Deru kompresor tanpa henti memecah suasana, diselingi sesekali suara mesin motor dihidupkan. Sekitar sepuluh hingga lima belas pemuda dengan baju merah berkerumun di tengah jajaran sepeda motor.
"Rem, rem, rem!" sahut salah seorang pemuda berbaju merah tersebut. Temannya yang memegang setir motor sontak menekan rem. Yang pertama berteriak tadi memeriksa lampu rem di bagian belakang motor. "Lampunya nggak nyala!" ia menyahut, "Remnya bisa nggak?"
Begitulah suasana di hari kedua Servis Motor Gratis yang diadakan oleh mahasiswa jurusan D3MITS. "Kemarin kami sudah mencapai target kami, untuk menyervis 30 motor," kata Ketua Panitia Willy Chandra K. "Hari ini, sampai sekarang (pukul 11.00), kami sudah dapat 15 motor," lanjutnya bangga.
Para mahasiswa program diploma tersebut mengadakan pengecekan menyeluruh pada sepeda motor yang diservis. Mereka meneliti mulai dari lampu-lampu, klakson, busi, ketegangan rantai, radiator, tekanan ban hingga menyetel kopling.
Setiap motor membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk diservis. Para pemilik yang mengambil kembali motor mereka tidak dilepas begitu saja. "Kami beri mereka catatan work order servis, dan kami beritahu mereka apa saja yang mungkin perlu diganti sendiri, karena kami di sini tidak punya suku cadangnya," kata Willy lagi.
Menurut Arifin salah seorang mekanik, sebagian besar motor yang diservis memang mengalami masalah. Mahasiswa, dan terutama mahasiswi yang karena kesibukannya jadi malas atau tidak sempat menjaga sepeda motornya dengan baik.
"Seharusnya motor dicek secara rutin," tutur mahasiswa angkatan 2008 ini. Untuk motor bebek, servis dilakukan paling tidak 2 bulan sekali. "Pokoknya kalau motor sudah terasa nggak enak, harus diservis, jangan tunggu sampai rusak," lanjutnya sembari tangannya menirukan gerakan motor yang tergolek.
Salah satu motor yang mereka servis keadaannya sangat parah. Lampu-lampu sein sepeda motor tersebut mati semua, begitu juga dengan accu-nya. Tetapi mereka tidak langsung menggantinya, "Kami konfirmasi dulu dengan pemilikinya," kata Arifin.
Para mekanik yang dikerahkan oleh D3MITS terdiri dari berbagai angkatan. Semuanya telah memiliki skill yang kompeten di bidang otomotif. Bagi para mekanik baru, mereka telah mengikuti training beberapa hari sebelum acara berlangsung.
Servis Motor Gratis ini merupakan hasil inisiatif para mahasiswa D3MITS sekaligus wujud kepedulian mereka terhadap masyarakat. Mereka ingin menyadarkan masyarakat tentang perlunya pengecekan motor secara rutin, sekaligus juga mengenai safety riding. Acara ini mereka adakan setiap tahun, dan merupakan salah satu program kerja himpunan mereka.
Namun acara tersebut bukan bagian dari program servis motor yang juga diadakan oleh Teknik Mesin (S1) beberapa minggu terakhir. "Kebetulan saja waktunya bersamaan," tutur Willy yang juga mahasiswa angkatan 2008.
Tahun ini D3MITS melakukan kerjasama dengan Pusdiklat Suzuki. Suzuki memang menjadi salah satu sponsor dalam acara tersebut selama dua tahun terakhir, tapi ini pertama kalinya para siswa Pusdiklat perusahaan sepeda motor tersebut terlibat secara langsung.
Pusdiklat merupakan singkatan dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Suzuki, sebuah program siap kerja bidang otomotif bagi para lulusan SMA dan SMK selama satu tahun. "Para siswa yang terlibat sudah memiliki skill yang cukup kompeten, tinggal menambah jam terbang mereka saja," tutur Farit Anwar, perwakilan Pusdiklat.
Bagi para siswa Pusdiklat Suzuki sendiri, pengalaman di Servis Motor Gratis tersebut memberikan kesan tersendiri. "Kami biasanya hanya menyervis motor Suzuki, tapi di sini kami harus berhadapan dengan motor merek lain," kata Yosia Eka dan Mochammad Alfian, dua orang siswa Pusdiklat Suzuki.(lis/bah)