ? Ia masih bisa dibantu memohon maaf," tutur gus Mus dengan logat Jawanya yang kental.
Masih menyinggung seputar pejabat, gus Mus kemudian menjelaskan prinsip kesalehan dalam kehidupan profesi. "Saleh itu sama dengan kepatutan," tegasnya. Menurut gus Mus, pejabat yang melaksanakan tugasnya dengan baik, itu pun di sebut saleh. "Itulah salehnya pejabat. Jadi ukurannya bukan wiridnya banyak atau i’tikafnya lama. Camat yang mengabaikan tugasnya, itu bukan camat yang saleh namanya," terang kyai berkaca mata ini.
Di akhir ceramahnya, tak lupa gus Mus menyampaikan kesimpulan apa yang telah ia utarakan. "Jadi orang jangan seperti kera. Tangan kanan sudah pegang pisang, tangan kiri pegang jambu, eh kakinya masih cari-cari yang lain," wejangnya. Lebih jauh ia menuturkan, hamba yang fitri adalah seberapa pun tinggi pangkatnya ia tetap merasa sebagai hamba. "Intinya, penuhilah hak Allah dan hak manusia sebagaimana mestinya," pungkas gus Mus.(Az/f@y)